#Sinar Merah Blog :KISAH KENDI-KENDI YANG DILUPAKAN



KISAH KENDI-KENDI YANG DILUPAKAN
Ditulis oleh : Siswo Nurwahyudi (Presiden Seniman Gadungan Republik Indonesia)


Siang tadi ketika udara panas begitu kuat menguasai diri saya, saat dalam suasana tersiksa tiba-tiba saja saya menemukan sebuah kenangan masa lalu. Kenangan sederhana dari masa kecil, tentang tugas rutin yang sangat sederhana yang kemudian baru kusadari betapa istimewa kenangan itu. Saat sekitar usiaku 9 hingga 12 tahunan (th. 1974 - 1977) sebelum tugas sepele dari ibuku itu digantikan oleh adik-adikku (seperti aku juga mengambil tongkat estafet dari kakakku). Setiap pagi sebelum berangkat menuju sekolah dan siang hari sepulang sekolah, selalu mengisi air minum ke dalam dua kendi (:wadah air minum dari bahan gerabah) untuk diletakkan di tempat yang dibuat khusus di atas kisi-kisi kayu pagar rumah di tepi jalan.


Dulu keluarga kami tinggal di sebuah rumah dinas militer yang berada persis di tepi jalan raya yang ramai orang lalu-lalang. Masa itu lebih banyak orang berjalan kaki (daripada yang meniti kendaraan) wara-wiri untuk menuju tempat tujuan masing-masing ataupun berjihad menjajakan dagangan demi menghidupi keluarga mereka. Adakalanya dalam rombongan besar membentuk barisan tunggal yang panjang sambil saling berbincang dengan nada suara ditinggikan agar seluruh barisan dapat mendengar suaranya, sebagian dari mereka berangkat dari tempat yang jauhnya bisa belasan kilometer.

Nah, air kendi memang disediakan gratis bagi mereka yang kehausan di tengah perjalanan. Hampir di setiap rumah sepanjang jalan juga menyediakan air kendi, hal yang sangat lumrah pada masa itu. Akupun suka mengamati orang-orang yang meminum air kendi kami untuk menuntaskan rasa haus di tengah terik panas mentari. Ada yang kemudian mengucap terima kasih sebelum pergi namun tak jarang pula yang kemudian berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun terucap.  Demikian itu berlangsung biasa saja mengalir dalam alur kehidupan di kota kecilku bernama Bojonegoro, begitu biasa semacam kita tidur kemudian bangun lalu mandi dan makan dan seterusnya tanpa pernah digunjingkan dalam pembicaraan sehari-hari meski keberadannnya jelas tampak di depan mata. Kisah kendi-kendi dan para pejalan kaki itu seolah nyanyian sunyi di dalam hiruk-pikuk kehidupan yang terus berjalan tanpa ujung. Dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, hingga akhirnya tak pernah lagi kulihat kendi-kendi yang bertengger di atas pagar-pagar rumah di sepanjang jalan dan lorong-lorong di kotaku. Saya tak ingat persis sejak kapan kendi-kendi itu menghilang, tetapi saya ingat betul pada tahun 1980 (meski tak ingat persis tanggal dan bulannya) pagar rumah kami tak pernah lagi dihiasi sebuah kendipun, juga di sepanjang jalan dan lorong di sekitar lingkungan tempat tinggal saya. Yang pasti, tak pernah terdengar satupun kendi di pinggir jalan hilang dimaling orang. Hingga sekarang kisah itu tetap menjadi nyanyian sepi yang semakin lama semakin dilupakan.

Bagi saya kisah tentang kendi-kendi yang telah menghilang itu kini menjadi sesuatu yang begitu istimewa. Betapa tidak? Kendi-kendi di sepanjang jalan itu menyediakan minum bagi orang yang haus tanpa orang harus meminta. Tak peduli siapa, kaya atau miskin, dari mana asalnya, apa agamanya, mau minum tinggal ambil langsung dan bahkan tak perlu mengucap terima kasih kepada yang menyediakan kendi itu. Pokoknya, jika kamu haus silakan sikat saja airnya sepuasmu dan letakkan kembali kendi itu pada tempatnya. Kendi-kendi itu akan segera diisi penuh kembali jika airnya telah kosong. Saya pun salah satu yang sering menikmati air gratis dari kendi-kendi itu ketika sedang berjalan pulang dari sekolah terutama pada saat siang yang terik tanpa perlu permisi tanpa perlu meminta.

Penting saya catatkan di sini, bahwa pada masa itu di kotaku untuk menghasilkan air yang layak minum bukan hal mudah (lebih-lebih di musim kemarau). Air sumur (air tanah) di Bojonegoro sangat berkapur, harus direbus hingga mendidih lalu didiamkan sehari semalam hingga kapurnya mengendap lalu disaring dengan kain halus barulah menjadi air yang layak dan sehat untuk diminum agar terhindar dari penyakit batu ginjal ataupun pengapuran di kandung kemih.

Pada siang yang panas tadi (sambil menghabiskan sisa air mineral di botol yang baru saja saya beli di sebuah warung) saya membayangkan seandainya pada jaman now ini saya mendatangi salah satu rumah anda yang belum pernah mengenal saya sama sekali, dengan rambut gondrong saya yang terurai kotor dan pakaian penuh bekas-bekas kotoran usai bekerja dan keringat bau asam kawak, kemudian saya meminta segelas air untuk saya minum, kira-kira bagaimana sambutan anda? Atau jika anda  sendiri yang melakukannya kepada orang lain yang juga belum mengenal anda sama sekali, kira-kira bagaimana tanggapan orang tersebut? 

Jika di jaman now saya menyediakan air minum dalam kendi di pinggir jalan, mungkin akan menjadi hal yang aneh sebab sudah tidak lazim lagi. Adakah anda ataupun seseorang yang bakal meminumnya? Saya kok hampir yakin kendi saya akan diabaikan begitu saja menjadi nyanyian sunyi.

Sungguh, saya benar-benar merindukan. Dan adakah di jaman now ini sesuatu yang senilai dengan kisah kendi-kendi itu?

Bojonegoro, 24122017







Tidak ada komentar:

Posting Komentar