BAGIAN 6 : DONGENG MISTERI DESA CERUK BAJUL

DONGENG MISTERI DESA CERUK BAJUL
Penulis : Siswo Nurwahyudi






6.     LUBANG JARUM JALAN RAHASIA

Sampailah pada malam kedelapan dari prosesi penyucian diri di Ceruk Bajul, setelah tujuh hari sebelumnya dilakukan penyucian diri dibawah bimbingan para tokoh spiritual sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Malam itu semua orang telah berkumpul di tanah lapang di depan kantor desa duduk bersila mengelilingi sebuah bangunan yang disusun dari bebatuan berbentuk piramida tumpul. Bangunan batu itu dihiasi dengan ornamen-ornamen sederhana dengan motif utama bunga matahari. Bangunan itu memiliki luas 9,2 X 9,2 meter dengan tinggi sekitar 6,5 meter, keempat dindingnya sejajar dengan arah mata angin. Sesuai perintah Raden Walat bangunan batu ini didirikan tepat dimana dulunya adalah bekas tempat altar persembahan milik kelompok Bajul Ireng. Dan sesuai perintah Raden Walat pula semua bangunan lainnya dibangun di sekelilingnya menghadap pada piramida kecil tersebut. Maka sebab inilah yang kemudian membentuk tata ruang desa mirip dengan jaring laba-laba. Bangunan terdekat adalah kantor desa di sisi barat yang berhadapan langsung dengan pintu piramida. Piramida itu memiliki tujuh anak tangga menuju ke pintu, satu-satunya pintu yang ada. Dan memiliki daun pintu dari pelat baja putih berukir bunga matahari yang dibuat delapan belas tahun lalu untuk menggantikan daun pintu dari bahan kayu. Di dalam piramida inilah kitab-kitab sakral warisan leluhur disimpan dan dirawat.

Prosesi dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh kepala desa. Kemudian dilanjutkan dengan pengambilan ‘perkamen’ kitab-kitab Kidung Kakawin dari dalam piramida oleh para tetua adat didampingi oleh kepala desa. Ada 10 buah kotak kayu berukir yang berisi kitab di tangan para tetua adat di bawa keluar dari pintu, peti-peti kayu itu kemudian diletakkan berjajar di hamparan kain putih tiga langkah di depan piramida dan dibuka tutupnya satu persatu. Semua dilakukan dengan hening saja tanpa suara, langkah para tetua adat perlahan saja namun terasa mantab dan pasti. Lalu mereka duduk bersila menghadap masing-masing kotak kayu itu, sementara sang kepala desa mengambil tempat berbaur dengan peserta ritual yang lain. Maka dimulailah pembacaan kitab kidung kakawin secara bersama-sama yang dipimpin oleh para tetua adat secara bergiliran. Khusus di malam itu kitab yang dibacakan adalah Kitab Walat, kitab Kakawin yang paling sakral. Pembacaan Kitab Walat dimaksudkan untuk selalu mengingatkan tentang kepastian jalan bagi kehidupan di desa Ceruk Bajul dan bagi orang-orang keturunan Ceruk Bajul. Seusai pembacaan Kitab Walat dalam bentuk kidung Kakawin, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kitab Walat dalam bentuk Tembang Macapat. Setelah semuanya selesai, semua kitab dikembalikan ke tempat penyimpanan seperti semula. Kemudian diakhiri dengan pembacaan doa oleh salah seorang dari tetua adat.

Tunjung Jati Anom, pemuda yang sepenuh hatinya sedang membara digulung api asmara, pada ritual kali ini benar-benar tak tetap hati dan pikirannya. Selama pembacaan kitab berlangsung, matanya tak bisa lepas dari Sekar Mustikaningtyas. Pesona gadis yang dibalut jubah adat yang putih bersih begitu sempurna di matanya. Rambut hitam tebal panjang yang terurai semakin membuat wajahnya yang putih bersih itu memancarkan kecantikan yang luar biasa. Bibirnya yang mungil berkomat-kamit dalam lantunan kidung seolah tarian gemulai yang sangat elok. Cuping hidungnya yang ramping dan merona pada ujungnya, bentuk dagu seperti lebah sedang menggantung, lesung pipit di sudut kedua bibirnya, bulu mata yang lentik sesekali mengerjab, kedua bola matanya tajam bersinar, alis mata bak rembulan tanggal ke satu, semua menyatu sempurna di wajah yang bulat oval. Dan Anom tahu, di balik jubah putih itu terdapat keelokan lekuk tubuh yang diidamkan setiap wanita di dunia. Apalagi saat melihat gadis itu sedang menari, serasa rontok jantung dan jiwanya. Namun sayang seribu sayang, gadis elok itu telah menolak cintanya.

Semua ritual pembacaan kitab kidung telah usai, Anom kini tinggal merenung sendiri di dalam kamarnya. Hatinya masih risau, jantungnya masih berdegub tak beraturan. Ia sudah berusaha mengendalikan pikiran dan perasaannya, namun getaran pesona Sekar masih kuat menguasainya. Ia rebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya, justru saat matanya terpejam itu bayangan Sekar semakin tampak jelas saja. Lalu ia bangkit dan duduk di sisi ranjang, berdiri lagi, mondar-mandir lagi, duduk lagi, rebah, berdiri, mondar-mandir lagi. Akhirnya ia banting tubuhnya ke ranjang, tengkurap, wajahnya dibenamkan ke dalam bantal dan menangis sejadi-jadinya. Sejurus kemudian ia terlelap dalam impian yang melayang-layang.

* * *

Bagi Anom, kutukan Ceruk Bajul benar-benar telah menyiksa hidupnya. Ia bagai hidup di negeri dongeng, negeri antah-berantah yang dikuasai oleh para penyihir jahat. Tetapi kutukan Ceruk Bajul bukanlah dongeng, kutukan itu adalah sebuah kepastian. Ia adalah keturunan asli Ceruk Bajul, sudah merupakan kepastian baginya menjadi bagian dari kaum yang terkutuk. Menurut Kitab Walat, perbuatan memperistri secara paksa adalah perbuatan dosa yang tak terampuni walaupun dengan jalan penyucian apapun, setara dengan melakukan perkawinan sejenis atau melakukan pemerkosaan. Risikonya, akan terkutuk menjadi anjing selamanya, hingga ajal tiba pun akan tetap berwujud bangkai anjing. Untuk itulah ia harus menemukan cara untuk menghindari kutukan atas tekadnya itu. Sehari-hari ia isi hidupnya dengan membaca dan menelaah isi Kitab Walat, mencari peluang meski hanya selubang jarum.

Di tengah masyarakat Ceruk Bajul yang sedang khusuk mengikuti tahap demi tahap ritual penyucian diri agar saat purnama bulan Asyura yang tinggal beberapa hari lagi bisa membebaskan diri dari kutukan, Anom masih saja menyimpan rencana dosanya. Ia telah menemukan peluang meski ia sendiri tak yakin akan berhasil, sebab selama ini belum pernah ada contoh kasus yang bisa menjadi referensi baginya. “Ini nanti akan menjadi contoh kasus yang sangat menarik bagi masyarakat Ceruk Bajul. Dan akulah yang memulainya”, kata batin Anom sambil tersenyum.

Anom sudah yakin bahwa kali ini hanya dengan berniat buruk saja sudah pasti ia akan terkutuk menjadi anjing saat puncak purnama nanti. Ia sendiri selama ini belum pernah merasakan bagaimana rasanya dihantam kutukan dan berubah menjadi anjing, sebab biasanya ia selalu patuh dan khusuk dalam menjalani semua tahapan ritual penyucian diri. Konon menurut cerita orang-orang yang sudah pernah mengalaminya, rasa sakitnya tiada tara terutama saat detik-detik perubahan bentuk dari manusia menjadi anjing dan demikian pula sebaliknya. Dan rasa malu sesudahnya sulit untuk dihilangkan selama hidup. Namun tekadnya sudah bulat, kini ia tinggal membuat persiapan sebaik-baiknya. Ia sama sekali tak peduli dengan semua risiko yang akan ia terima. “Apa pun yang akan terjadi, ini akan menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Ceruk Bajul kelak. Bagian tersulit dari rencana ini adalah bagaimana membuat Sekar melakukan kesalahan yang tak disadarinya, agar ia pun terkena kutukan. Jika rencana ini gagal pun tak apa asal aku sudah mencobanya”, pikir Anom.

Pada situasi dan kondisi seperti sekarang memang sulit untuk membuat seseorang melakukan kesalahan meski tanpa disadari sekalipun. Semua orang sangat fokus dan berkonsentrasi penuh dalam melakukan ritual penyucian diri, apalagi waktu menjelang bulan purnama semakin dekat. Jadi rencana Anom adalah ia akan membuat Sekar melakukan kesalahan pada detik-detik akhir sebelum purnama mencapai puncaknya. Dengan demikian tak ada lagi kesempatan bagi gadis nan elok itu untuk menyucikannya.
Ia harus berusaha sedekat mungkin dengan Sekar meski harus mengendap-endap atau sembunyi-sembunyi pada saat yang paling kritis nanti. Anom hapal betul kebiasaan Sekar, di saat-saat genting itu ia selalu sendiri berada di sudut teras rumahnya bersimpuh dan berdoa dengan khusuk. “Mudah-mudahan esok nanti kebiasaan itu tidak berubah”, harapnya.

Anom sudah semakin mantab dengan rencananya. Ia sudah menemukan celah untuk mencoba melawan kutukan yang mengerikan itu. Ia berharap setelah peristiwa itu terjadi Sekar bersedia secara sukarela menjadi istrinya. Ia juga siap untuk gagal total dan menderita menjadi seekor anjing selama hidupnya. “Aku harap nanti bisa berhasil sesuai rencana. Toh dalam Kitab Walat tidak disebutkan bahwa jika seseorang yang terkutuk telah berubah wujud menjadi anjing lalu kemudian melakukan pemerkosaan terhadap anjing jelmaan lainnya itu termasuk dalam golongan dosa yang dikutuk. Tak satu pun kata atau kalimat yang menyebutkan seekor anjing yang memerkosa anjing yang lain itu perbuatan dosa yang terkutuk, meski ia adalah seekor anjing jelmaan dari orang yang terkutuk”, pikir Anom dengan sangat yakin.

Malam itu Anom sudah bisa tenang, meski hatinya masih bergetar. Sambil rebah di tempat tidur pikirannya menerawang menembus batas langit-langit kamar. Sambil tersenyum-senyum ia membayangkan, besok malam saat purnama penuh ia dan Sekar akan menikmati rasanya tertimpa kutukan. Lalu mereka berdua akan berubah wujud menjadi anjing. Terus kemudian dalam wujud anjing ia akan mengejar anjing cantik yang bernama Sekar Mustikaningtyas. Malam itu ia akan memerkosanya dan tak akan ia lepaskan sampai terbit fajar. Terbayang oleh Anom, mereka berdua akan berteriak keras : “Kaiiing..... kaaiiing...... kaaiiing................!!”

********* TAMAT *********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar