DONGENG
MISTERI DESA CERUK BAJUL
Penulis : Siswo Nurwahyudi
5. ASMARA
MELAWAN KUTUKAN
Jika malam itu
adalah malam-malam seperti biasa, maka pesona Ceruk Bajul di bawah sinar
purnamasidi (supermoon) adalah pesona
yang hampir tiada tanding. Akan tetapi malam ini semua pesona itu dikalahkan
oleh pancaran sinar prabawa Raden Walat yang sedang melayang berputar di atas
altar. Dan semestinya pula, kisah hidup sang pencinta musti berakhir di batu
altar itu sebagai tumbal ritual persembahan. Namun yang terjadi sungguh diluar
dugaan semua orang di Ceruk Bajul.
Malam itu adalah
malam kepastian jalan seperti yang telah dijanjikan. Suara Raden Walat
menggelegar bak guntur membahana mengalahkan deru angin dan bumi yang sedang
bergetar:
“Wahai orang-orang Ceruk Bajul, dengarkan
baik-baik kata-kataku. Mulai malam ini juga tanah Ceruk bajul adalah tanah
terkutuk bagi siapapun yang memasuki dan menginjaknya. Mulai malam ini kalian
yang sekarang ada di Ceruk Bajul semuanya adalah orang-orang yang terkutuk
sampai ke anak turunmu, di manapun kalian berada kutukan akan mengikutimu. Ini
sudah menjadi kepastian jalan bagi kalian dan bagi tanah Ceruk Bajul. Maka
utamakanlah selalu berbuat baik dan jangan lagi melakukan perbuatan dosa. Dan
jika kalian dengan sengaja atau tidak sengaja telah melakukan kesalahan dan
perbuatan dosa, maka sucikanlah diri kalian. Karena akan datang kutukan bagi
kalian semua pada setiap puncak malam purnama di bulan Asyura. Meski dosamu
hanya sebiji bayam tetap akan menjadi dosa yang akan mengubah wujudmu menjadi SEEKOR
ANJING hingga datang terbit fajar. Dan apabila sampai purnama bulan Asyura
tahun berikutnya dosa itu tidak tersucikan maka kalian tak lagi dapat berubah
kembali sebagai wujud manusia hingga engkau telah benar-benar bertobat dengan
menebusnya secara bersungguh-sungguh. Maka ikutilah semua petunjuk dari jalan
kepastianmu, untuk itu telah aku tunjuk Nyi Waluh Sekethi sebagai pembimbing
jalanmu. Dirikanlah sebuah bangunan di tempat ini sebagai penanda agar kalian
mengingatnya, dan buatlah bangunan-bangunan bagi kalian menghadap ke tempat
ini. Sekarang ini agar kalian memahami dan sebagai peringatan akan kepastian
jalan bagi kehidupanmu, maka sekarang juga kalian masing-masing wahai
orang-orang Bajul Ireng jadilah SEEKOR ANJING !!”
Usai Raden Walat
mengucapan kutukan, raga sang pertapa berubah menjadi cahaya putih terang yang
menyilaukan lalu melesat lenyap ke angkasa secepat kilat. Dari atas langit berganti
meluncur turun cahaya kuning bulat keemasan jatuh meledak persis di atas altar
hingga batu altar hancur menjadi debu.
Ledakan dahsyat menghempaskan semua yang ada di sekitarnya. Kejadiannya
begitu cepat, tak ada seorangpun sempat menghindar. Sesudah itu bumi tak lagi
bergetar dan angin berhenti menderu, suasana kembali senyap.
Tak lama kemudian
orang-orang mulai bangkit berdiri. Kecuali orang-orang Bajul Ireng, mereka
berkelonjotan berguling-guling, tubuh mereka mengejang, suara mereka seperti binatang
disembelih. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu kakinya seperti terpaku
saja, tak mampu bergerak sama sekali. Yang mereka saksikan kini tubuh
orang-orang Bajul Ireng setahap demi setahap berubah wujud menjadi anjing, tak
lama kemudian telah sempurna perwujudan mereka sebagai anjing. Anjing yang
berbeda-beda jenis dan ragam warnanya.
Anjing-anjing
jelmaan orang-orang Bajul Ireng menggonggong dan melolong bersahutan, moncong
mereka semuanya mengarah ke bulan yang sudah agak condong ke barat. Setelah
puas melolong dan menggonggong lalu mereka saling berpandangan dan saling
beradu gonggongan. Kemudian terjadilah perkelahian antar anjing jelmaan itu.
Semakin lama semakin seru, saling gigit, saling tubruk, saling tindih, saling
bunuh-membunuh. Ada yang satu lawan satu, ada yang satu melawan dua anjing
bahkan tiga atau empat ekor sekaligus. Satu per satu mulai terluka dengan darah
yang deras mengucur, korban pun mulai banyak berjatuhan. Pertarungan terus
berlangsung antar mereka, yang tersisa terus berkelahi berganti-ganti lawan.
Korban terus bertambah bergelimpangan, akhirnya tak satupun mampu bertahan oleh
sebab luka-luka mereka terus mengucurkan darah. Pertempuran antar anjing
jelmaan Bajul Ireng telah berhenti sama sekali. Bangkai yang mati
bergelimpangan di segala penjuru, yang terluka merintih-rintih kesakitan, kebanyakan
sedang meregang nyawa. Pemandangan mengerikan itu terlihat jelas sekali di
bawah cahaya bulan purnamasidi ditambah cahaya api obor di sekeliling tanah
lapang itu.
Sang rembulan sudah
condong di ujung langit dan tinggal pancaran cahaya keemasannya karena wajahnya
sudah tak terlihat terhalang bukit dan lebatnya pepohonan, di ufuk timur cahaya
merah tembaga mulai menyapa langit. Semilir angin membawa embun pagi terasa
sejuk di keheningan. Pada suasana yang kembali hening itu barulah orang-orang
yang tadi menyaksikan peristiwa aneh mulai bisa bernapas lebih lega dan mulai
bergerak pelan meski masih sangat berhati-hati sebab diliputi rasa takut. Jika
semuanya tidak terjadi di depan mata kepala sendiri barangkali mereka tak akan
percaya. Ratusan bangkai anjing bergelimpangan terserak di sana-sini. Genangan
darah membasahi rerumputan di tanah lapang itu menebar bau anyir. Batu altar
yang angkuh dan menakutkan benar-benar telah lenyap tak bersisa. Mata semua
orang terus menyapu ke sekeliling tanah lapang, mulut mereka laksana terkunci
tak mampu mengucap sepatah kata pun, hanya ekspresi takjub bercampur tak
mengerti. Kemudian kembali mereka dikejutkan oleh geliat seekor anjing jelmaan yang
sedang sekarat. Anjing itu tubuhnya mengejang, berkelonjotan, meringik-ringik,
menggelepar ke kiri dan kekanan. Yang terjadi kemudian adalah proses perubahan bentuk
dari wujud anjing ke wujud manusia.
Cahaya pagi bersinar
menerobos pepohonan di bukit timur, Nyi Waluh Sekethi mengajak semua orang
untuk segera membersihkan semua bangkai anjing. Bangkai anjing jelmaan
orang-orang Bajul Ireng semua dikubur di kaki bukit tenggara di seberang
sungai. Seorang lelaki anggota Bajul Ireng yang terluka parah dipindahkan ke
sebuah barak untuk dirawat, tubuhnya yang dipenuhi luka gigitan anjing
terbaring tak sadarkan diri. Ialah satu-satunya yang tersisa dari kelompok
Bajul Ireng. Suasana Ceruk Bajul pagi itu kembali ramai oleh suara orang-orang
yang bekerja bahu-membahu membereskan sisa-sisa peristiwa semalam. Setelah
semua dirasa sementara cukup mereka kembali ke barak masing-masing untuk beristirahat
sejenak dan akan dilanjutkan lagi nanti untuk membersihkan bekas-bekas darah di
tanah lapang, hari memang sudah beranjak siang. Dan sejak hari itu orang-orang
Ceruk Bajul menjalani hidup di bawah bimbingan Nyi Waluh Sekethi menghadapi
jalan kutukan yang menghantui kehidupan di lembah itu dari jaman ke jaman.
Demikianlah akhir dari kisah Babad Ceruk Bajul.
Kitab Babad Ceruk
Bajul dulunya berbentuk kidung Kakawin yang ditulis di atas lontar dan masih
tersimpan serta terawat baik bersama kitab Kakawin yang lain untuk
dilestarikan turun-temurun. Semua kitab sudah dibuatkan duplikatnya dari bahan lontar,
kulit dan kertas. Kemudian dalam perkembangannya semua kitab peninggalan
leluhur itu juga disadur atau dituliskan kembali dalam bentuk Kidung berbahasa Jawa 'tengahan' dan Tembang Macapat berbahasa Jawa mutakhir untuk memudahkan generasi berikutnya memahami isi kitab-kitab itu. Sehingga
hampir semua generasi Ceruk Bajul mahir membaca dan melantunkan kidung Kakawin
maupun tembang macapat, bahkan banyak yang sudah menghapalkan isinya dengan
baik. Kitab-kitab itu semuanya dibacakan secara
bersama-sama pada bulan-bulan sakral.
Di era mutakhir,
kitab-kitab warisan leluhur Ceruk Bajul menjadi bahan penelitian para ahli.
Ahli sejarah, ahli filsafat, pakar sosiologi, pakar sastra, ataupun para ahli
filologi. Yang mengejutkan dari hasil temuan para pakar, bahwa isi kitab Kakawin
Babad Ceruk Bajul memiliki ciri-ciri dan struktur yang tak lazim dibanding
kitab-kitab kakawin umumnya. Para ahli menduga struktur yang tak lazim itu
berkaitan erat dengan pesan rahasia yang diucapkan oleh tokoh Raden Walat
kepada Nyi Waluh Sekethi. Karena itu para ahli membentuk tim khusus untuk
melanjutkan penelitian secara lebih mendalam. Yang lebih mengejutkan lagi bahwa
hasil dari memecahkan kode-kode rahasia di dalam kitab kakawin itu ditemukan
sebuah ramalan bahwa akan lahir seorang kesatria berwatak brahmana yang akan
menjadi ratu yang adil dan bijaksana. Sang Panembahan Ratu akan memimpin dengan
penuh cinta kasih, yang akan mengalahkan kejahatan yang sedang meraja lela di muka
bumi tanpa peperangan dan tanpa setetes darah pun tertumpah. Seluruh umat
manusia akan menghormatinya sebagai tokoh panutan yang paling bisa dipercaya. Ialah
yang nanti mampu membuka rahasia seluruh harta kartun di dunia baik yang nyata
maupun yang gaib yang kemudian digunakan untuk membangun tatanan dunia baru
yang penuh kedamaian. Namun tidak disebutkan kapan sang ratu dimaksud akan
lahir dan akan memimpin. Satu hal yang pasti, sang Panembahan Ratu yang
diramalkan tersebut berasal dari keturunan Ceruk Bajul. Pola kode-kode rahasia tersebut
ditemukan sangat tersamar di balik keindahan sastrawi serta keelokan kisah yang
ditulis cukup panjang di dalam kitab Kakawin ‘Babad Ceruk Bajul’, jika sekedar
dibaca saja tak akan ada yang dapat mengira. Sebagian dari para ahli mengaitkan
ramalan itu dengan akan datangnya Ratu Adil atau ‘Satriya Piningit’ yang
disebut dalam kitab ramalan Jayabaya yang terkenal itu.
Ada pula seorang
pemuda Ceruk Bajul yang sedang getol menelaah dengan seksama isi kitab Kakawin
yang lain, yaitu KITAB WALAT, kitab Kakawin yang paling sakral di Ceruk
Bajul (:inilah kitab yang dulu ditulis oleh Raden Walat sendiri dan
disembunyikan di balik air terjun lalu diwasiatkan kepada Nyi Waluh Sekethi).
Nama pemuda itu Tunjung Jati Anom yang biasa dipanggil Anom, salah seorang
penghapal kitab-kitab kakawin Ceruk Bajul. Anom, sarjana filsafat yang baru
diwisuda empat bulan lalu, setiap malam membolak-balik salinan Kitab Walat. Ia
terus mencermatinya setiap kata, meski ia sendiri sudah hapal isi kitab itu di luar
kepala. Anom memang berniat untuk menemukan sesuatu dari kitab paling sakral
itu. “Aku harus sudah menemukan jalan sebelum bulan purnama Asyura tiba.
Waktuku tidak banyak, peluang pasti ada walau selubang jarum sekalipun”,
pikirnya.
Anom, seorang pemuda
yang hatinya sedang dipenuhi rindu dendam asmara terhadap seorang gadis
tetangga, Sekar Mustikaningtyas. Sayang cintanya tak berbalas. “Mas Anom,
petiklah salah satu mawar atau melati yang bermekaran di taman yang bermandi
sinar matahari. Aku ini hanyalah sekuntum yang tertanam di sebuah cawan
tembikar di dalam kamar tak berjendela”, ucap Sekar menjawab ungkapan cinta
Anom. Dan tentu saja Anom sangat mengerti arti ucapan Sekar, bahwa cinta Sekar
sudah tertambat pada orang lain meski Sekar pun belum menyatakan cintanya
kepada orang tersebut. Ucapan gadis pujaan hatinya itu terus terngiang di dalam
benak Anom, dan ia merasa masih ada peluang untuk memiliki Sekar. Yang menjadi
persoalan baginya adalah bagaimana cara ia berhasil merebut Sekar dengan paksa
sebagai jalan terakhir namun bisa terhindar dari laknat kutukan. Sebab memaksa
seseorang untuk dikawini itu termasuk salah satu dosa yang akan dikutuk tanpa
bisa disucikan, yang artinya ia akan berubah menjelma menjadi seekor anjing
untuk selamanya jika gagal menemukan jalan melawan kutukan.
Anom tidak butuh cinta Sekar, ia hanya butuh Sekar mau menjadi istrinya. Itulah tujuan dan tekat Anom meneliti kitab Walat, mencoba mencari peluang untuk melawan jalan kutukan.
Anom tidak butuh cinta Sekar, ia hanya butuh Sekar mau menjadi istrinya. Itulah tujuan dan tekat Anom meneliti kitab Walat, mencoba mencari peluang untuk melawan jalan kutukan.
*********
Bersambung............................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar