BAGIAN 1 : NASKAH DRAMA SATU BABAK PELANGI DI TITIK NOL






PELANGI DI TITIK NOL


NASKAH DRAMA SATU BABAK
Karya : Siswo Nurwahyudi







S I N O P S I S


Salam Budaya.

PELANGI DI TITIK NOL sebenarnya bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih (suami-isteri) yang melalukan upaya terakhir kali untuk mempertahankan biduk rumah tangga setelah nyaris karam di usia perkawinan perak. Kemudian berakhir bahagia setelah sempat membuat heboh seluruh isi kota. Klasik memang, tetapi disajikan dengan kompleksitas yang segar dan penuh kejutan-kejutan karikatural.

Mengambil latar tempat di tugu/monumen nol kilometer di sebuah kota kecil (setiap kota memiliki titik nol kilometer sebagai titik penentu jarak kilometer dengan wilayah yang lain; red.), roman diawali dengan peristiwa aksi mogok makan yang menggegerkan seisi kota kecil yang terkenal damai, tenteram. Aksi mogok membuat para punggawa praja di kota itu kelimpungan. Konon, Walikota pun sangat ketakutan terhadap domino effect dari aksi mogok makan tersebut. Di mana kemudian aksi itu menarik minat para wartawan, aktivis mahasiswa, politisi, dan warga kota umumnya dari berbagai lapisan. Semuanya turut nimbrung berdasar kepentingan masing-masing.

Yang semakin membuat penasaran semua orang adalah aksi mogok makan itu tidak diketahui motiv dan tujuannya. Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan tepat. Banyak sekali spekulasi tersirat di benak masing-masing orang berupa asumsi berdasar sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Pendek kata, kota kecil yang ramah dan tenteram mendadak disuguhi sebuah teka-teki : ada apa di balik aksi mogok makan itu?

Seorang seniman, menggunakan ketajaman intuisinya, sukses menyingkap semua rahasia dengan manis dan berakhir bahagia. Bagaimanakah cara si seniman beraksi membongkar misteri, silakan membaca ataupun menyaksikan pertunjukan naskah ini hingga tuntas.



PENOKOHAN :

1) Suami, umur ± 49 tahun, pelaku aksi mogok makan.

2) Istri umur ± 45 tahun, pelaku aksi mogok makan.

3) Warga kota (orang-orang), heterogen.

4) Para wartawan dan reporter televisi.

5) Para aktivis mahasiswa.

6) Aparat keamanan (polisi dan polisi pamong praja).

7) Anggota DPRD, perempuan ± 40 tahun.

8) Perawat, perempuan cantik ± 26 tahun.

9) Pedagang asongan, lelaki ± 30 tahun (intel polisi yang menyamar).

10) Seniman, lelaki ± 45 tahun.



Bojonegoro, 25 Oktober 2020

Penulis,

Siswo Nurwahyudi





( BAGIAN 1 )


PAGI-PAGI SEKALI SELURUH KOTA DIHEBOHKAN OLEH AKSI MOGOK MAKAN YANG DILAKUKAN OLEH SEPASANG SUAMI ISTRI. AKSI MOGOK DILAKUKAN DI BAWAH TUGU/MONUMEN YANG SEKALIGUS MENJADI LOKASI TITIK NOL KILOMETER KOTA ITU.

TIDAK ADA PENJELASAN PASTI, APA ALASAN SEBENARNYA KEDUA LELAKI-PEREMPUAN ITU MELAKUKAN AKSI MOGOK BERSAMA. HANYA ADA SEBUAH KARDUS BEKAS BERTULISKAN “MOGOK MAKAN DAN MOGOK BICARA” YANG DIPAKU DI UJUNG TONGKAT. MEREKA BERDUA BERGANTIAN MEMEGANGI TONGKAT ITU. MULUT MEREKA TERTUTUP RAPAT DENGAN LAKBAN HITAM.

TAK AYAL, LOKASI AKSI MOGOK MENJADI RAMAI OLEH KERUMUNAN ORANG YANG PENASARAN. TERMASUK PARA WARTAWAN YANG LANGSUNG SAJA BERAKSI MENDOMINASI DAN MENGUASAI SITUASI.

KEHADIRAN PARA WARTAWAN MEMBUAT SEGAN ORANG-ORANG YANG KEMUDIAN MEMILIH MUNDUR TERATUR BEBERAPA JARAK DARI TITIK LOKASI. SEORANG WARTAWAN MENARUH SELEMBAR KERTAS DI DEPAN KAKI PESERTA AKSI. SATU-PERSATU WARTAWAN LANGSUNG MENULIS DI KERTAS ITU. SI PENARUH KERTAS JENGKEL, KERTAS ITU DITARIK PAKSA, KEMUDIAN DISIMPAN

001. WARTAWAN :
(MARAH) Ini kertas buat mereka nulis. Bukan buat wartawan. Aduuh…!

002. SESEORANG :
(BARU DATANG) Ada apa ini? Kok rame?

003. SESEORANG :
(BARU DATANG) Ada demo ya?

004. SESEORANG :
Bukan. Mogok makan.

005. SESEORANG :
Iya, itu demo namanya. Kalau bukan demo, lalu apa?

006. SESEORANG :
Ya mogok makan.

007. SESEORANG :
Berapa orang yang mogok makan?

008. SESEORANG :
Dua. Laki sama Perempuan.

009. SESEORANG :
Cuma dua? Ah, kurang seru.

010. SESEORANG :
Maka dari itu dibilang bukan demo. Kalau banyak, baru namanya demo.

011. SESEORANG :
Emm…,ya, ya. Itu mogok makannya kenapa? Alasannya apa?

012. SESEORANG :
Belum tahu. Kata orang suami-isteri itu lagi stress, protes sama Tuhan karena sampai sekarang belum punya anak.. Kata orang lainnya lagi mungkin protes soal ganti rugi tanah. Ada yang bilang di-PHK sepihak. Ada cerita lagi katanya gagal ikut pilkades. Kata orang di pasar beda lagi, mereka protes karena gagal dapat tempat di Pasar Baru. Tetapi ada juga yang membantah bukan cuma perkara semua itu, tapi masalah hidup suami-istri itu memang sudah sangat rumit. Pokoknya buuaanyak berita beredar, macam-macam ceritanya. Tapi mana yang benar belum ada yang tahu. Kalau menurut kamu pribadi mogok makan ini soal apa?

013. SESEORANG :
Mana tahu? Aku ke sini justru ingin tahu? Tanya kesana-kesini malah jadi bingung. Eh… mereka yang di sana itu wartawan ya? Tanya sama wartawan saja.

014. SESEORANG :
Percuma tanya wartawan.

015. SESEORANG :
Kenapa percuma?

016. SESEORANG :
Paling-paling dijawab begini : “Sabar ya, saya masih mengumpulkan informasi. Kalau sudah lengkap silakan nanti bisa dibaca berita yang saya tulis”. Wartawan itu begitu.

017. SESEORANG :
Kok begitu?

018. SESEORANG :
Ya begitu. Saya dulu wartawan juga. Jadi saya tahu.

019. SESEORANG :
Masa? Kamu pernah jadi wartawan apa? Kapan jadi wartawannya?

020. SESEORANG :
Sudah lama. Sudah pensiun. Saya dulu wartawan majalah sekolah.

021. ORANG-ORANG :
(KOOR) Huuu…!

022. SESEORANG :
(BARU DATANG) Ada demo ya?

023. SESEORANG :
Mogok makan.

024. SESEORANG :
Lha iya, demo namanya.

025. ORANG-ORANG :
(KOOR) Mogok makan.

026. SESEORANG :
Terserah.

027. SESEORANG :
Sudah ada kabar belum, mereka mogok makan kenapa?

028. SESEORANG :
Pasti ada alasannya. Masa tidak ada?

029. SESEORANG :
Beritanya masih simpang siur. Wartawan saja belum tentu, apalagi saya. Makanya ke sini biar tahu. Tapi di sini kok jadi tambah bingung ya? Pakai mogok bicara juga sih. Serba membingungkan. Datang langsung di sini, eh… malah makin bingung.

030. SESEORANG :
Kalian sudah lama di sini?

031. SESEORANG :
Sudah dari tadi.

032. SESEORANG :
Kok masih di sini?

033. SESEORANG :
Kenapa memang?

034. SESEORANG :
Tidak apa. Cuma nanya.

035. SESEORANG :
Iya..ya? Kenapa aku masih di sini ya? Ngapain nonton orang mogok makan yang nggak jelas.

036. SESEORANG :
Tidak jelas bagaimana? Itu kelihatan jelas, jelas ada orangnya, ada tulisannya gede: ‘mogok makan dan mogok bicara’. Apanya yang tidak jelas?

037. SESEORANG :
Rabun.

038. SESEORANG :
Maksudku alasan tujuannya yang tidak jelas kenapa mogok makan.

039. SESEORANG :
Bukan tidak jelas. Tapi belum jelas.

040. SESEORANG :
Sama saja. Paling-paling mereka hanya cari sensasi. Biar jadi viral.

041. SESEORANG :
Bisa jadi begitu. Orang sekarang sukanya cari viral. Sampai nekat-nekat segala. Apapun dilakukan asal bisa viral.

042. SESEORANG :
Masuk akal. Kita pergi saja dari sini. Sudah bosen sama aksi viral-viralan yang begini. Ayo… pergi saja.

043. SESEORANG :
Eh, tunggu dulu. Ada polisi datang.

DUA ORANG POLISI DATANG DITEMANI DUA PETUGAS POLISI PAMONG PRAJA. MEREKA LANGSUNG KE TITIK LOKASI. SEBAGIAN LANGSUNG MENDEKATI YANG AKSI MOGOK, SEBAGIAN MENYAPA DAN MENGOBROL DENGAN PARA WARTAWAN.

044. POLISI :
(KEPADA PARA WARTAWAN) Selamat siang rekan-rekan wartawan.

045. WARTAWAN :
(KOOR) Selamat pagi…!

046. POLISI :
Oh ya? Selamat pagi? (MENENGOK LETAK MATAHARI) Maaf, saya mohon ijin menyampaikan bahwa jam segini ini, bagi petugas seperti kami sudah termasuk siang. Jadi, saya ucapkan selamat siang.

047. ORANG-ORANG :
(KOOR,KEPADA MOBIL LEWAT) Selamat pagi….!

048. POL PP 1 :
(MEMBENTAK ORANG-ORANG) He… kalian diam! Mas Polisi tidak sedang bicara sama kalian.

049. SESEORANG :
Aduh… galaknya. Jangan ge-er Bapak ganteng. Kami juga tidak sedang menyapa bapak-bapak.

050. POL PP 1 :
(MUKANYA MEMERAH) Jangan kurang ajar ya. Kalau tidak pada mas Polisi ini, lalu pada siapa?

051. ORANG-ORANG :
(KOOR) Sama Ibu Walikota.

PARA POLISI DAN POL PP JUGA WARTAWAN CELINGUKAN MENCARI WALIKOTA.

52. KOMANDAN :
Mana Ibu Walikota?

053. ORANG-ORANG :
(KOOR) Sudah lewat. Kesana.

054. SESEORANG :
Barusan tadi lewat. Pakai mobil dinas.

055. SESEORANG :
Itu, ke sana itu mobilnya. Masih kelihatan dari sini.

056. POL PP 1 :
(KEPADA KOMANDAN) Ibu walkot masih ada di rumah dinas Ndan. Saya berani pastikan. Itu tadi yang lewat cuma mobilnya saja.

057. ORANG-ORANG :
(KOOR) Mana kami tahu.

058. POL PP 1 :
Diam…! Kalian ini mengganggu tugas kami saja.

059. ORANG-ORANG :
Ampun… galaknya…

060. KOMANDAN :
(MENGHAMPIRI ORANG-ORANG, MENYAPA DENGAN SENYUM DAN TUTUR YANG RAMAH)  Selamat siang bapak-ibu dan saudara-saudara sekalian.

061. ORANG-ORANG :
(KOOR) Selamat pagi.

062. KOMANDAN :
Iya, maaf. Selamat pagi semuanya.

063. ORANG-ORANG :
(KOOR) Selamat pagi.

064. SESEORANG :
Selamat siang pak polisi..

065. ORANG-ORANG :
(KOOR) Huuu…..

BEBERAPA ORANG RAME-RAME MENGEROYOK ORANG YANG BILANG SELAMAT SIANG. ORANG ITU MENCOBA BERTAHAN DARI DORONGAN YANG BERTUBI-TUBI. DORONGAN BERHENTI SETELAH IA MENGALAH DAN AGAK MENEPI .

066. KOMANDAN :
Bapak-ibu dan saudara-saudara semua harap tenang. Mohon tenang.

067. ORANG-ORANG :
(KOOR) Siap pak polisi.

068. KOMANDAN :
Terima kasih atas kesediaan bapak-ibu dan kalian semua. Ijinkan kami menjalankan tugas dengan tenang, kami mohon kerjasamanya.

069. SESEORANG :
Siap pak polisi. Aduh… pak polisi ganteng banget. Cute gitu…!

070. SESEORANG :
Iya. Jarang lho ketemu polisi ganteng. Aku mau foto sama dia ah…..
(MENDEKAT, MENGAJAK FOTO SELFIE) Agak sini pak. Satu, dua, tiga. Terima kasih. Sekali lagi. Ayo siapa mau ikut? Sini. Ikut foto.

AJAKAN ORANG ITU LANGSUNG DISAMBUT YANG LAIN. SATU-PERSATU MULAI IKUTAN BERSELFIE RIA, HINGGA AKHIRNYA PADA BEREBUT TEMPAT. SI POLISI PUN TERLIHAT SENANG DAN IKUTAN BERGAYA. TEMAN POLISI SATUNYA MULAI IKUT NIMBRUNG, JUGA SEORANG POL PP TAK INGIN KETINGGALAN. BEBERAPA WARTAWAN IKUT NIMBRUNG BERSELFIE, SEBAGIAN LAGI TIDAK IKUT, HANYA MENGAMBIL GAMBAR DENGAN KAMERA MASING-MASING.

SEMENTARA SALAH SEORANG POL PP JUSTRU TIDAK SENANG MELIHAT ADEGAN LEBAY INI. IA MENDEKAT, TIDAK UNTUK IKUTAN BERSELFIE RIA TETAPI JUSTRU BERTINDAK MEMBUBARKAN PESTA SELFIE. ORANG-ORANG DIDORONGNYA MENJAUH.

071. POL PP 1 :
Sudah… sudah…! Cukup. Ayo, mundur semua. Mundur…! Mundur…!

ORANG-ORANG MUNDUR TERATUR DENGAN PERASAAN JENGKEL, MULUT MEREKA MENGGUMAM SERIUH SUARA BEBEK SEKANDANG. KEGADUHAN KECIL ITU SEMAKIN MEMBUAT POL PP ITU MERAH PADAM MUKANYA.

072. POL PP 1 :
(MEMBENTAK) Diam…!! Bisa diam tidak…?!!

073. ORANG-ORANG :
(KOOR) Huuuuuu……..

SITUASI SEKETIKA AGAK KACAU. ORANG-ORANG MULAI TAMPAK MARAH. MERASA TIDAK TERIMA DIBENTAK-BENTAK. OMELAN DAN MAKIAN MULAI BERSAUTAN DARI MULUT MEREKA. LEBIH SERU DARI YANG BARUSAN TADI.

PARA WARTAWAN PUN TIDAK MAU MELEWATKAN YANG TERJADI DI DEPAN MATA, MEREKA MULAI BERSIAP DENGAN KAMERA MASING-MASING.

074. SESEORANG :
Orang baru pakai seragam gitu saja sudah galak minta ampun.

075. SESEORANG :
Iya. Lupa apa kalau seragam itu rakyat yang belikan.

076. SESEORANG :
Orang kita tidak berbuat kriminal. Tidak bikin rusuh. Betul tidak?

077. ORANG-ORANG :
(KOOR) Betuuul….!

078. SESEORANG :
Kalau saja tidak ada polisi sama wartawan, orang ini sudah aku jadikan pecel kambing.

079. SESEORANG :
Pecel lele. Mana ada pecel kambing.

080. SESEORANG :
Penyet tempe. Sambal terasi. Yes…!!

081. SESEORANG :
(MENGACUNGKAN KEPAL KE POL PP 1) Apa pingin aku jadikan rujak cingur? (TANGANNYA MEMERAGAKAN BIKIN RUJAK) Hihh…!

082. SESEORANG :
(TIDAK KALAH GARANG) Ayo, sini kalau berani. Aku lumat jadi lontong balap. Ah, bukan. Pantesnya kamu itu ditumbuk-tumbuk dibikin getuk. Ceprot…ceprot…ceprot,,,!

083. SESEORANG :
Getuk goreng saja, enak. Getuk pisang Kediri juga mak nyus.

084. SESEORANG :
(MULAI BERANI AGAK MAJU) Ini, hadapi saja aku. Belum tahu siapa aku?
(MENEPUK DADA) Nih, jagal kambing. Satu lawan satu kalau berani. (BERKACAK PINGGANG) Ayo, kalau berani.

085. SESEORANG :
(MAJU, MENARIK TANGAN SI JAGAL, DIDORONGNYA SURUT,
MATANYA NANAR) Diam semua…! Jangan anarkis! Mundur semua!
(BERBALIK KE POL PP) Bapak-bapak, selamat siang.

086. ORANG-ORANG :
(KOOR, MARAH) Selamat pagi…!! Huu… kamu lagi, kamu lagi!

087. SESEORANG :
(GERAM) Sikat saja….!

ORANG-ORANG PUN IKUT GERAM, MEREKA MENYERBU ORANG ITU. SEANDAINYA TIDAK SEGERA KABUR, ENTAH APA YANG BAKAL TERJADI.

MELIHAT SUASANA MEMANAS, SALAH SEORANG POLISI SEGERA BERTINDAK MENGENDALIKAN SITUASI. MENIUP PELUIT KUAT-KUAT. ORANG-ORANG SEKETIKA DIAM. DENGAN PELUIT ITU DIATURNYA ORANG-ORANG BERBARIS SAMPAI BARISANNYA RAPI. KEMUDIAN BERDIRI TEGAP DI HADAPAN BARISAN.

088. POLISI :
(BAK KOMANDAN UPACARA) Perhatian semuanya. Siaaap….grak!
(KEMUDIAN MEMERIKSA KERAPIAN BARISAN)
Bagus. Semuanya, istirahat di tempaaat… grak! Bagus. Baris rapi begini kan bagus. Awas, jangan ada lagi keributan. Jika masih ribut, kalian bisa dituduh membuat gaduh dan menyebabkan gangguan ketenteraman masyarakat. Akan kami proses secara hukum. Paham?!

089. ORANG-ORANG :
(KOOR) Paham pak polisi.

090. POLISI :
Bagus. Siap tertib?!

091. ORANG-ORANG :
(KOOR) Siaaap!

MENDADAK BARISAN SEDIKIT KACAU, ADA TIGA ORANG MENEROBOS BARISAN. POLISI MARAH.

092. POLISI :
(MEMBENTAK) Berhenti…!! Kalian mau apa?
(MEMPERHATIKAN JAS ALMAMATER)
Kalian mahasiswa ya?

093. MAHASISWA :
Ya. Kami mahasiswa.

094. POLISI :
Mau apa ke sini?

095. MAHASISWA :
Mau solidaritas. Apa ada larangan?

096. POLISI :
Tidak ada larangan asalkan tertib. Silakan masuk barisan.

097. MAHASISWA :
Ngapain? Kami mau ke situ. Mau ketemu peserta aksi.

098. POLISI 1 :
(MENUNJUK KE PESERTA AKSI) Kalian teman mereka?

099. MAHASISWA :
Kalau ya kenapa? Kalau bukan kenapa? Mau apa? Melarang kami?

100. POLISI 1 :
(GUGUP SEBENTAR. LALU:) Tidak ada larangan. Asal tertib, tidak bikin rusuh.

101. MAHASISWA :
(TERTAWA GELI) Ha…ha…ha….ha….

102. MAHASISWA :
Kami ini mahasiswa, bukan rombongan anjing liar. Anda jangan menghina kami. Kalau sampai rusuh, pasti ulah penyusup.

103. POL PP 2 :
(MENENGAHI) Adik-adik, mohon pengertiannya. Sama sekali tidak ada maksud menghina. Tidak ada yang melarang adik-adik. Tapi tolong hargai kami. Kami ada di sini karena tugas. Jadi…

104. MAHASISWA :
(MEMOTONG) Iya. Kami sudah tahu. Bapak-bapak di sini sedang bertugas. Kami tidak buta. Kami pasti menghargai bapak-bapak, asalkan kehadiran kami juga dihargai.
(KEPADA ORANG-ORANG) Bukankah begitu saudara-saudara?

105. ORANG-ORANG :
(KOOR) Betuuul….!

106. MAHASISWA :
Kita di sini punya hak untuk tahu informasi yang benar. Punya hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Betul?

107. ORANG-ORANG :
(KOOR) Betuuul….!
(BARISANNYA MULAI TIDAK RAPI)

108. MAHASISWA :
Kita berhak mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan darineg ara. Betul?

109. ORANG-ORANG :
(BERTAMBAH SEMANGAT. KOOR) Betuuul….!

110. MAHASISWA :
Maukah saudara-saudara suara kita dibungkam?

111. ORANG-ORANG :
(SEMAKIN KOMPAK. KOOR) Tidaaaak….!

112. MAHASISWA :
Betul sekali saudara-saudara. Ini Negara demokrasi. Negeri ini milik kita bersama. Untuk itu kita semua harus kompak. Harus berjuang bersama. Setuju?

113. ORANG-ORANG :
(KOOR) Setujuuu….!

114. MAHASISWA :
Sekarang saya persilakan saudara-saudara berorasi. Salah satu perwakilan silakan maju.

115. SESEORANG :
Betuuul….!

116. SESEORANG :
Betul apa?

117. SESEORANG :
Orasi.

118. SESEORANG :
Operasi apa?

119. SESEORANG :
Orasi. O-ra-si. Orasi demo. Masa tidak tahu sih?

120. SESEORANG :
Demo apa?

121. SESEORANG :
Demo ya demo.

122. SESEORANG :
Yang demo siapa? Kamu?

123. SESEORANG :
Semua. Kita.

124. SESEORANG : 
Kita siapa?

125. SESEORANG :
Kamu barangkali.

126. SESEORANG :
Siapa? Aku tidak. Aku kesini cuma lihat. Bukan mau demo.

127. SESEORANG :
Aku juga. Sama. Kamu mungkin. Tadi kamu teriak paling kenceng.

128. SESEORANG :
Tidak. Aku cuma ikut-ikutan teriak. Biar kelihatan kompak.

129. MAHASISWA :
Ayo. Jangan takut. Silakan satu perwakilan maju untuk orasi.

SALAH SEORANG MAJU. YANG LAIN MENYAMBUTNYA DENGAN TEPUK TANGAN GEMURUH. PARA MAHASISWA MUNDUR SEDIKIT UNTUK MEMBERI TEMPAT.

130. SESEORANG :
(MAJU. LAGKAHNYA GROGI) Permisi mas mahasiswa.

131. MAHASISWA :
(TEPUK TANGAN) Oke… silakan, jangan takut. Hak kita dijamin undang-undang. Silakan berorasi.

132. YANG MAJU :
(BINGUNG) Maaf. Orasi apa?

133. MAHASISWA :
Apa saja boleh. Katakan saja semua tuntutan yang ingin disampaikan.

134. YANG MAJU :
(BERORASI) Selamat pagi semuanya, salam sejahtera untuk kita semuanya.
(ORANG-ORANG MENYAMBUT SALAM. TAHU MENJADI
PERHATIAN WARTAWAN ORASINYA SEMAKIN LANTANG)
Saudara semua, ijinkanlah saya mewakili anda semuanya untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata apa yang sebenarnya menjadi keinginan kita bersama. Saya harap jika ada salah kata dalam penyampaian saya nanti mohon dimaafkan. Maklum, kita ini orang kecil, masyarakat biasa yang kurang pandai dalam bertutur bahasa.

(DIAM SEJENAK KARENA ORANG-ORANG BERTEPUK TANGAN)

Sebagaimana sudah kita saksikan bersama di sini, ini adalah pertama kali di kota yang kita cintai bersama ini, ada demo mogok makan. Bagi kita penduduk kota ini, tentu saja sangat menarik perhatian kita bersama. Untuk itu ijinkan saya mewakili semuanya mau menyampaikan, emm… bahwasanya sebenarnya kita di sini tidak untuk demo. Betul?

135. ORANG-ORANG :
(KOOR) Betuuul…..!

136. YANG MAJU : 
Kita di sini hanya mau lihat orang mogok makan saja. Tidak ikut mogok makan dan tidak ada sangkut-pautnya dengan mogok makan. Betul?

137. ORANG-ORANG :
(KOOR) Betuuul….!

138. YANG MAJU :
Apakah dari saudara-saudara ada yang mau demo atau mogok makan?

139. ORANG-ORANG :
(SEMAKIN KOMPAK. KOOR) Tidaaaak….!

140. YANG MAJU :
Jadi, sebaiknya sekarang kita meninggalkan tempat ini. Setuju?

141. ORANG-ORANG :
(KOOR) Setujuuu….!

142. YANG MAJU :
Baik. Sekarang kita bubar. Perhatian! Siaap… grak! Bubaar… jalan!

ORANG-ORANG BUBAR, EXIT, MENINGGALKAN PARA MAHASISWA YANG BENGONG SEPERTI TAK PERCAYA APA YANG BARU SAJA MEREKA SAKSIKAN DI DEPAN MATA. TAMPAK JELAS WAJAH PARA MAHASISWA ITU MERONA MALU. BERTAMBAH MALU KARENA MENDENGAR GELAK TAWA PARA WARTAWAN.

SEORANG WARTAWAN MERASA KASIHAN, MENDEKAT, MENEPUK BAHU SEORANG MAHASISWA. DISODORI SEGELAS AIR MINERAL, KEMUDIAN MAHASISWA-MAHASISWA ITU DIAJAK MENEPI MENGAMBIL TEMPAT DEKAT TITIK LOKASI MOGOK MAKAN.

MELIHAT SUASANA KEMBALI KONDUSIF, KOMANDAN POLISI SEGERA MENGAMBIL KENDALI ATAS SITUASI.

143. KOMANDAN :
(KEPADA REKAN POLISI DAN POL PP) Kamu, kamu dan kamu, tolong awasi situasi dan amankan. Jika ada gelagat atau ada yang kurang beres segera laporkan. Saya mau bicara dengan wartawan.

144. YANG DIPERINTAH :
Siap komandan!

145. KOMANDAN :
Laksanakan.

146. YANG DIPERINTAH :
(KOOR) Laksanakan.

YANG MENDAPAT PERINTAH SEGERA BERPENCAR MENGAMBIL POSISI PENGAMANAN.

147. KOMANDAN :
Baiklah rekan-rekan wartawan, saya ingin bicara dengan rekan-rekan. Mohon kesediaannya.

KOMANDAN MENGAMBIL TEMPAT AGAK BERJARAK DENGAN TITIK LOKASI DIIKUTI OLEH PARA WARTAWAN.

148. KOMANDAN :
Rekan-rekan sekalian , mohon kesediannya untuk berdiskusi sebentar.

149. WARTAWAN :
Siap Ndan.

150. KOMANDAN :
Terima kasih sudah bersedia. Saya hanya ingin informasi dari rekan-rekan tentang situasi ini. Yang sudah diketahui dulu, apa saja, sebagai informasi awal bagi kami. Jadi saya sangat memohon kesediaan dan kerja sama dari rekan-rekan semua.

151. WARTAWAN :
Siap Ndan.

PARA WARTAWAN MENGELUARKAN BUKU CATATAN, SEBAGIAN BESAR MENYIAPKAN ALAT REKAM, HP, DAN KAMERA MASING-MASING.

152. KOMANDAN :
Baik. Terima kasih. Jadi, yang sudah kita bersama ketahui bahwa hari ini ada aksi mogok makan yang dilakukan oleh dua orang. Satu lelaki dan satu perempuan. Tetapi kami belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terus terang, sampai detik ini kami dari kepolisian belum memperoleh informasi detilnya seperti apa. Terutama alasan mogok makan, dan tujuannya apa. Jadi kami belum bisa mengambil tindakan apapun. Yang bisa kami lakukan sementara adalah sekedar mengamankan lokasi.
(MENGELUARKAN NOTES BOOK KECIL DAN BALLPOINT)
Ada yang ingin menyampaikan sesuatu?

153. WARTAWAN :
Saya Ndan. Yang kami tahu, keduanya ternyata suami-isteri. Kami sudah mendapat dokumen identitasnya. A-1 Ndan. Mengenai motiv dan tujuan dari aksi kami juga kesulitan menggali informasi. Tidak ada seorang pun yang bisa memberi keterangan pasti.

154. WARTAWAN :
Kami juga sudah mencari informasi kemana-mana. Tetangga, keluarga, kerabat, teman-teman dekat mereka. Bahkan kami telusuri semua akun media sosial mereka. Tetapi belum menemukan tanda-tanda apapun yang bisa dijadikan titik terang apa motiv dan tujuan melakukan aksi mogok.

155. WARTAWAN :
Sudah kami coba mengajak bicara, tapi mereka tetap bungkam. Saya minta nulis juga sama sekali tidak mau Ndan. Saya sediakan kertas dan pulpen di depan mereka. Maksud saya barangkali mereka mau nulis sesuatu bisa di kertas itu.
(MELIRIK KE TEMAN WARTAWAN KANAN KIRI)
Tapi ya itu tadi, kertasnya malah dipakai ngisi daftar hadir sama teman-teman wartawan. (MENUNJUKKAN KERTAS KE POLISI)
Lihat ini Ndan. Hadeew…. Repot…repot….

156. WARTAWAN :
Kamu yang salah. Harusnya kertas polos dong. Kertas daftar hadir ditaruh situ nggak bilang untuk apa. Tahu-tahu ada daftar hadir di situ, langsung aku isi. Dalam hati, siapa tahu SPJ (MEMBERI ISYARAT JARI)

157. WARTAWAN :
Bener itu. Aku tadi juga berpikir begitu. Makanya aku ikut ngisi. Pas dompet lagi kosong juga. Sialan betul. Ha…ha…ha….

158. WARTAWAN :
(NYINYIR) Dasar mata duitan semua.

159. KOMANDAN :
(MENGAMBIL DAFTAR HADIR DARI TANGAN WARTAWAN)
Ya sudah, tidak apa diisi. Ini buat saya saja. Nanti rekan-rekan saya traktir makan. Sekalian nanti jumpa pers.
(MENYERAHKAN DAFTAR HADIR KE SALAH SATU WARTAWAN) Yang belum ngisi siapa?
Tulis saja, serahkan pada saya sehabis jumpa pers. Semua ngisi ya.

160. WARTAWAN :
Siaaap Ndan. Terima kasih.

SEMUA WARTAWAN SENANG, BEREBUT MENGISI DAFTAR HADIR.
SANG KOMANDAN MENINGGALKAN TEMPAT TANPA PAMIT. EXIT.
PARA WARTAWAN TELAH SELESAI MENGISI DAFTAR HADIR, SALAH SEORANG KEMUDIAN MENYIMPAN KERTAS ITU DI DALAM TAS.
DUA ORANG PEREMPUAN DATANG, MEREKA BERPAKAIAN RAPI DAN BERSIH. YANG SATU MENGENAKAN SERAGAM PETUGAS MEDIS (PERAWAT), SEORANG LAGI MENGENAKAN PIN BERLOGO DPRD.

161. PERAWAT :
Bu. Banyak wartawan. Bagaimana Bu?

162. IBU DPRD :
Ya pasti lah. Ini kan berita bagus. Tenang saja. Kita langsung ke sana.

DUA ORANG ITU LANGSUNG KE TITIK LOKASI MOGOK MAKAN. DAN LANGSUNG DIKERUMUNI PARA WARTAWAN HINGGA SEORANG POLISI YANG BERJAGA DI SITU TERPAKSA MENEPI DEKAT PARA MAHASISWA.

163. IBU DPRD :
(LANGSUNG MENYAPA RAMAH PESERTA AKSI MOGOK)
Selamat pagi bapak dan ibu. Apa kabar?

164. WARTAWAN :
(MENYELA) Ibu sudah kenal bapak dan ibu ini?

165. IBU DPRD :
( MENOLEH SEBENTAR KE WARTAWAN, TAPI TIDAK
MENJAWAB PERTANYAAN. IA KEMBALI KE PESERTA AKSI)
Bapak-ibu sehat?
(MENUNGGU JAWABAN, TAPI PERCUMA)
Saya harap bapak-ibu sehat-sehat selalu. Tapi maaf, bapak-ibu haruskami periksa kesehatannya. Mohon kerelaannya. Hanya sebentar kok. Mau ya?
(MENUNGGU JAWABAN, TAPI HARUS KECEWA LAGI)
Sebentar saja, tidak ada lima menit. Mohon kerjasamanya.

166. PERAWAT :
Iya, cuma sebentar kok.
(MAU MENDEKAT TAPI TIDAK JADI)

LAKI-PEREMPUAN ITU MEMBERI ISYARAT MENOLAK DIPERIKSA. MEREKA BERDUA MERAPAT SATU SAMA LAIN. SOROT MATA MEREKA MENEGANG.

IBU DPRD MELIHAT GELAGAT ITU SEGERA MENARIK LENGAN SI PERAWAT UNTUK MUNDUR DI BELAKANGNYA.



( BERSAMBUNG BAG, 2 )



Support/dikungan/apresiasi :



PUISI - PUISI SELINGKAR RAMADHAN 1442 H




(Kepada yang tercinta Ayah & Ibu)



PUISI-PUISI SELINGKAR RAMADHAN 1442 H





MEREKA KIAN JAUH


kepadamu, perempuan
antara Cut Nya’ Dien, Kartini, dan Marsinah
siapakah paling dekat di jiwamu
pun setelah nyawa Padmi pejuang tanah Kendeng terenggut


15/-4/2021
#siswonurwahyudi




Desah Si Desah


ketika itu aku sedang menguliti masa laluku
bukan untuk menghiba badan sendiri
tidak juga mengupas kerak kulit wajahmu
tak jauh beda ketika engkau mendongengkan kisah
kepada anak-anakmu sendiri di pembaringan
tentang balada para pencari Tuhan
melabuh dan menambatkan diri pada keyakinan
usai terombang-ambing oleh desah dan desak kabut keraguan
jadi, sekali lagi tidak kepadamu lisan tertuju
seribu rambut di kepalaku bertanya-tanya
semudah itukah kaum beragama merasa ternoda?
yak cukupkah lagi ruang untuk membilas dan mencerna
sedangkan kita percaya Tuhan maha kuat dan penyabar

baikah, jika kata maaf tidaklah cukup
taubahku dan penyerahanku kepada-Nya telah kulangitkan
urusan dunia sudah kutanam di padas jiwa raga
maka, mari bersulang di atas altar tipu daya


20/04/2021
#siswonurwahyudi




KUOTA


habis terang
datang gelap
ada uang ada barang
nasib malang
uang tak kunjung
habis terang
habislah terang
gelap makin kelam
dibekap kerontang
kuota
ah
kuota
mari kau kemari
kutinju mukamu
kutinju mukamu


28/04/2021
#siswonurwahyudi



Cerita Malam Dari Mushola


dari sekian orang sekumpulan
perlu ada barang seorang dua
yang berulah naka dan abai mengaji
untuk mengabarkan di kanal-kanal gawai, dan
jika semua yang khusuk mengaji
besar mungkinnya, maam ini
di gawaimu, akan
dipenuhi wajah para pemuja keamin saja


01/05/2021
#siswonurwahyudi




Cinta Terkurung Api


ini sajakku
tentang cinta
yang mencinta api
kata-kata menjelma
makna-makna buta
terkurung api
terkurung api


02/05/2021
#siswonurwahyudi



KUMPUL MALAM


melintasi puncak malam
membincang bintang
empat mulut lelaki
menimbun awan
bintang menghilang
wajah temaram

empat kelelawar
meniup awan
kumpul maam
langit hitam
empat lelaki
bermulut cawan
buih kelakar
menggambar tikar
harum bangkai
sepengkuh jangkar

03/05/2021
#siswonurwahyudi



GELANG-BELANG KOTA


kota dilingkar jaman
lingkar mitos, lingkar spirit
legenda dan sejarah
melingkari
kepatuhan adat, warisan luhur
melingkari kejujuran,
gelang kesejatian diri, atau
memilih seingkar ingkar, sebab
belang muka masa lalu, oleh
gelang-gelang kusam
dipendam dalam lumpur

04/05/2021
#siswonurwahyudi



DI ATAS IKAN BERENANG


kutulis ini di atas ikan-ikan berenang
udara beraroma hujan di kali
aku tersendiri, dan
penggal-penggal catatan kemarin
tak putus berenang di kepala

06/05/2021
#siswonurwahyudi




SAJAK LEMBING


pertarungan, daya juang, dan gravitasi
jadilah kurva kehidupan hari ke hari
lesat di lengkung udara, syahwat menari
kerap silap menghitung seberapa capaian angkanya
alpa ingat kelak berakhir di tanah milik-Nya
lebih lagi berbilang ini hari ada di ordinat berapa?

sajak ini sajak lembing
suara dari tanah kering

sajak lembing, sajak lembing
melesat di udara berpusing-pusing
neraca beban dosa pahala
sila pilih lengkung kurvanya

06/05/2021
#siswonurwahyudi




B A I T


jika ia berarti rumah
dank au tahu maknanya
ia menjadi tubuh dan ruang
tempat berteduh kata-kata tua
menyapamu dari jendela sederhana
keramahan tanpa menimbang kamu siapa

kalau ia bermakna pelindung
aku tak akan ragu meminjam payung
untuk membawaku mengabarkan pada dunia
buku-buku puisi berhias kidung mantera
syair purba penjaga keseimbangan dan keselarasan
bait demi bait, semesta nyanyian kedamaian

08/05/2021
#siswonurwahyudi




Sesudah Pesta Nyanyian Usai


sesudah pesta nyanyian usai
katak betina menjauh, daun
dan batu tempat berlabuh
tepian kolam menanti
bulir-bulir benih generasi
akan lahir dengan suka-cita

seusai pesta malam penuh nyanyian
jengkerik betina terbang di bawah lampu
celah rerumputan basah embun menunggu
dititipkan butir-butir keemasan generasi masa depan
merantai estafet spesies dan gen inangnya

setelah usai pesta nyanyian
ada jeda di panggung dunia
masa bila rahim dan rahman
menimang-timang kekasihnya
cakrabhakti, generasi ke generasi

09/05/2021
#siswonurwahyudi




Belah Bilah

 
pusaka tanah
belah bilah sama waris
sebumbung jadi selidi

pusaka ilmu
belah bilah sedaki saja
berbiak-biak jadi segunung

pusaka cinta
belah bilah siapa suka
laki wanita sama geramnya

10/05/2021
#siswonurwahyudi



PUISI APA LAGI


puisi apa lagi yang mesti ditulis
ketika catatan baik-buruk sejarah diabaikan
ketika adab beragama sudah kehilangan kelembutan
sedangkan semesta tak henti memberi tanda-tanda

puisi apa lagi yang mesti dicari
dikala para penyair telah kehabisan suara kata
dikala kehidupan meninggikan kebrutalan ketidakwarasan
sedangkan cinta dan kasih sayang tak pernah pergi

puisi apa lagi yang hendak dimaknai
sedangkan marwah kata-kata telah kehilangan muka

11/05/2021
#siswonurwahyudi




KEKASIHKU PULANG DI MALAM LEBARAN


yang berpulang
kekasih-Nya, kekasihku
aku tahu itu
adalah dia
rembulan
yang selalu purnama


1 SYAWAL 1442 H
13/05/2021
#siswonurwahyudi


Support/dikungan /apresiasi :


PUISI CATATAN RAMADHAN 1442 H / 2021 M










PUISI CATATAN RAMADHAN 1442 H





Hari Pertama


sesudah hari kemarin di akhir Sya'ban
akan menjadi kenangan di esok hari
sekarang bulan Ramadhan

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi



Hari Kedua


pukul dua tiga puluh dua
menjelang makan sahur
belum juga kudengar riuh kenangan
tiga puluh lima puluh tahun lalu
tangan-tangan dekil, berkalung sarung
menenteng suara langit
bunyi-bunyian bambu bertalu-talu
menjadi penegas
ini bulan Ramadhan
dan berharap esok hari
tak melewatkan itu di malam ketiga

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Ketiga


begitu selalu
sebentar nanti
sejuk subuh
musti direlakan pergi
dan burung-burung malam
bersarang pada sifat kodrat waktu

hari ketiga tak sebatas istilah
untuk memberi tanda giling roda
berporos dan memutar masa

kau boleh bilang hari esok itu nisbi
tetapi hidup bukan saja milik ini hari
begitu juga Ramadhan kali ini

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keempat


penghujung malam
dalam tadarus al-kalam
surau di batinku berdinding sejuk udara
titik-titik air sisa gerimis sore ditimang dedaunan, berkata :
"beberapa menit lagi masuk hari kelima"
"ini sudah hari kelima", jawabku
ya, inilah Ramadhan
sepersedetikpun sangat berarti

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kelima

ada janji yang belum kulunaskan
penat kepala belumlah reda
dan belumlah tuntas kubaca kitab-kitab
tentang empat kereta senja di stasiun menjelang
ini hari kelima
di hari kemarin hampir terlewatkan
mencatat kisahnya, demikian
nyanyian Ramadhan yang rapat irama

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keenam

kemudian langit pun diam
memberi waktu kepada burung-burung
berkhidmat dan menjadi saksi atas orang-orang yang sujud
untuk kemudian merayakan dengan kicauan merdu mereka
fajar Ramadhan hari keenam mestilah sesyahdu lagu rindu

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Ketujuh

semacam siang milik para petinju
basah peluh di dalam atmosfer sasana candradimuka
pendadaran diri di dalam pertapaan diri sendiri-sendiri
dan menghitung sendiri tujuh bintang dan tujuh matahari
di ruang pertarungan sunyi Ramadhanmu sendiri
atau menyerah mengaku kalah
tanpa pertarungan

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kedelapan

seandainya angin tak ingin
tak akan ada rambat suara di sini
dari spiker itu ia hantarkan ke kamarku
suara-suara Ramadhan
malam kedelapan

demikianlah semestinya cintaku pada-Mu
aku udara, dan Engkau angin bendara
berserah diri walau harus menjelma badai
betapapun bila aku tak ingin, karena
jiwa raga ini bukan milikku
seutuhnya

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kesembilan


senja menjelang
burung-burung pulang
seorang anak gadis di jendela
diam menatap ujung cakrawala
separuh wajah bulan tersenyum
bibir mungilnya pun membalas,
"selamat berbuka", katanya

hari kesembilan Ramadhan
dan sisa euforia kaum perempuan kantoran
menyambut malam, dan rembulan
juga si gadis kesepian yang malang

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Kesepuluh

ada pengembaraan yang khitmad
pada sebuah perjalanan panjang seharian
antara mitos dan pengakuan keakuan
pergulatan ego, menuliskan epos di buku diri
membusung dada meski setengah malu-malu

lalu datang orang-orang dari kehidupan masa lalu
menampakkan sorot mata teduh sebiru gunung
memahat bait-bait syair di pokok-pokok kayu dan batu
suluk tentang kisah sepertiga Ramadhan
kalimat-kalimat yang menggiling ulang mata angin

demikianlah akhirnya
aku kembali pulang
pada rumah yang benar

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kesebelas


hari kesebelas Ramadhan
tepat di hari Jumat
ingin kuikat lekat
tanpa kidung dan sajak-sajak
biarkan semurni madu bunga rebak
sudah cukup, kunikmati saja
apa adanya

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keduabelas


Ramadhan,
ini malam ketigabelas
di atas rasa syukur masih diberi umur
bertadarus puisi yang lahir dari tanah subur
di ladang luas milik para penyair
tempat dendang dan pepujian mengalun mengalir
untukmu, dan Tuhan

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Ketigabelas


bak palung di dasar samudera
hati manusia, hati manusia
riaknya berisik di permukaan saja
karena angin, ikan, dan camar yang mengusiknya

kata cerita,
di jantung palung itu
pendar cahaya Ramadhan
lebih terang dari seribu sari matahari?
ini hari ketigabelas
sebiji sari pun aku masih mencari

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keempatbelas


aku berhenti meniupnya
jari-jari masih memeluk lubang seruling
sejenak memejamkan mata
mengeja nada-nada di relung jiwa
menemukan kembali titian yang sempat terlupa
menitipkannya pada sela barisan partitur
simphoni Ramadhan hari keempatbelas

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kelimabelas


pohon-pohon jati, dedaunan jati
di belantara habitat para pengampu ilmu
tempat para empu penjaga negeri bersemayam
belumlah datang angin kemarau
satu-satu daun gugur dari reranting
menyisakan pokok-pokok berbuku
meninggalkan kami yang telanjang kepala

Ramadhan hari kelimabelas
pepohonan jati, ranting-ranting
satu lagi gugur daunmu
di depan mata sembab rasa kehilangan
meski tak mencemaskan
akan surgamu
di sana

sugeng tindak Kyai
 
#siswonurwahyudi




Hari Keenam belas


sepasang sepatu kulit punyaku, hitam
dan semut-semut pudak yang bersarang di dalam
pasti, tak akan rela kupindahkan
ratusan butir putih telur jadi segumpal alasan
ya, semut-semut itu selalu punya alasan
sederhana, kuat dan masuk akal

Ramadhan hari keenam belas
aku belajar lagi tentang motivasi dan cinta
dengan bahasa yang paling sederhana

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Ketujuh belas


selamat pagi
Ramadhan
kuingin
melupa segala yang kuingin
sehari saja
karena ini
hari ketujuhbelas

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kedelapanbelas


kali ini begitu banyak file sampah
kanal distribusi di hapeku tersumbat
mustikah kupusingkan
agar aku lancar terhubung denganmu?
aku tak paham benar,
begitu pulakah cara Ramadhan
mengusik kesadaran,
menikam keserakahan,
membedah kedengkian?
ini baru hari kedelapanbelas?
ya, persisnya malam kesembilanbelas
adakah aku sampah bagimu?
saranku, tanyakan pada malam akhir Ramadhan
sebelum engkau memuntahkan diriku

(sebab bulan tetaplah bulan yang timbul-tenggelam)

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Kesembilanbelas


ia bernama hidup
lahir dari rahim sebutir biji
sendiri, tumbuh dalam buaian angin
kaki-kakinya mencengkeram tembok bata
aku biasa memanggilnya sunyi
dan sepertinya ia sama sekali tak suka
sepuluh detak waktu yang lalu ia menuliskan namanya
sayang terlalu jauh untuk kueja tanpa kacamata, atau
jendela kamar rusunawa ini terlalu tinggi, oh tidak
sebenarnya tidak lebih tinggi dari kepengecutanku
tak lebih pula dari citra kecongkakanku
atawa aku terlalu berlebih merendahkannya
namun sinyal itu begitu terang, ia tertawa dan berkata :
"jangan pernah panggil aku sepi!"

Ramadhan
pagi hari kesembilanbelas
ada kuncup daun melambai matahari
dan seekor kecoa yang setia menjaganya

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keduapuluh


apa arti sebuah tanggal diberi nama hari perayaan?
sekarang hari pendidikan, kemarin hari buruh
juga hari-hari perayaan yang lain
ada lokal, regional, nasional, internasional
Ramadhan pun punya hari nuzulul Qur'an

ramai poster dipampang, kadang asal dan serampangan
riuh-rendah tanda selamat dan ritual digelar
ada yang dimegah-megahkan seolah takut direndahkan
hingga lupa ada yang tersakiti oleh kemegahan itu
kelaparan dan ketidakadilan
lalu ketika mata terbuka, ringan saja bilang tak sengaja
begitulah biasanya

hari ini, dua per tiga Ramadhan
masih kencang saja digulir-gulirkan
kampanye donasi pengganti kapal selam yang tenggelam
di tengah kabar wabah korona yang semakin seram
di lain sisi, ada orang berpeluh-peluh cari makan
masih sempat juga menghitung tanggal
kapan hari lebaran?
 
selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh satu


kesaksian
di langit gawai, ada
sekelumit peristiwa, ada
anak-anak adam, terbakar
(lebih tepatnya membakar diri, mungkin)
di dalam sebuah masjid yang suci
api di mulut mereka berkobar-kobar
: ini rumah Tuhan, bukan pasar!
: lepas masker atau keluar!

badai korona, oh korona ciptaan siapa?
telah menambah satu lagi sasaran kebencian
kebencian yang diberi hak untuk membakar apa saja
pun di dalam tempat yang diagungkan kesuciannya
seolah kebencian lebih suci dari rumah suci itu sendiri

Ramadhan,
malam keduapuluh satu
kesaksian,
di masjid itu,
nafsu amarah dimenangkan

Tuhan Maha Pengampun
Tuhan Maha Pengasih dan Pemurah
Maha Suci atas segalanya

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keduapuluh Dua


kamilah desa
keperkasaan tanpa keangkuhan
tempat padi tumbuh bersama gulma
dan kami membersihkan diri
sepenuh kesadaran dan kesabaran
karena cuma itu yang kami punya
kecuali lumpur sawah di tubuh
jiwa jauh dari mengenal kekotoran
seperti khitah Ramadhan

hari keduapuluh dua
setia cinta panas matahari
batang semi bayi-bayi padi
mohonlah berbuah rizki

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi




Hari Keduapuluh Tiga


mestinya aku suka
hari ini akan padat
melapis
jikalau saja kamu tak datang
sangatlah tiba-tiba

Ramadhan
hari keduapuluh tiga
tak jelas mana kaki mana kepala
sama-sama pegal sama-sama pusing
terang subuh
pantaskah mengeluh
tidak, jawabku

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Empat


lima ekor angsa
pekak suara
satu kepala
lima muara

Ramadhan, dan
hujan semalam
suara angsa
lima kepala
hilang nuansa
cerah siang
hari keduapuluh empat
belumlah beda

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Lima


hari ini hari ganjil Ramadhan
seekor laba-laba i'tikaf di sarang
nyanyi bisu dedaunan dan reranting
di rerumputan, dua anak kecil terpukau
dialektika murni tanpa syak prasangka

hari keduapuluh lima, jadilah
saksi yang adil, biar
kebenaran tetap terhampar

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Enam


hati dan pikiran seperti pelampung
satu ada di kiri, satu di kanan
tubuh menjadi perahu, dan
kehidupan bernama samudera

Ramadhan hari keduapuluh enam
pergulatan menjaga kewarasan
atau perahu retak lepas tenggelam

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Tujuh


seekor kumbang di taman
mengemas sepertiga siang
putik-putik sari bergetar-getar
debar hati menjadi kisah mereka

hari keduapuluh tujuh Ramadhan resah
kesah orang-orang yang tak bisa pulang
dengung sayap mereka tak segairah kumbang
di pemakaman, pusara-pusara merindu kembang

kisah kumbang dan kembang bukan lagi hiburan
di manakah engkau senandung pelipur lara?
kemanakah engkau senandung pelipur lara?

langit diam,
angin membisu,
lautan membenamkan debur,
dunia segersang dinding bukit kapur
di dada, gelegak magma terbekam
sedang puasa musti memasung kegilaan
semua menanti jawaban
semua merindu lampiasan

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Delapan


sifat melekat pada benda
amal lekat di perilaku
apa tanda putaran waktu?
usia
usia
usia
yang tak akan bisa menipu
juga hari ini, kemarin, atau esok
meski Ramadhan berulang dan berulang
detik ini, sedetik kemudian sudah menjadi kenangan

ini hari keduapuluh delapan
berapa hari usia hidup kita sekarang?

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Keduapuluh Sembilan


betapa hari ini kuingin
melebur semua sesak dada menjadi baja
lalu memilinnya menjadi pegas yang lembut
kupancang kuat-kuat di bumi Tuhan
di bawah rindang awan siang, dan di cerah malam
menjadi tempat bagi orang-orang kalah beristirah
juga tempat bagi jiwaku melepas segala lelah

demikianlah impian sebulan Ramadhan
di hari keduapuluh sembilan
andai berlebihan, semoga diampunkan

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi





Hari Ketigapuluh


subuh hari ketigapuluh
Ramadhan berlabuh
gulung layar, membuang sauh
menitip kabar pada camar
ke desa-desa dan bandar-bandar
bumi hari ini, secerah seribu bintang bersinar

selamat berpuasa

#siswonurwahyudi

PEMENANG PENULISAN NASKAH DRAMA 2020 ISI PADANG PANJANG


PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA PENULISAN NASKAH DRAMA 2020

INSTITUT SENI INDONESIA PADANG PANJANG


 


NASKAH DRAMA MONOLOG MAWI BASA JAWI

 

Ngembang Krokot  Sawetawis :

 

Ngembang krokot (naknik) satlemik bab cariyos “Nggodhong Pring” ingkang ateges ron pring alias ‘krosak’, inggih punika cariyos ingkang namung methik sacuwil bab fenomena mutakhir ing sajronipun ngagesang. Utaminipun ingkang wonten ing karang padesan ingkang akhir-akhir niki sampun ngalami “rudhagendra kabudayan” akibat dening mobah-mosik owah-owahan kemajuwan jaman. Tansaya majunipun teknologi pranyata paring dampak dhumateng budaya lan perilaku masyarakat padesan. Langkung-langkung karana jembar-wiyaripun lemah tegal sawah ingkang tansaya susut amargi sampun owah fungsinipun dados perumahan lan sapanunggalaipun. Ugi bab majunipun mesin-mesin tetanen andadosaken kaum buruh tani sami kecalan sumber panguripan. Ananging kasunyatan ingkang makaten kalawau tetela kirang pikantuk kawigaten, paribasan ‘kadya kemrosake godhong pring’. Bab basa Jawi ing cariyos niki mawi lantaran basa Jawi pasisiran dialek Bojonegaran. Wondene kados pundi jangkepipun lampahan sumangga dipun waos kemawon kanthi sakeca sinambi ‘kekudangan ronipun waluh’. Utawi saget amirsani kanthi tuntas gelaran panggungipun. Nuwun.


Siswo Nurwahyudi

 

 


~ K R O S A K ~

 

WIS MEH NGANCIK TENGAHE RINA, PAWONGAN LANANG TUWA NEMBE NGASO MAPAN ING POJOK GALENGAN SAWAH. AWAK LAN PANGANGGONE KATON SISA GUPAK  LENDHUT NANDHAKAKE YEN MENTAS WAE TANDANG GAWE. ING PAPAN KONO PANCEN RADA EDHUM, KAYOMAN SAWIJINING WIT SOGA. PAWONGAN KUWI MUNG IJENAN WAE, TETEMBANGAN SINAMBI NGLEREM SAYAHE AWAK SINAMBI NDHUDHAH KRENJANG ISI PANGANAN LAN KENDHI GAWAN SANGU SAKA NGOMAH.



001. : (NEMBANG SINOM)

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begjabegjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

(:kapethik saka serat Kalatidha, Ranggawarsita)

002. : Ya ngono mau lelakone urip jaman saiki. Gak melok ngedan bakal gak keduman jare. E… lha ya, jaman pancen wis owah. Jamane saiki jaman padha kedanan hape, kedanan internet. Sing adoh dadi cerak, sing cedhak ogak kecandhak. Utamane bocah-bocah enom, gemane selpa-selpi. Saithik-saithik selpi. Kana-kene makcekrik. Sakpolahe dipoto. Telpan-telpon jegigisan karepe dhewe. Padha geman nggrumbul cakrukan tapi gak enek sing semauran. Betah ngantek jam-jaman ogak mingket ogak mungsret. Padahal pulsa ya makani. Yen perlu mbok sampek wetenge kelet kaliren ndah pokoke angger pulsane isi. Ehh… jian gawok tenan aku.

NGRESIKI EPEK-EPEK TANGAN LORO, BANJUR NJUPUK TELA GODHOG SIJI.

003. : (SINAMBI NGONCEKI TELA) 

Ogak kur trima sing enom. Sing wis embok-embok gerang dhaplok pisan tambah saya ngluweh-ngluwehi. Malah polahe kliwat megilan, rumangsa isih kaya prawan sunthi. Nek wis cekelan hape engkrese gak kaprah. Mesam-mesem dhewe, pringas-pringis. Lali adang lali olah-olah. Paribasan pawon disapeh sugon. 

(MANGAN TELA) 

Diplalah tuku matengan timbang kangelan masak. Penak, tangane ogak cetheh, rai gak keblubuk keluk. Butohe wegah kalong wedak-pupure, nek butoh selpi sakwayah-wayah karek mrenges. Ogak gawok, pancen wis jaman edan. Gak kutha gak ndesa padha wae.

NGOMBE BANYU KENDHI MAKGLOGOK, NJUR NGODHOS MBAKO DIGAWE UDUD SINAMBI NUTUGAKE BACUTE TEMBANG.

004. : (NEMBANG SINOM KARO UMEK CAWIS UDUD )

Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa,
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma.

(:kapethik saka serat Kalatidha, Ranggawarsita)

005. : (NGUDUD KLEPAS-KLEPUS) 

Menungsa kuwi wis dhasare kepanggonan rasa melik karo serik. Melik lan serik panggoke nok njero ati, rupa kekarepan sing angah-angah, nek kekarepane ora klakon njuk tuwoh rasa gela. Sing diuja butohe mata, butohe raga, dudu butohe jiwatama. Senengange brai, sing dibraeni kur wates rai karo udel mengisor. Mandar ngono kuwi mbarahi drajate menungsa dadi asor sakngisore kewan. Wis sugeh ijek kurang sugehe, wis penak ijek kurang penake. Sing diuber jare kamulyan tapi bareng wis mulya jare ijek kurang mulya. Jaman durung mergawe pengin mergawe, bareng cekel gawe dienggo sakpenake dhewe. Saben taun arak-arakan ngebaki dalan, sing dijaluk pegawean penak bayaran ambane sakempyak. Ngono kuwi jarene berjuang. Berjuang sing piye?

(NGGUYU KLECAM-KLECEM) 

 Akeh crita, akeh ukara sing kandha, wis enak-enak dadi anake wong tani, dicawisi tegal-sawah, njaluk sawahe didol nggo modal mrantau utawa nggo dhaftar pulisi, pegawe negeri, alesane kanggo njunjung drajate wong tuwa, tapi bar-barane nek wis dadi sing akeh-akeh padha lali janjine. Lali bibit-kawite biyen piye.

NGADEG CENGKELAK. NDHANGAK SETITHIK, DRIJINE NUDING NYANG PAPAN ADOH.

006. : (NUDING ADOH MENGETAN) 

Gak usah adoh-adoh, contone anakku dhewe. Sing mbarep biyen dadi pulisi ngentekna sapi mbuh pira wae ngantek gak ketung. 

(NUDING ADOH MENGULON) 

Sing siji kuliah sarjana pertanian, dhong-dhongane saiki dadi pegawai bank. Ngono wae tuku sepedhah ijek sambat njuk imboh dhuwik pak-e neh. Ngko rabi ya bandhane pak-e neh sing disambat. Lha jenenge karo anak, mosok ape mentala meneng ae? Gak preduli pak-e sampek bungkuk nek macul ben dina. Panas kepanasen, udan dilampu kudanan. Saiki padha urip seneng nok kutha gedhe, mentala ninggal pak-e urip ijen nok ndesa. Wis roh nek pak-e wis gak nduwe bojo, mbok ya urip nok kene wae ngancani pak-e. Padha bangga manggok nok kutha. Pak-e ape rabi neh ben kenek nggo kanca urip, ya gak diolehi. Bocah saiki dikon tani padha moh iki jan-jane kenek apa? Kecuali nek wong tuwane gak nduwe sawah, pantes. Apa rumangsane wong tani kuwi drajate asor pa piye? Lha iya, rumangsaem sing nguripi kowe kabeh wiwit lair ceprot ngatek ndadekna pulisi, dadi pegawai bank, kuwi asil ko ndi? Kabeh ya asile tegal-sawah. Lha sing mbok pangan ben dina apa ya rumangsaem gak berase wong tani? Mosok ape mbadhog pluru bendina? Mosok kowe ape ngemah kertas? Eh, hemm...

NYANDHAK CAPING DIANGGO ILIR, PANYAWANGE NGLANGUT NYANG PAPAN ADOH

007. : Wong tani kuwi pancen kudu gelem rekasa, ya macul, ya tandur, ya open-open rajakaya, asile gak mesthi, kadhang panen ya kadhang gak oleh asil. Kuwi wis dadi wadanane wong tani wiwit jaman biyen mula. Wis lumrah. Wong kabeh penggawean kuwi nduwe resiko dhewe-dhewe. Gak enek sing ogak resiko. Tapi nek wong tani gak gelem rekasa nandur, terus wong sakdonya mbadhog apa, nguntal apa? Apa ya isa urip? Ngono kuwi mbok njajal mikir. 

(NJUPUK TELA GODHOG) 

Iki delok, masiya kur trima nggo ganjel weteng ndah, sing mbok anggep gak mbejaji, iki ngono mbiyen jaman Jepang, jaman larang pangan, wis nylametna uripe mbah-mbahem ngantek thukul aku, terus thukul kowe. Mamula aja ngenyek. Kok saiki panganan roti sing mbok agul-agulna. Rumangsaem roti
kuwi bakalane saka apa? Ya padha, asile wong tani. Pasaem piye leh? Ogak enek wong tani, wong sak ndonya kaliren kabeh.

008. : (NYANDHAK ARIT KARO TUGELAN UNGKAL, NGUNGKAL ARIT) Mbok ya salah siji

muleh ndesa ae, ngancani pak-e nggarap sawah. Apa neh kowe sing ruju, wong sekolahem ya sarjana pertanian. Iki lho, sawah sing karek rong bahu diopeni. Iki ngono rupa pusaka tinggalane jenate mbahem. Dhek biyen tinggalane ya amba, wis dibagi-bagi waris, aku oleh bagian sawah rong bahu iki. Kenek apa kok sawah iki ogak tak olehi didol, ya mergane iki lemah tinggalan minangka barang pusaka. Suk mben tiba kowe cah loro, sebahu-sebahu. Wis mathuk kuwi jenenge. Gak usah terok wong-wong nggladrah kae, sawah pusaka tinggalan leluhur kok padha didol, saiki dadi perumahan sakharat-harat. Akhire sukmben sawah kene entek kabeh, dadi omah kabeh. Akhire kuwalat kabeh, dhong-dhongane oleh dhuwik dol-dolan sawah padha mawut morat-marit gak karuwan parake. Dienggo dagang ogak ngembang, diimbu bandha ogak tanja. Akhire nangis gak metu lohe. anake plalah dijlomprong kon budal dadi TKI. Nek wis ngono kae piye jal? Wong kuwi sing apik landhep nalare, ogak kok landhep guneme.

MAPAN NDHODHOK, NYELEHKE ARIT, NJUR NGRESIKI GEDIBALE PACUL.

009. Mamula ta mamula, dadi manungsa aja kakehan melik. Mbiyen wong-wong takkandhari padha gak ngandel kabeh. Tak keki pendapat apik malah atine padha serik. Klebu kae, Pakdheem dhewe lor kali kae. Aku dijuthak sampek saiki, padahal dheke bangkrut merga salahe dhewe, aku sing diendha nyalahi. Sing jare takdhukuna bereng. Nyenthe-nyenthe, jarene ngene : “Asu kowe, karo dulur dhewe mentala ngrusak. Aku dagang mbok rusohi, bojoku mbok ojok-ojoki, mbok kandhani ogak oleh utang bank. Dhong- dhongane anakem dhewe akhire ya dadi pegawe bank. Mataem picek pancene”. Entek ngamek kurang golek pokoke. Bareng saiki wis entek tegal entek sawah, omahe ketut dibeslah bank, genten ndarani aku jarene main dhukun. Wis mboh…mboh, karepem kono. Sing penting uripku tak tata dhewe, tak ati-ati dhewe. Aja sampek keterak lara, aja ngantek kenek perkara. 

NGOMBE MENEH SAK GLONGGONGAN. NYANDHAK MBAKO MENEH CAWIS UDUD.

010. : Pancen angel ngandari wong saiki. Apa neh nuturi cah nom. Wis padha rumangsa pinter merga sekolahe padha dhuwur. Pak-e sing mung tamat SD ndahneyo kok dianggep. Blas gadhas kuwi kok. Sing akeh trima dadi mutpeh. Diemut terus dilepeh. Jamane saiki pancene jaman mutpeh. Sing enak legi gelem ngemut, ilang legine karek pait-sepete gak suwe mesthi ndang dilepeh. Padahal sing sepet apa pait kuwi sapa roh dadi jamu, sing krasa legi ngracuni awak dadi kencing manis. Sapa sing apene roh. 

NGADEG MENEH. SISA UDUD DIBANTING. NGIDU CRUS-CRUS.

011. : (MALANGKERIK) 

Kae sing rumangsa dadi wong gedhe padha wae, karo wong cilik ya mutpeh. Karo wong tani tambah ngluwehi mutpeh. Wayah butoh diemut-emut nggo alesan demi rakyat, jare kabeh demi wong cilik. Tapi nek bar ya dilepeh, lali, dianggep gak enek. Nek mbutohna ae kaya yak-yaka, bar ya mbuwak buntel, mutpeh. Nek pidato guneme edab-edabi : “Pertanian akan ditingkatkan. Petani akan dibantu modal, dibantu bibit, pupuk murah. Ekonomi petani ditingkatkan. Kemiskinan ditingkatkan sejahteranya. Masyarakat desa ditingkatkan makmurnya”. Omongane sundhul langit. 

(GUYUNE UCUL, NGIKLIK)

Hii..hi..hi…. hiii…. Haa…ha…ha…ha…. Wong kok bento men. Ape ningkatna pertanian, sawah ditebasi dadi perumahan kok diijini. Sawah tambah entek kok ape ningkatna pertanian. Kuwi omongan apa nguntal kadhal urip-uripan? Ngono kuwi sing ngrungokna ya gelem manthuk-manthuk. Bento mangan sabun ya ngono kuwi. Apa neh nek pidato nyangking dalil agama, biyuhh…. wong-wong nek keplok nggunung ruboh. Sing pidato ya babar blas gak wedi dosa. Agama nggo mblidhuki wong akeh lha kok malah unjal umuk pamer dhadha, banggane gak kaprah. Tiba wayah nggurine ya mutpeh. Kabeh dilepeh karek ampas . Legine kono sing ngapek, ampase dinehna wong cilik.

LUNGGUH NGEPROK, RERINGKES, SAJAKE WIS AREP RAMPUNGAN GAWE.

012. : Tapi ya takakoni, jaman saiki sembarang kalir ketok gampang. Ape piye-piye ya nayoh. Montor cilik, montor gedhe, sliwar-sliwer sak pirang-pirang sampek ape nyabrang ae kangelan. Prasasat angger irung cekelan montor, cekelan hape. Elek-eleka ndah aku ya cekelan hape. Hape cilik, ora sing amba kae. Lumintu kenek nggo tilpunan karo anak-putu nek dhonge kangen. Tapi prasaku merga sarwa gampang, wong saiki malah sembrana, nggampangna sembarang kalir. Uripe dadi sembranan, kurang tata, kurang ati-ati. Dadine ya gampang lali. Lali sangkan parane dumadi, lali marang pengerane, kurang rasa sukure. Padha seneng ngumbar angkara, perkara cilik diupakara nganti amra-ambra. Sing bener dadi salah, sing salah ngengkel gak gelem kalah.

KRENGKAH NDHODHOK NJABUT SUKET SIJI, DIPRUTHES NJUR DIEMUT NING TERUS DILEPEH MENEH.

013. : Saktenane, jaman sing sarwa nayoh nyatane ya ngangelna wong bereng. Kaya lumrahe ibarat dol tinuku, yen ana sing untung mesthi ana sing bunting. Sing kana bathi, sing kene rugi. Contone saiki wis gak patek usum wong mburoh macul, mergane saiki wis diatasi nganggo traktor. Jaman biyen ben panenan pari rame wong buroh derep. Padha seneng sebabe padha oleh opah mburoh sakmangane pisan. Saiki wis enek mesin kombi, wis gak butoh wong akeh nek ape panen. Sing maune golek wong mburoh leren antri merga panen raya, tur opahe larang, saiki buroh padha sambat oleh saya gak oleh kaya, merga tenagane wis diganti mesin sing biayane luweh murah. Sing duwe sawah para-pere nyewa mesin ae soale murah. Kaceke adoh timbang ngopahi wong mburoh. Tapi sawahku ijek tetep tak burohna, ben buroh tani tetep mergawe. Olehku tani ogak kur nguber asil gedhe thok. Ndelok sambate buroh tani aku gak mentala. Apa salahe andum pegaweyan, andum rejeki, ben rata padha krasa. Nek gak ngono piye? Wong sing maenge kur mergawe mburoh nok sawah ape mergawe apa jal? Padha-padha menungsane padha butoh mangan kabeh. Sakjog ketekan mesin, sing tuna ya buroh tani. Ngaplo. Kendhile nok pawon nggoling, gak kuwat mental terus nglakoni maling. Alesane maling merga sumber pengasilane dicaplok mesin. Nek wis ngono sakjane sing dosa sapa? Ape nyalahna sapa yake? Wong kaya aku ngene iki ape melok urun rembug tiwas kur kemrosak nggodhong pring. Percuma.

NGLUKAR KLAMBI TELESAN DIANGGO NGELAP KRINGET, BANJUR SALIN KLAMBI SING GARING. KABEH GAWANE DICAWISAKE, RERINGKES AREP DIGAWA BALI MULIH. NULI NYANGKING GAWAN NGIWA-NENGEN.

013. : (NGGEDRUG LEMAH PING TELU , NGRAPAL MANTRA)

Somelah, niyat ingsun muleh omah
Lemah sawah klomah-klameh
Banyu agung mili nok kali
Bapa-biyung aja nganti nglayung
Bocah bajang beja kemayangan
Tanduran thukule sakparan-paran
Subur tinandur kayungyung hyang Dewi Sri
Sing sinebut ibu bumi bapa angkasa
Hayu, hayu, hayu, rahayu krana palilahe gusti Allah
Hong, sluman slumun slamet.
Aamiin… aamiin…aamiin…!

(NGGEDRUG LEMAH PING TELU)

KEPRUNGU RINGTONE HAPE MUNI, IWUT NYELEHKE GAWAN, NGROGOH HAPE SAKA NJERO SAK KLAMBI. NJENGGILENGI NOMER SING TILPUN.

014. : (NGANGKAT TILPUN) 

Halo…! Niki sinten nggih? Ya, piye cung? Sing jelas ta nek ngomong, aku ijek nok sawah, sinyale gak patek pakra nok kene. Piye kantor pulisi? Sapa? Lha kenek apa? Kecelakan? Wonge mati? Lha kok isa? O… ngono? He, jaluk dhuwik? Pira? Selawe juta? Kok akeh men? Kowe nok kantor pulisi ngendi cung? Loh, Kalimantan? Lha kowe mek apa klayapan Kalimantan bereng? Ya, enek. Lha kowe mosok
gak nduwe celengan blas? O.. ngono? Lha terus lehku kirim dhuwik piye wong pak-e nok kene nggone? Ateem apa? Ya gak nduwe ta cung. Blas gak roh ateem aku. He, rekening? Rekening kuwi apa? O… buku bank, gak nduwe aku. Kowe roh dhewe ngono lho, pak-e gak tau urusan ambek bank. Piye? Lha ape njaluk tulung sapa nok ndesa nggone ngene iki? Mosok njuk tulung pak lurah? Wis ngene ae, kangem tak kon ngurusi. Iya leh, kanganem sing pulisi leh, sapa neh. Wong kowe nduwe kang pulisi mosok gak….. Halo…, halo…, kok malah dipateni tilpune iki piye? O… bocah kok mblarah 

(NGGOLEKI NOMERE ANAKE NOK HAPE TERUS TILPUN) 

Halo..., Halo..., Cung..., halo...!!
Hee, pakem gung bar nek ngomong tilpunem malah mbok tutup, karepem piye? Piye? Ijek Rapat nok kantor? Rapat karo pulisi Kalimantan? Ogak? Lha kantor apa? He, apa? Kantor bank? Kantorem dhewe? Tenane? Kok mencla-mencle. Jarenem maeng nok kantor pulisi Kalimantan, pulisine njaluk selawe juta. Sing bener sing ndi? E… ngono? Berarti kuwi maeng tilpune wong mblidhuk? Emm… ngono? E… lha ya, mblidhuk tibake. Ya wis cung nek ngono. Tiwas ndhredheg aku. Ya, ya, ya, tak ati-ati. Kowe ya sing ati-ati.

(NUTUP TILPUN) 

 O… klakuan kirik pancene. Kok roh nomerku sing ngendhari ya sapa? Mblidhuk liwat SMS wis gak tay tak gadheg, lha kok saiki tilpun. Aku pengin roh rupane. Mbokne silit tenan. Konangan pethuk nok 
ndalan, tak pacul cangkemem tenan kowe. 

HAPE DILEBOKKE SAK. PACUL DI PAPANKE ING PUNDHAK, NYANGKING GAWAN MBAKA SIJI, TANGAN KIWA TENGEN NYANGKING KRENJANG LAN ARIT. NJUR JUMANGKAH BALI MULIH KEKANCAN TEMBANG PANGKUR.

015. : (NEMBANG PANGKUR)

Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa
Agama ageming aji

(:kapethik saka serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV)



~~ RAMPUNG ~~


Support/dukungan/apresiasi :





NASKAH DRAMA MONOLOG "NYANYIAN JAIMAN"




NYANYIAN JAIMAN
Drama Monolog
Karya : Siswo Nurwahyudi

SEBUAH SUDUT DI SUDUT KOTA KECIL, DI SUDUT MALAM, JAUH DARI HIRUK PIKUK. JAIMAN TIDUR BERBUNGKUS. BELUM LAMA IA TERTIDUR, TIBA-TIBA PEMBARINGANNYA MENGGELIAT, BERDERAK-DERAK, JAIMAN MENGERANG-ERANG. KONON, IA BELINGSATAN SEBAB SELURUH TUBUHNYA DIRAMPOK HABIS-HABISAN

JAIMAN :

(MENGERANG)…..kakiku…….,aduuhh…….,…..kakiku…..,jangaann…..,aduhh… sakit….., lepaskan….., ….sakit…..goblok…., ayo lepaskan….bisa copot nanti, ….jangan ditarik begitu,….lho…lho….hei…… kok malah dipelintir….., ……aduhhh….sakiit….gobloook, hei…. siapa yang kurang ajar ini…? (TERUS BERUSAHA MEMBERONTAK, TETAPI JUSTRU KAKI SATUNYA KENA BETOT)… waaa….setan mana lagi yang sudah gila ini?…aduhhh….lepaskan, ini kaki bukan ketela pohon, bisa copot nanti, ….sakiitt….hei…lepaskan…. sudaahhh….hentikan…., ayo…pada dengar tidak?….sakit ini………. gobloook…!!…hei,….punya telinga nggak? (BETOTAN DI KEDUA KAKI SEMAKIN KUAT, JAIMAN SEMAKIN MENGERANG, IA SEMAKIN MARAH, KEDUA TANGANNYA MENGHANTAM KE SEGALA PENJURU)…. Gila… ….setan kalian semua….mampus kalian….rasakan ini….biar tahu rasa… (MENGUMPAT HABIS-HABISAN, TANGANNYA TERUS MENGHANTAM ,TETAPI BETOTAN SEMAKIN KUAT SAJA, JAIMAN SEMAKIN KACAU, KEDUA TANGANNYA TAK MAMPU MENOLONG MALAH JUSTRU KENA BETOT JUGA) …aaaa…..waaa…,..aduuhh….ampuunn….sudaahhh…aku menyerah….lepaskan semua…., kalian gila…, saakiitt…., jangan keras-keras dong nariknya, sakitt…., toloong…., aduuhh…tolooong…aku mau dihabisi…. (SEMAKIN JAIMAN BERTERIAK, BETOTAN JUGA SEMAKIN HEBAT. BERSAMAAN DENGAN JERITAN PILU JAIMAN, SATU PERSATU KAKI DAN TANGAN JAIMAN PUTUS. ERANGAN JAIMAN SEMAKIN MENJADI-JADI. BELUM HABIS IA MENGERANG, TIBA-TIBA JAIMAN DIKEJUTKAN OLEH CENGKERAMAN YANG KUAT DI KEMALUANNYA TERUS KEMALUAN ITU DITARIK-TARIK DIBETOT-BETOT. JAIMAN SEMAKIN BELINGSATAN) ..haaaa….wuuaaa…wuaaa…., aduuhh…, hei.., yang ini jangan, aduhh…, gilaaa…, jangan ditarik yang ini, burungku…aduuhh…bisa mati aku kalau putus…., aduhhh….sakiittt….., ini sudah gila-gilaan, …..tooloong…,mati aku…, sakiitt….toloong….(TARIKAN MAKIN MENGHEBAT, JAIMAN TERUS BELINGSATAN. KEMALUAN JAIMAN PUTUS. JAIMAN MENANGIS SEJADI-JADINYA. DI ANTARA ERANGAN DAN TANGISAN:….) …ini sudah keterlaluan… kalian rampok aku habis-habisan. ….aduuhh…., gila semua!…, kakiku sudah habis, tanganku sudah habis, masih kurang juga, yang ini kalian sikat juga, setan busuk, sudah pada gatal ya? sampai-sampai barang ginian kalian sikat…..! Yanti…,Yanti…

aku sudah habis sekarang. Tolong aku Yan…., tolong sayang …., suruh mereka kembalikan semuanya, ini sakit sayang, tolong aku sayang…!Yaan…, Yantii….. 

(TANGISAN JAIMAN MASIH PILU. DI ANTARA TANGISAN IA TERUS MEMANGGIL NAMA YANTI. DI UJUNG-UJUNGNYA IA MULAI MENGUMPAT. TIBA-TIBA IA MENJERIT KERAS, ADA YANG MEMBETOT KEPALANYA) 


JAIMAN :

huwaa……, apa lagi ini,….kepalaku…., jangan…, jangan ambil kepalaku, aduuhh..,sakit … leherku sakit…., jangan ditarik…., bajingan..! setan kalian….., hentikan……, ohhh…., Yanti…., tolong aku……, suruh mereka berhenti, Yantiii….tolooong….! (ADA YANG MENCEKIK) …Heeghhh….ohhh….hegh…. siapa lagi ini?….haaa….eghh…. k..k..ka..mu…Yan? Ini … kamu…Yanti….?

Kamu nggak nolong aku, malah ikutan nyikat !….Jangan…Yan, tolong aku sayang! Jangan dengan cara seperti ini,. …ini menyiksa, sakiit…Yan….Yanti….jangansayang…., ampun…., ohh…berhenti…, lepaskan….(TARIKAN DI KEPALA SEMAKIN DAHSYAT. TERSERET-SERET PEMBARINGANNYA) Mau kalian bawa kemana kepalaku? Hentikan….sakit ini…., tolooong……. Aku dibantai….toloong…. hentikan semua ini…..sudaahh…. saakiit….goblog…..! (BERUSAHA TERUS MEMBERONTAK. IA KIBAS-KIBASKAN KEPALA, MERONTA-RONTA DENGAN DHASYAT, JAIMAN SEMAKIN TERHIMPIT, DENGAN SISA-SISA SEMANGAT DAN DENGAN SEKUAT TENAGA IA TERUS BERUSAHA LEPAS DARI HIMPITAN DAN BETOTAN, TERIAKAN JAIMAN TERUS MENYALAK KERAS. AKHIRNYA 

IA BERHASIL LOLOS. IA TERLONCAT BERDIRI LALU MENJAUHI PEMBARINGAN DENGAN BERGIDIG)


JAIMAN :

(DALAM BERGIDIG IA MEMERIKSA SELURUH BAGIAN TUBUHNYA DENGAN TELITI, KHAWATIR DAN TEGANG. SETELAH TAHU SEMUA MASIH UTUH IA LEGA. JAIMAN MENGUMPAT HABIS-HABISAN……..) Kapan aku bisa tidur kalau begini terus. Kamu selalu mengganggu. Beri aku kesempatan sekali saja, agar aku bisa tidur nyaman ,sebentar saja. Aku tahu. Kamu masih marah padaku, tapi jangan begitu caranya. Masa aku sudah sembunyi nggak karuan begini masih kamu ganggu. (MENUNJUK KOTAK KAYU DEKIL) Lihat ! ini, ini agar aku bisa tidur nyaman tanpa terganggu. Kamu semakin gila saja, sekarang pakai keroyokan lagi. Aku bisa nggak tahan kalau begini, aku bisa mati. Aku nggak mau mati konyol model begini. Itu mati tak terhormat namanya. Apa lagi ini sudah jauh, masa aku harus lari lebih jauh lagi. Lalu aku harus lari ke mana, sembunyi di mana? (MENEPUK-NEPUK KOTAK) Ini sudah di lubang semut, masih saja kamu kejar. Ini sudah gila! Edan!! Benar-benar keterlaluan! Aku bisa marah besar kalau begini. Aku hancurkan kamu nanti. Jangan sebut nama Jaiman kalau sudah marah besar. Kuburanmu akan aku bongkar, lalu tulang-tulangmu akan aku bakar habis.


JAIMAN :

Selama ini aku masih bisa sabar, sebab kamu tahu kan, aku begitu mencintaimu. Mana tega aku menghabisimu. Toh aku sudah ribuan kali minta maaf. Berapa ribu kali lagi aku harus minta ampun? Ribuan kali sudah aku katakan, aku khilaf saat itu. Aku benar-benar tak punya niat menyakitimu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Sampai mati aku cinta. Jadi, tolong pertimbangkan ini. Aku sudah capek terus-terusan begini, biarkan aku menikmati tidur nyaman seperti dulu lagi.


JAIMAN :

Oke…, katakanlah aku ini jahat. Tetapi aku tak berniat sedikitpun berbuat jahat kepadamu. Katakan saja aku brengsek, bajingan, tak bermoral. Itupun aku dipaksa oleh keadaan. Jadi semua bukan salahku saja. (MENGAMBIL ROKOK DARI SAKU, LALU MEROKOK DENGAN NIKMAT) Pertama kali aku ditempeleng Bapak karena ketahuan merokok sewaktu pulang sekolah. Lalu Bapak mengusirku sewaktu tahu aku menghisap ganja. Dan aku minggat setelah menyikat uang Bapak dan mencuri perhiasan Emak. Aku minggat ke kota. Aku menikmati hidup bebas di jalanan, di terminal-terminal, di stasiun-stasiun, aku terbang seperti burung lepas. Setelah seluruh uangku habis, aku mulai hilang akal sebab perutku kelaparan. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku mulai mengais-ngais tong-tong sampah, memakan sisa-sisa warung dan restoran. Sampai aku ditemukan Mamimu. Oleh Mami aku diberi kerjaan di salah satu restoran milik Mami.

Aku tunjukkan bahwa aku bisa bekerja dan bisa dipercaya. Sebab aku juga bisa dan tahu balas budi. Sampai akhirnya aku jadi sopir pribadi Mami. 


JAIMAN :

(TERBAWA KENANGAN INDAH, IA TERTAWA NGIKIK) Alangkah indahnya hidup saat itu. Aku merasa menjadi laki-laki gagah, mobil bagus, rumah bagus, baju bagus, sepatu bagus, gaji bagus. Semua yang kurasakan adalah kemegahan dan kenikmatan hidup mewah, meski semua bukan milikku sendiri. Dari hari ke hari yang kulihat adalah keindahan: Mamimu yang bahenol, parasmu yang cantik, tubuhmu yang seksi, dan berdekatan denganmu adalah anugerah yang tak kepalang tanggung. Mengantarmu ke sekolah, belanja di Mall, menemanimu di rumah jika Mami ke luar negeri….., (TERINGAT SESUATU) ya….., aku ingat sekarang! (WAJAHNYA BERSERI, MENGACAK-ACAK BEBERAPA TEMPAT,MENCARI SESUATU, KETEMU, LALU DIBAWA KE TEMPAT YANG AGAK TERANG: ) Ini dia, betul, ini! Yaa…, kain ini kamu pakai saat kita berduaan di rumah. Mami ke luar negeri, Tiwuk dan suaminya pulang kampung untuk berlebaran. Kita berdua ngobrol ke sana ke mari sambil nonton tivi. Kamu bersantai di sofa, aku duduk persis depan tivi. Kita bercanda, tertawa-tawa, oh… alangkah cantiknya parasmu, dan tawamu yang merdu.


 

JAIMAN :

Lalu kau bercerita tentang pacarmu si Doni yang brengsek dan penipu itu. Betapa aku terharu ketika melihatmu menangis karena telah ditipu habis-habisan olah Bajingan itu. Aku pun mencoba menghiburmu habis-habisan, hingga kamu mulai bisa tertawa lagi. Alangkah bahagianya aku, melihat senyummu yang mengembang, cintaku kepadamu terasa semakin menggelora. Ingin rasanya memelukmu, menciummu, mencumbumu, hinggsa kau merasa nyaman dan aman di pelukanku. Tetapi saat itu aku tak berani. Sebab aku tahu, kaupun bisa galak segarang singa betina.


JAIMAN : 

Ya, aku ingat. Saat itu kamu keluarkan dua lintingan ganja dan kita menghisapnya bersama-sama. Nikmat…sekali! Kita berdua sama-sama mabok. Kamu matikan tivi, kamu putar lagu, mengajakku berdansa sambil tertawa cekikikan sebab aku tak bisa dansa. Kamu terus memaksaku berdansa sambil ngganja. Yaa…, betapa kakiku gemetaran, dan cintaku semakin membara. Masih lekat di kepalaku, kulitmu yang halus, tubuhmu yang harum, parasmu yang cantik, bibirmu yang mungil, hidungmu, rambutmu yang tergerai. Ohh…, Yantii……., lelaki mana yang tahan dengan semua keindahan itu? Kepalamu bersandar di pundakku, tangan kirimu melingkar di leherku, harum tubuhmu begitu sempurna menggoda jiwaku. Kurasakan tubuhmu mulai lemas, ku peluk dirimu erat-erat. Kehangatan buah dadamu begitu dalam menusuk jantungku. Aku taki tahan, aku tak tahan lagi. Aku bawa tubuhmu ke sofa, kurebahkan tubuhmu perlan-pelan. Aku pandang dirimu dengan mata penuh cinta. Bibirmu yang indah merekah, dadamu yang montok, perutmu yang ramping dan terbuka, dan mulusnya pahamu yang menyembul dari balik kain. Ooo….Yanti…., aku tak tahan …. sayang! Aku elus rambutmu, aku kecup kenigmu dengan segala kelembutan cinta, kucium pipimu kiri-kanan, kulumat bibirmu, kuremas dadamu, kamu diam pasrah. (DIAM SEJENAK, TERTEGUN) Tetapi….., baru saja bibirku hinggap di lehermu yang bening, dan tanganku mengelus lututmu, kamu meloncat bangun. Aku tersentak kaget.


JAIMAN :

Saat itu aku melihat dan sadar, aku telah membangunkan singa tidur. Baru kali itu kulihat kamu benar-benar marah besar. Wajahmu yang elok, menjadi sangat mengerikan. Aku tak tahan menatapmu seperti itu. Betapa aku takut dan kikuk. Takut sekali! Aku dengar sumpah serapah di mulutmu. Lalu kakimu, kakimu, keras sekali menghantam dadaku. Hegh….., sesak sekali, oh…, sakiit… Yanti! (MELOROT JATUH) Kemudian, kau ludahi mukaku, dan terus memakiku sambil menendang-nendang tubuhku. (MENGERANG DAN MENGADUH KARENA TERUS DITENDANG) Tak puas menendangku, kamu ambil tongkat hiasan dinding, kau pukuli aku dengan tongkat itu. Kurasakan seluruh tubuhku remuk dan sakit, sakiiit…sekali! Tapi kamu tak peduli. Tak mau dengar lagi betapa aku menjerit-jerit kesakitan, justru semakin gila saja kau hantam tubuhku habis-habisan. Aku tak tahan lagi, aku benar-benar tak tahan. Aku bangkit, aku rebut tongkat di tanganmu. 

Aku hantam tubuhmu, sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, lima belas kali, entah berapa kali lagi sudah aku hajar tubuhmu, hingga tubuhmu roboh di lantai. Bedebum!!!! Keras sekali. …Ohhh…………(MENANGIS PILU)


JAIMAN :

(DALAM KEPILUAN) Ooo….. sayangku, cintaku, permataku, apa yang telah kuperbuat? Maafkan aku sayang! Aku benar-benar khilaf, sayang! Habis, kamu juga sih. Aku sudah kesakitan dan minta ampun, masih saja kamu hantam. Aku juga manusia, aku bisa marah kalau disakiti terus menerus. Manusia kalau marah bisa lebih buas dari binatang, tahu? (TANGISNYA TERHENTI, MARAHNYA KEMBALI) Jadi aku marah saat itu, besar sekali! Tubuhmu yang terlentang di lantai aku terkam, lalu aku tindih kuat-kuat. Aku cengkeram rambutmu, aku bentur-benturkan kepalamu di lantai. Aku sumpahi kamu habis-habisan:

Perempuan sundal tak tahu diri! Kamu kira kamu bersih? Suci? Bah ! Aku sering lihat kamu sama Doni brengsek itu di sofa sana. Kamu rayu dia, kamu jilati seluruh tubuhnya sambil merintih-rintih, dan dengan suka cita kamu biarkan Doni melumat habis tubuhmu. (SAMBIL MENGHANTAM YANTI HABIS-HABISAN) Kamu Tidak tahu, betapa aku cembutu melihat semua itu! Seharusnya aku yang mrencumbumu, bukan Doni yang anunya kecil itu!!! Bah !! Sundal ! Memalukan !

Kalau cuma itu yang kamu mau, aku lebih hebat dari kunyuk macam dia, tahu !! (SEMAKIN MARAH, TUBUH YANTI DIGUNCANG KERAS-KERAS) Kamu saja yang tak tahu diuntung. Akulah laki-laki yang benar-benar mencintaimu, bukan si Doni. Dia itu cuma tampangnya saja yang oke, duwitnya oke, tapi soal begituan dia itu cuma kelas kadal! Doni itu maling, laki-laki bajingaan, lebih bajingan dari aku. Akan aku buktikan (MENDEKAP KEMALUAN) iniku lebih hebat dari Doni !!


JAIMAN : 

Aku benar-benar marah saat itu, marah besar padamu. Aku buka kain di pinggangmu, lalu…… (NGAKAK DIA) ..ha…haa….ha…aha…haaa… kejutan apa lagi ini?…haa.. ha…haaa…. Ini lebih mudah dari yang kukira. Nggak punya celana dalam ya ?! Haaa..haa…haaaa…..! (MEMBAWA TUBUH YANTI KE SOFA, MENUBRUKNYA, TERUS DIGOYANG ) Nih, rasakan ! Ayo rasakan baik-baik, biar kamu tahu. Si Soni itu kelas kadaall…! Rasakan, biar kamu tahu kenapa Mamimu selalu merengek-rengek kepadaku tiap ada kesempatan. Biar kamu tahu kenapa Mami selalu ketagihan padaku! Otakmu saja yang kacau, dan mulutmu itu ……. (MENGHANTAM MULUT YANTI HABIS-HABISAN) …dasar mulut sundal,…busuk…. menjijikkan, mulutmu pantas menerima ini….. (MENGEPAL KERAS KERAS, DIHANTAMKAN KE MULUT YANTI BERTUBI-TUBI. SETELAH PUAS JAIMAN MENGGOYANG LAGI, KALI INI SEMAKIN GILA)

Kamu kira aku ini apa? Sudah aku bilang berkali-kali, aku ini anak juragan ! Cuma, bapakku juragan kerupuk, juragan tembakau, juragan kayu, juragan becak, juragan beras. Dan mamimu, juragan salon, juragan restoran, juragan hotel, juragan peragawati, juragan pelacur! Bapakku di desa, mamimu di kota. Apa bedanya? 

(GOYANGAN JAIMAN SEMAKIN MENGHEBAT) Jadi kita pantas kawin ! Kita sama-sama anak juragan, sama-sama anak orang kaya. Coba pandang bapakku, jangan pandang aku yang jongos ini!


GOYANGAN JAIMAN SEMAKIN DAHSYAT. IA BERTERIAK-TERIAK ANTARA MARAH DAN NIKMAT. LALU MENGEJANG, SEJENAK, KEMUDIAN ROBOH LUNGLAI. NAPASNYA TERENGAH-ENGAH, MERINTIH-RINTIH, MENANGIS TERISAK-ISAK TAPI AIRAMATANYA HABIS, MEMANGGIL-MANGGIL NAMA YANTI


JAIMAN : 

(TERCENUNG). Setelah itu…, aku bingung. Aku panik, otakku kacau. Yang aku tahu, aku harus pergi, pergi sejauh-jauhnya. (MENYAMBAR KAIN) Aku ambil kain ini, aku peluk erat-erat, aku menangis. Aku tinggalkan kamu sendirian. (MENGAMBIL SEBOTOL MINUMAN KERAS, LALU IA TENGGAK DENGAN GAYANYA YANG KHAS) Aku bawa kain ini ke mana pun aku pergi. Agar aku tetap mengenangmu. Agar cintaku kepadamu terus menggelora. Dengan ini, bisa aku rasakan kehadiranmu di sisiku. Aku sadar aku tak mungkin lagi kembali di sisimu. Koran-koran mengabarkan kematianmu yang tragis, mereka tulis besar-besar. Orang-orang ramai membicarakan sebulan penuh. Aku jadi orang pelarian, aku diburu polisi. Bertahun-tahun aku sembunyi, lari berpindah-pindah. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu kota ke kota yang lain. 


JAIMAN :

Aku kembali menjadi orang yang terhempas dan terbuang. Aku harus mencuri, menjambret orang di jalanan, agar bisa bertahan hidup. Aku tak mungkin lagi menjadi orang baik-baik. Lalu aku mulai merampok, Polisi semakin geregetan, aku terus diburu. Aku pontang-panting menghindari serbuan mereka. Lalu aku mulai jadi pembunuh. Sudah banyak yang aku bunuh. Terutama perempuan-perempuan sundal itu, sebab mereka pantas mati, mereka brengsek dan menjijikkan. Tetapi kamu lain, aku begitu kagum padamu, aku terpesona padamu. Kamu adalah keindahan segala bidadari. Kamu tak pantas mati (SEDIH SEKALI DIA) 


 

 

 

 

JAIMAN :

Yanti…, sayangku…, aku cinta padamu, sampai mati aku cinta. Jadi, tolong pertimbangkan ini. Jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan ikut-ikutan memburuku kaya polisi-polisi sinting itu. Beri aku kesempatan tidur barang sejenak. Masa aku nggak boleh tidur. 

Di hotel tidurku tak nyenyak, di tempat pelacur kamu buru, di kolong jembatan kamu kejar juga, di mana-mana kamu sikat, sampai-sampai tidur kaya tikus (MENUNJUK KOTAK) masih saja diserbu. Edan, ini sudah kelewatan. Aku nggak bisa terima ini, aku bisa gila. Ini harus dihentikan, harus! Sekarang juga, kapan lagi kalau tidak sekarang! (MENYAMBAR KAIN, LALU DIIKAT SEKENANYA. MENYAMBAR MOTOR, KABUR DIA)

MALAM MASIH PEKAT, ANGIN KEMARAU BERHEMBUS PERLAHAN. DAN KOTA KECIL ITU MASIH TERTIDUR PULAS. JALAN LENGANG, JAIMAN MELARIKAN MOTOR SEOLAH KESETANAN. DI SELA-SELA TARIKAN GAS, IA TENGGAK MINUMAN. HINGGA TAK TERASA BOTOL PUN SUDAH KOSONG. IA LEMPAR BOTOL SEKENANYA SAMBIL MENGUMPAT. IA TERUS MELAJU MENERBANGKAN MOTORNYA DI JALANAN BERASPAL.

JAIMAN :

( BERTERIAK) Jaimaann…., mau kemana kau…?

JAIMAN TERUS TANCAP, MATANYA MELOTOT KE ARAH JALAN DI DEPANNYA

.
JAIMAN :

Maann…. ! Berhenti…., Maan….! Kamu mau ke mana? Jalan masih terlalu gelap, jangan ngebut. Berbahaya !! Jaimaann….. dengar aku, maann….! Kamu bisa mampus ngebut begini!


JAIMAN :

(TERUS TANCAP GAS) Biar…! Aku tak peduli. Jaiman nggak gampang mampus, tahu? (SEMBARI NGAKAK) ……ayo…sayang, kejar aku kalau bisa. (CELINGUKAN) Ayo…Yanti, di mana kamu? Kejar aku sekarang! (NGAKAK LAGI)


JAIMAN :

Jaiman…., jangan bego kamu! Tak ada yang mengejarmu! Jalanan masih sepi, lihat sendiri baik-baik. Nggak ada orang lain, semua masih pada tidur. Jangan gila kamu!


JAIMAN : 

(SEMAKIN GILA, MAKIN TERBANG MOTORNYA) Diaam….brengsek! Jangan berisik, mengganggu saja! Mau ngebut, mau enggak, itu urusanku! Tak ada yang boleh melarangku! Ini sudah kepalang tanggung, aku nggak mau berhenti!


JAIMAN : 

Ayolah…Man…, pikir sedikit! Jalan masih terlalu gelap, bahaya….! Berhenti…,Man! Tunggu terang sedikit kenapa sih? Ingat, Maan…, ini motor barusan kamu embat sore tadi. Belum jelas gacoannya. Bensinnya, Man, sedikit apa banyak? Berhenti, Man..!! Lihat businya, masih bagus apa enggak? Teliti dulu, jangan main tancap begini! Bannya masih oke enggak? ….Awas, Man…! Itu tikungan di depan…! ….Awaas…..hati-hati………


JAIMAN : 

(SAMBIL MELEWATI TIKUNGAN DENGAN MULUS) Cerewet amat! Sudah kubilang diiaaammm….! Soal tikungan, Jaiman jagonya. Ini motor bagus, goblog! Mana mau aku ngembat kalau nggak bagus. Jaiman bukan maling belekan! (MENIKUNG LAGI DENGAN MULUS) Lihat! Yang barusan kamu lihat enggak? 


JAIMAN :

Iya…iya! Percaya! Tapi dengarkan aku….! Kamu lagi mabok, Maan…! Otakmu lagi nggak normal. Kontrolmu masih kacau. Kamu bisa ditabrak kereta api! Sekilo lagi persimpangan kereta, Man…!


JAIMAN :

Jangan ngaco kamu, Jaiman hapal jalur ini! Persimpangan masih sepuluh kilo lagi! Dan Ini belum jam kereta lewat. Nanti, habis subuh, gobloog…!(MELEWATI GUNDUKAN, MOTOR JAIMAN LOMPAT DAN MENDARAT DENGAN MULUS. JAIMAN TERLIHAT GEMBIRA) Huu…..hu..! haa…haa….ha…, lihat sendiri loncatannya, ini motor bagus, haa…ha…..haaa……..


JAIMAN :

Jangan main gila, Man..! pelan sedikit kenapa sih? Tadi barusan kamu kentut-kentut, kamu masuk angin. Kamu sakit, Man…! Pertigaan depan belok kiri, mampir ke warung si Susi, mintalah kerikan dulu sama dia! 


JAIMAN : 

(MENGUMPAT KASAR) Jaiman bukan orang cengeng! Brengsek kamu! Persetan! Jangan banyak bacot! Sudah aku bilang, soal motor Jaiman jagoannya! Biar sakit sampar sekalipun Jaiman tetap jago. Ini belum seberapa, lihat, akan kutancap sampai penuh. (DITARIKNYA GAS, KALI INI DENGAN KECEPATAN PENUH) 


JAIMAN :

Maan…, jangaan…., jangan main api, bahaya….! Gila, edan kamu! Pikir waras-waras, kamu tak punya tujuan! Ini sia-sia !! Lebih baik kamu tidur!


JAIMAN :

Siapa bilang tak punya tujuan. Aku mau bongkar kuburan Yanti. Aku mau buat perhitungan sama dia. Justru agar aku bisa tidur! Dia sikat aku habis-habisan tiap hari. Aku akan balas semuanya. Biar adil! Percuma aku mencintainya, ia lempar cintaku ke lubang tahi. Aku sakit hati sekarang. Akan kubalas dia, akan aku balaas!


JAIMAN :

Kamu sudah tak waras, Man! Kuburan Yanti itu diseberang sana, delapan ratus kilo dari sini. Nyebrang laut lagi. Naik pesawat biar cepat, jual motor ini buat ongkos!


JAIMAN :

Ini kota kecil, goblog! Kamu pikir bisa naik pesawat dari sini? Kamu pikir kepalaku ini tumpul? Aku ngebut ini juga mau ke bandara! Mau naik pesawat! 

JAIMAN :

Jangan, Man! Jangan naik pesawat, nanti kamu bisa ditangkap! Kabarnya buron kaya kamu banyak ditangkap di bandara.


JAIMAN : 

(MENGUMPAT JENGKEL) Tadi bilang suruh naik pesawat, sekarang lain. Bah ! Persetan dengan kamu! Naik apa kek, aku tak peduli. Pokoknya aku harus bongkar kuburan sundal itu! (MARAH BESAR, MOTORNYA DIGEBER PADA PUNCAK KECEPATAN) 


JAIMAN : 

Man…, Lihaat! Di depan sana! Lihat, Man !! Ada apa itu, Maan! Ada yang bergerak-gerak di tengah jalan sana. Itu, ramai sekali orangnya! Hati-hati, kurangi kecepatan! Berhenti dulu, lihat dulu. Itu, Awaas…! Mereka di tengah jalan, sepertinya mereka membongkar jalan. (MEMELOTOTKAN MATA, MELIHAT BAIK-BAIK) Mumpung masih agak jauh, kurangi kecepatan! Lihat dulu, lihat itu mereka, mereka makin banyak! Itu, ya, agak jelas sekarang, gila…! Berhenti, Maan…! Jalan ini dibuntu sama mereka. Ayo, dengar aku! Hentikan! Balik saja! Cepat, balik Maan…! Mereka pasti polisi. Mereka menghadangmu Man! Lihat mobil mereka! Lihat motor mereka! Tidak salah lagi! Ayo, Maan…., balik…., selamatkan diri kamu…! Jangan gila kamu! 

JAIMAN :

Balik, Maaann….! Mereka polisi betulan, ya, sudah jelas sekarang! Balik! Ini sudah terlalu dekat! Kamu dikepung, Maann…! Jaiman…., jangan gila, berhenti, masih ada kesempatan, Man…., dengar aku, ini sudah terlalu dekat, berhenti……, berhenti……, Jaiman……, cepat berhenti, awaas….. Maan…., Jaiman……...., Jaimaann…………


(JAIMAN TERUS TANCAP. SEMENTARA YANG MENGHADANG TERLALU DEKAT. JALANAN MASIH GELAP. JAIMAN SEMAKIN TERBANG, SEMAKIN GILA. TIBA-TIBA SEMUA CAHAYA MENERPA JAIMAN, JAIMAN KELABAKAN. KEMUDIAN SEMUA KEMBALI GELAP SEKETIKA.


Bojonegoro, Oktober 2000
Siswo Nurwahyudi

Naskah ini diangkat dari syair lagu karya grass roots Bojonegoro yang berjudul : "Jaiman"



Support/donasi/dukungan :
https://saweria.co/SiswoNurwahyudi