NASKAH DRAMA MONOLOG
Siswo Nurwahyudi
I.
ANAK
REVOLUSI
FADE IN : SUARA KERETA API LEWAT.
MENDENGAR SUARA KERETA, TOKOH KITA YANG SEDARI TADI BERMAIN KERETA API MAINAN
BERHENTI SEJENAK. KEPALANYA MENOLEH KE ARAH SUARA KERETA API DAN MENGIKUTINYA
SAMPAI SUARA KERETA ITU MENGHILANG. KEMUDIAN KEMBALI MELANJUTKAN BERMAINNYA.
KERETA TERDENGAR LEWAT KEMBALI DARI ARAH BERLAWANAN, TOKOH KITA PUN BERHENTI
DAN KEPALANYA KEMBALI MENGIKUTI ARAH SUARA KERETA HINGGA SUARA ITU MENGHILANG.
BERHENTI BERMAIN – BERDIRI – MENGAMBIL KURK - BERJALAN KE TEPI TERALIS – BERJINJIT DI ATAS KURSI MEMANDANG KELUAR -
TURUN – DUDUK DENGAN SANTAI.
01)
Kereta
sekarang benar-benar melaju jauh lebih cepat. Kebanyakan orang sekarang senang
dengan yang serba cepat. Dunia seakan hendak mereka putar lebih kencang. Tak
ayal jika banyak orang tidak percaya ketika bercermin, terkejut, betapa raga
tiba-tiba lebih cepat menua daripada hasrat dan keinginan-keinginannya. Banyak
keinginan-keinginan yang masih menggantung di angan-angan, tetapi di depan
cermin ia meragukan kesanggupan usianya. Dan selepas dari cermin, ia bergegas
memutar dunianya lebih cepat lagi, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi.
Begitulah.
02) Mereka
tidak menyadari, bahwa dunia memiliki aturan waktu sendiri sesuai kehendak si
pemilik waktu. Percayalah, nafsu untuk menggiling waktu secepat kau ingin tanpa
perhitungan yang matang adalah bibit awal bencana bagi hidupmu. Apalagi jikalau
kamu hanya mengandalkan perhitungan kasat mata, hitung mundur dari bencana
sudah sangat dekat. Yang bisa memutus sumbunya hanya kesadaran dan kesabaran.
03) Kesabaran
akan memberi kekuatan, semakin sabar akan semakin kuat. Kesadaran akan memberi
jalan lapang menuju tujuan, semakin tinggi kesadaran akan semakin terang. Saya
bisa berkata, sebab saya sudah menemukan jawaban soal ini dari sejarah hidup
saya sendiri. Juga dari tragedi sejarah Partai di mana saya ikut berdarah-darah
berkorban jiwa raga.
04)
Secara
kasat mata, dulu Partai kami sangat patut diperhitungkan. Pendek kata, Partai
yang memiliki segalanya. Struktur yang mapan. Ketersediaan dana yang memadai.
Sistemnya berjalan sangat baik. Kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi.
Pengikut yang besar dan tersebar merata hampir di setiap jengkal tanah pertiwi.
Apalagi soal militansi, tidak perlu diragukan lagi. Satu-satunya yang belum di
tangan kami hanyalah puncak kekuasaan tertinggi. Kurang apa coba? Nyatanya?
Hancur-lebur seperti telur ayam yang jatuh dari ujung tanduk kemudian
diinjak-injak kaki gajah hingga lumat sama sekali.
05)
Sebabnya
hanya satu faktor sepele saja, yaitu melawan kehendak sang waktu. Kata pepatah
Jawa : “anggege mangsa, nilar grahita, pepes wekasane”. Karena terburu-buru
merebut puncak kekuasaan yang sebenarnya tinggal menanti waktu di depan mata,
akal sehat dikesampingkan. Akibatnya? Ah, semua orang sudah tahu akhirnya.
Pepes wekasane. Habis tumpas tinggal ampas penyesalan yang tak pantas
disesalkan lagi.
06) (BANGKIT
DARI DUDUK, MELANGKAH SATU-SATU) Tentang kesabaran. Sejak kecil saya sudah
dilatih untuk bersabar. Bagaimana tidak, saya lahir dari keluarga petani
miskin. Kehidupan yang jauh dari rasa mulia. Pada masa itu petani miskin
seperti kami, hanya punya kesabaran saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Tanah
penghidupan kami yang luasnya tidak seberapa itu adalah lumbung perahan bagi
penguasa dengan sistem ‘contingenten’ atau pajak hasil bumi yang dipungut dari
hasil panen petani. Besarannya saya tidak ingat, tetapi saya mendengar Bapak
sering mengeluh soal bersaran ‘beras contingenten’ yang harus diserahkan kepada
Mantri Tondo. Mantri Tondo bukanlah nama, tetapi jabatan seorang mantri pungut
pajak yang rutin datang ke setiap desa naik kuda dan membawa ‘cikar’ untuk
menganggkut hasil pungut dari pajak hasil bumi. Itu yang masih saya ingat sampai
sekarang.
07) Saya
memiliki satu kakak perempuan bernama ‘Rah’ atau Mirah dan satu adik perempuan
bernama Wening. Saya sendiri dipanggil ‘Poet’ panggilan singkat dari ‘Poetro’.
Orang Jawa bilang kami tiga bersaudara ‘pancuran kapit sendang’, dan harus ‘diruwat’
menurut aturan adat Jawa agar bisa membuang ‘sukerta’. Karena keterbatasan
ekonomi keluarga, bapak tidak mampu menyelenggarakan upacara ‘ruwatan’
sebagaimana seharusnya.
08)
Oleh
Bapak, kami anak-anak bertiga cukup dibawa ke rumah seorang ‘dalang’ ruwat di
desa tetangga dengan ‘sesaji’ dan ‘uba-rampe’ seadanya saja untuk sekedar
melunasi syarat supaya bisa diruwat. Di rumah ‘dalang ruwat’ dilakukan tatacara
ruwatan sesuai urut-urutan dan dibacakan mantra-mantra. Kemudian di ‘gebyag’
pergelaran padat lakon wayang ‘Murwakala’ sekitar satu atau dua jam saja. Kalau
pergelaran penuh bayarnya mahal, Bapak tidak sanggup. Tidak sembarang ‘dalang’
merupakan ‘dalang ruwat’, harus orang yang sudah menerima ‘pulung’ tertentu.
09) Di
tengah pergelaran wayang Murwakala itu saya jatuh pingsan. Menurut cerita Bapak
sewaktu pingsan, tokoh ‘Batharakala’ sedang ada di tangan dalang. Terus secara
tidak sadar, kata Bapak, dengan watak suara Batharakala dalang menyuruh aku
dibawa naik kereta api dan ‘dipilis langes’ kereta api. Tiga hari kemudian saya
dibawa Bapak ke Stasiun, diajak naik kereta api melunasi apa yang diucapkan
Batharakala.
10) (DUDUK
DI BANGKU PANJANG) Di dalam gerbong kereta itu ada seorang
bapak-bapak berbaju batik senyam-senyum melihat kening, hidung, pipi, dan dagu
saya dicoreng ‘langes’ atau jelaga yang diambil dari badan lokomotif. Bapak itu
kemudian bercakap-cakap dengan Bapak saya. Bapak itu bilang : “Maaf Pak saya
mengerti, sebagai orang tua pasti ingin anak-anaknya selamat hidupnya di dunia.
Tetapi dengan cara ‘ruwatan’ itu bapak sudah melakukan kesalahan. Bapak jangan
marah dulu, nanti sampai stasiun tujuan saya ajak Bapak dan anak Bapak mampir
di rumah saya. Bapak berdua bisa menginap di rumah saya, dan kembali besok
dengan kereta pagi. Saya harap Bapak tidak menolak, kasihan anak Bapak kalau
harus tidur di stasiun”.
11)
Bapak
saya bersedia memenuhi tawaran baik itu. Jadilah kami menginap barang semalam
di sana. Entah apa yang mereka bicarakan semalam, esok paginya saya diberi
kabar kalau saya akan diantar kembali ke rumah itu seminggu kemudian.
Alasannya, saya akan dipungut anak dan akan disekolahkan di sana. Saya kaget
sekaligus gembira, bisa sekolah adalah salah satu impian saya waktu itu. Saya
hanya bisa mengangguk kecil, tetapi rupanya itu sudah cukup memberi jawaban
kepada mereka.
12)
Ah
yaa…, ada yang terlewat. Seusai ‘diruwat’ telah ditambahkan satu kata pada nama
saya : ‘Soeryo’. Jadilah nama lengkap saya menjadi : ‘Soeryo Poetro’. Artinya
‘Anak Matahari. Panggilan saya di keluarga tetap ‘Poet’, tidak berubah. Tetapi
di tempat baru, di kota di mana kemudian saya tinggal dan bersekolah, saya
dipanggil ‘Soeryo’ atau ‘Soer’ saja. Bapakku yang baru seorang ‘Priyayi’ yang
terpelajar. Pengusaha batik yang sibuk, jadi jarang sekali di diam rumah. Ibu
bercerita, “Soer, tujuan kami memungut kamu itu supaya di rumah ini ada anak
yang menemani ibu. Bapak lebih sering keluar kota mengurus dagangan batik. Kamu
jangan risau, ibu senang kamu sekarang ada di sini. Sudah empat belas tahun
kami kawin tapi belum punya ‘momongan’. Kami akan sekolahkan kamu sampai jadi
orang pinter. Ibu janji pada kamu”.
13) ‘Soeryo
Poetro’ namaku. Saya senang dengan nama saya, identik dengan tokoh pewayangan :
‘Adipati Karna’ yang juga dinamai ‘Surya Putra’, kesatria agung putra dari
‘Bathara Surya’ atau sang ‘Dewa Matahari’.
14) Saya
dengar sang Pemimpin Besar Revolusi kita juga sangat terobsesi dengan karakter
kesatria ‘Karna’ sang putra ‘Bathara Surya’. Beliau merubah namanya dari Kusno
menjadi Soekarno. Ha…ha…ha…ha…ha… Aku harus bisa seperti Soekarno, Pemimpin
Besar Revolusi. Begitulah cita-citaku masa itu. Masa di mana Revolusi sedang
bergelora di setiap dada para pemuda. Begitu pula saya : ‘Soeryo Poetro’, si
anak Revolusi.
~ BLACK OUT ~
II.
MATAHARI
DAN REMBULAN
FADE IN : KIRI BELAKANG PANGGUNG.
TOKOH KITA BERDIRI DI ATAS KURSI. KEDUA TANGANNYA MEMEGANG KURK LAYAKNYA SEBUAH
BEDIL.
15) Inilah
saya, Wira Irawan. Saya dahulu adalah seorang Mayor Tentara. Jabatan terakhir, Perwira
Seksi Inteligen di Bataliyon ternama di ibu kota. Aku memulai karirku di
militer dalam perjuangan bersenjata dengan pangkat Letnan. Kemudian dinaikkan
menjadi Kapten sebagai Komandan menghadapi Agresi Militer Belanda. Saya turut
memimpin barisan Long March dari Yogyakarta menuju Jawa Barat. Pasukanku sukses
memasuki tanah Priangan lebih cepat dari rombongan pasukan yang lainnya.
16) Tugas
berat pertama di tanah Priangan yang harus saya emban bersama pasukan saya
adalah menumpas pemberontakan kaum kanan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Dan
pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil pimpinan Westerling yang mendirikan
negara Pasundan. Dua tugas yang sangat melelahkan, sebab selain bertempur
dengan para pemberontak, kami juga harus berhadapan dengan serangan-serangan
tentara Belanda.
17)
Mudah
sekali anda bayangkan, orang seperti apa saya pada masa itu. Misi yang sangat
sulit untuk dijalankan. Betapa tidak? Saya adalah loyalis Partai yang
berseberangan 180 derajat dengan ideologi kesatuan Angkatan Darat dimana saya
adalah adalah perwira menengah yang memimpin satu regu inteligen. Komandan
Bataliyon dan perwira-perwira lain di sekelilingku sudah pasti adalah musuh
Partai. Dan tugas saya di sana adalah menghimpun informasi akurat
sebanyak-banyaknya tentang gerakan politik Angkatan Darat untuk saya kirimkan
secara rahasia kepada Partai.
18) Saya
mengirimkan semua informasi melalui kawan Entin sebagai atasan saya langsung di
Badan Rahasia Partai. Anda mungkin bertanya-tanya, siapakah sebenarnya kawan
Entin. Ha…ha…ha…ha……. Saya punya cerita Panjang tentang kawan Entin yang tidak
mungkin bisa saya lupakan begitu saja. Kami berjumpa di satu sekolah di tanah
seberang. Tanah di mana keluarga saya dihukum buang oleh pemerintah Belanda bersama-sama
dengan para tokoh pergerakan. Bapak yang saya kenal sebagai pengusaha batik
ternyata merupakan salah satu aktivis pergerakan.
19) Di
tanah buangan itu juga, lahir kedua adik saya. Kelahiran anak-anak yang selama
ini diimpikan Bapak dan Ibu akhirnya datang juga. Kami menyambut bahagia, kini
aku punya dua adik perempuan lagi dari orang tua angkat yang begitu mengasihi
saya meski sudah hadir dua buah hati dari rahim sendiri.
20)
Kembali
ke kawan Entin. Saya berjumpa dengannya ketika kami masih sangat muda. Saya
lebih suka memanggil dia dengan nama ‘Rembulan Merah’. Gadis lincah dan cantik
dengan pipi yang merona kemerahan. Sangat cocok disandingkan dengan nama
“Soeryo’ yang artinya Matahari. Ya, saya dan dia : Matahari dan Rembulan. Sudah
sangat romantik pada masa-masa itu. Rembulan Merah, bagiku dia adalah gadis
yang istimewa. Gadis yang suka menari dan menyanyi di saat bulan sedang
purnama. Ha…ha…ha…ha…….
TOKOH KITA KEGIRANGAN. DI ATAS KURSI
MENARI DAN TERUS TERTAWA. IA GUNAKAN KURK DI TANGANNYA SEBAGAI GADIS PASANGAN
MENARINYA.
21) Tidak
pernah saya rasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang sama seperti masa-masa
menari bersama Rembulan Merah. Ha…ha…ha…ha…… Malam-malam purnama terindah
sepanjang hidupku. Ha…ha…ha…ha… Sebab setelahnya tak pernah ada lagi Rembulan
Merah yang menari. (TARIANNYA MELAMBAT HINGGA BERHENTI, WAJAHNYA MURUNG) Ya, Rembulan Merah satu-satunya gadis yang
saya cintai. Sayang, Partai tidak mengijinkan saya untuk menikahinya. Sampai
sekarang perasaan itu masih saya pendam. (BERTERIAK) Rembulan Merah…… Tidak tahukah kamu? Saya cinta
kamuuu……!!
( ~
BLACK OUT ~)
III.
MATAHARI
BURAM
FADE IN : ~ SLHUET LIGHT STAGE ~
SUARA KERETA API. TOKOH KITA BERGULING-GULING DAN MERAYAP-RAYAP DI GELAP MALAM.
BERSEMBUNYI DAN MENGAMATI KEADAAN SEKITAR DENGAN SEKSAMA. SUARA KERETA
MENGHILANG. HENING BEBERAPA SAAT, HANYA SUARA TARIKAN DAN HEMBUSAN NAPAS TOKOH
KITA YANG TERDENGAR SANGAT BERAT.
TOKOH KITA MERAYAP LAGI. SESEKALI
HENDAK BERDIRI BERJALAN, TETAPI TULANG KAKINYA YANG PATAH MEMBUATNYA TERHEMPAS
KAMBALI. ERANGAN BERPACU DENGAN NAPASNYA. LALU LENYAP DITELAN GELAPNYA MALAM.
~ FADE OUT ~
SPOTLIGHT FADE IN : KANAN BELAKANG
PANGGUNG, REMBULAN MERAH BERDIRI DI ATAS KURSI MENARIKAN TARI PIRING.
MENYUSUL KEMUDIAN ~ SPOTLIGHT FADE IN
~ KIRI DEPAN PANGGUNG, TOKOH KITA BERDIRI MEMANDANG BULAN PURNAMA.
22) Setiap
purnama tiba, di pelataran ini saya selalu merindukan Rembulan Merah sedang
menari-nari di sana. Tariannya yang gemulai, senyum yang selalu mengembang, dan
rona merah di pipinya. Di sini, membayangkan kamu sekarang menjadi Puteri Bulan
yang pernah kamu dongengkan dulu. Ya, jika boleh saya berharap, kamu sekarang sedang
menari di bulan sana sebagai Puteri Bulan. Dan di malam-malam purnama saya akan
selalu menantimu turun menjumpai saya di sini. Rembulan Merah, Jujur saja saya
lebih suka memanggilmu begitu daripada panggilan ‘Kawan Entin’. Nama ‘Rembulan
Merah’ lebih pantas kau sandang, bahkan jika dibanding dengan nama asli
pemberian orang tuamu. (TERTUNDUK, MENANGIS) Oh…, Rembulan merahku yang malang.
SEIRING TANGIS TOKOH KITA, PERLAHAN
LIGHT SPOT PADA PENARI PIRING FADE OUT. TOKOH KITA TAMPAK SANGAT GELISAH,
SEPERTI BINGUNG HENDAK APA SAAT ITU. AKHIRNYA TERDUDUK DI KURSI TEMPAT PENARI
TADI. ~ SPOTLIGHT FADE INI ~ TOKOH KITA TERKULAI.
23) Andai
kamu tidak menyusul saya dan mengajak lari dulu itu, mungkin kamu tidak akan
tertangkap. Namamu aman, tidak masuk dalam barisan daftar orang yang
dicari-cari para tantara. Tetapi kamu ‘ngeyel’ tidak mau mendengar saran saya
untuk tetap tenang di villa itu. “Menyelamatkan anak buahku sudah menjadi
tangung jawabku. Ini perintahku atas nama Partai”, katamu. Kalau sudah seperti
itu perintahmu, saya bisa apa? Tetapi itu bodoh dan konyol sekali. Kamu
harusnya percaya pada saya, kalau saya mampu menyembunyikan diri saya sendiri.
Ingat kata saya dulu? Hanya saya berempat yang ada di daftar mereka, kamu
tidak. Jadi mestinya saya yang ditangkap, bukan kamu.
24)
Mungkin
kamu tidak pernah tahu sekarang saya ada di mana. Mungkin kamu sudah mengira
saya mampus digilas roda-roda kereta malam itu. (TERTAWA KECIL MENGEJEK)
Xiixixi…xixixi… tidak semudah itu? Masih kuat dalam ingatanku, malam itu
aku dorong kamu pada saat yang tepat sambil saya tarik tangan orang yang
memegangiku menggantikan kita di tengah rel. saya melompat keluar, sayang satu
kakiku tersambar ujung besi lokomotif. Saya terpental dengan tulang kaki patah.
Tetapi masih hidup dan tetap sadar keadaan. Mungkin kamu mengira tubuh malang
yang hancur itu tubuhku
25)
Bukan
saya yang sebenarnya pintar, tetapi merekalah yang bodoh membiarkan tangan kita
berdua tidak diikat. Tentu Rembulan Merah masih ingat, hanya satu orang yang
menjaga dan memegangimu. Orang itu lari terbirit-birit mendengar suara tubuh
manusia digilas roda-roda kereta. Saya mengira orang itu pasti juga
terkencing-kencing dicelana. Ha…ha…ha……
26)
Selebihnya
semua yang berjumlah puluhan itu bergerombol berada di seberang. saya bisa
melihat semuanya dari tempatku terjatuh. Saya segera menggunakan kesempatan itu
untuk merayap dan bersembunyi. Dari tempatku sembunyi, remang-remang saya masih
bisa melihatmu di bawa kembali ke arah stasiun. Tidak ada yang mencoba
menyelidik siapa orang yang sebenarnya mampus terlindas kereta malam naas itu.
Mungkin juga mereka semua mengira sayalah yang mampus. Ah, sukurlah malam gelap
berkabut telah membutakan mata mereka. Sehingga saya dapat leluasa menyelinap
di balik malam menyelamatkan diri ke seberang kali dan mencari tempat sembunyi
yang aman dan jauh dari perkampungan.
27) Bekal
bertahan hidup yang kita pelajari dulu itu sangat-sangat berguna pada saat-saat
seperti itu. Ha…ha…ha…ha…….. Betapa Partai sudah menyiapkan bekal bagi kita
lebih dari cukup. Dengan berbagai jurus, toh akhirnya saya bisa hidup sampai
sekarang. Hidup nyaman, dan menjadi orang terhormat. Kok bisa? Ha…ha…ha…ha………
28) Pada
saat pelarianku, tidak sengaja aku menemukan sebuah tanda pengenal yang sudah
lusuh dengan pas foto yang sudah kurang jelas wajahnya. Di sana tertulis nama
‘Bagaskoro’ maka jadilah saya sebagaimana nama yang tertulis di surat itu.
Ha…ha…ha…ha… sebuah kebetulan yang luar biasa. Aku merasa sangat beruntung.
Bagaimana tidak? ‘Bagaskoro’ adalah nama lain dari ‘Soeryo’ dalam kamus Bahasa
Jawa, sama-sama berarti Matahari. Sama artinya dengan nama baptisku dari dalang
ruwat : ‘Soeryo’ dan ‘Bagaskoro’. Ha…ha…ha…ha…….. Jadi sekarang namaku masih
sama : ‘Matahari’. Ha…ha…ha…ha……….
29) (TERTAWANYA
BERHENTI MENDADAK) Oh, maaf. Saya tidak bermaksud merayakan
kemalangan yang menimpamu. Saya hanya merasa geli saja. Tentu saya sangat
peduli padamu Rembulan Merahku. (BANGKIT DARI DUDUK) Saya terus mencari kabar tentang kamu. Saya
mendapatkan informasi yang bisa dipercaya, malam itu kamu diselamatkan oleh
regu tentara dari ancaman amuk orang-orang yang menangkap kita. Kamu dikirim ke
tahanan militer. Saya sedikit lega, meskipun agak was-was juga. Jadi saya masih
peduli padamu, tetapi dengan keadaanku dalam pelarian. Saya bisa apa?
30) Oh
iya, masih ada cerita lain pada masa itu. (BERSEMANGAT) Ketika saya mencoba memastikan di mana kamu
dipindahkan dari tempat pertama kamu ditahan. Coba tebak, apa yang saya lihat?
Mau tahu? Saya lihat Tjung. Iya, bener, sumpah mati saya lihat Tjung. Anak itu
sudah tumbuh besar, gagah, tampan, dan berpakaian bagus. Sungguh, saya tidak
mungkin ‘pangling’ dengan anak itu. Tjung dengan tenang menghampiri dua tentara
bersenjata yang berjaga di depan gerbang penjara barumu sana. Sepertinya lagak-lagunya
tidak ada takut-takutnya sama sekali. Sangat biiaaasaaaa… sekali. Sama sekali
tidak tampak raut wajah ragu ataupun takut pada dirinya. Padahal kalau sampai
ketahuan dia adalah orang Partai, nasibnya akan berakhir di penjara. Wah… Saya
kagum pada Tjung saat itu. Pemberani dia.
31) Saya
terus perhatikan dia. Tjung bercakap-cakap dengan dua tentara itu beberapa
menit. Kemudian tampak kecewa, lalu pergi. Jalan kaki saja dia, berkali-kali
kakinya menendangi kerikil kuat-kuat ke arah jalanan. Satu kerikil hampir saja
mengenaiku. Ingin sekali saya datangi Tjung, memeluknya, saya kangen padanya.
Tetapi tidak mungkin, itu akan membahayakan Tjung. Ah, biarlah rasa kangen ini saya
pendam saja asal semua selamat.
32) Di
sana saya menyimpulkan, bahwa Tjung juga tahu kabarmu dan dia mencarimu seperti
halnya saya. Ah, kamu memang anak berbakti Tjung. Tahu balas budi kepada
Tetehmu yang sabar merawatmu dan gigih mendidikmu. Saya pantas bangga dan
hormat padamu. Keputusan Tetehmu benar, seandainya kamu masih bersamaku mungkin
nasibmu akan lain.
33)
Ohh…
Tjung. Dulu saya membawamu karena berharap dapat mengobati rasa bersalah saya,
perkara orok dari rahim kawan Rembulan Merah yang aku lempar keluar gerbong
kereta malam itu. Jangan dikira hati saya ini tidak galau, saya juga manusia
yang punya rasa kasihan pada orok tak berdosa. Andai kamu tahu Tjung, itu semua
saya lakukan demi misi Partai. Partai itu dalam tanda kutip seperti agama bagi
kami, garis perjuangan Partai harus dipegang teguh meski nyawa menjadi
taruhannya. Dan malam itu, di gerbong kosong kereta kami, saya dan Tetehmu, sedang
dalam misi penting bagi peran Tetehmu di kemudian hari. Partai butuh dia
menjadi orang baru, jadi semua yang berhubungan dengan masa lalunya harus
lenyap. Ya, sebenarnya misi Tetehmulah yang lebih penting malam itu, saya hanya
menghantarkan saja. Begitulah.
34) (MEMENDAM RASA, HAMPIR MENANGIS) Oh… Entin, maafkan saya. Partailah yang
memberi perintah agar orokmu lenyap dari hidupmu, saya diperintah untuk
mengeksekusi. Perasaanku kacau ketika kamu menjerit histeris melihat orokmu
saya lempar keluar. Tangismu yang menghiba bercampur marah seperti sejuta panah
Arjuna menembus dada. Tetapi apa boleh buat, kita sedang dalam misi Partai,
menjadikanmu orang baru dengan misi baru. Saya tidak pernah bisa melupakan
peristiwa gerbong kereta tengah malam buta dulu itu. Setiap mendengar deru
suara laju kereta malam jiwa ini terasa gemeretak. Pikiranku tak bisa tenang. Sampai
saya akhirnya menemukan Tjung. Anak itu seakan obat mujarab bagi pikiran dan
jiwaku. Sejak ada Tjung di antara kita, saya bisa lebih tenang berhadap muka
denganmu. Tjung, di mana kamu sekarang? Susah sekali mengikuti jejakmu, kamu
itu seperti hantu saja. Saya berharap kamu masih hidup.
35)
Aku
dengar cerita soal kamu, Tjung. Kamu adalah orok yang ditemukan penuh luka di
dekat rel kereta pada malam buta. Ketika Pak dan simbok-mu menceritakan semua
tentang kamu, dada ini bergetar. Tetapi mana mungkin itu kamu, rentang waktu
peristiwanya sangat jauh. Usiamu jauh lebih tua dibanding tanggal kejadian
malam itu.
36) Entah
dorongan apa yang membuat saya berani memintamu dari dua orang tua itu.
Alangkah leganya aku, simbok dan pak-mu mengijinkan dan menyerahkan masa
depanmu. Saya berjanji kelak kamu akan saya masukkan dunia militer seperti
keinginanmu. Ohh…, Tjung maafkan saya.
37)
Saya
lihat dengan mata kepala sendiri, kamu tumbuh menjadi lelaki pemenang yang
tidak takut keadaan. Beda dengan saya. Peran yang saya sandang sekarang sudah
menjadikanku orang yang tidak berguna dan bodoh. Saya harus menjadi orang lain
sama sekali, saya harus menjadi Bagaskoro. Saya harus bergaya aristokrat
semacam bangsawan kraton yang dulu sangat saya benci. Aku muak dengan gaya
sebagai Bagaskoro, tapi saya bisa apa?
38) Dengan
menjadi Bagaskoro saya bisa mengurus surat-surat identitas yang baru, dengan
alasan bahwa semua surat-suratku hilang seluruhnya ketika peristiwa banjir
besar yang terjadi di awal tahun dulu itu. Yah, tentu saja ada campur tangan
salah satu kawan kita yang di jawatan pemerintahan. Dengan identitas baru yang
otentik dan sebuah ijazah palsu saya melanjutkan pelarian ke timur. Sampai
akhirnya saya diterima bekerja di sebuah perusahaan milik pengusaha Cina di
sebuah kota besar. Ha…ha…ha… sukurlah semuanya bisa saya lalui biarpun tidak semudah
membalik telapak tangan.
39)
Tetapi
sebelum itu, saya hidup dari mencuri dan berjudi hampir setiap malam. Suatu
sore di pelabuhan, saya bertemu dengan Encik pengusaha permata yang kemudian
menjadi juraganku. Encik awalnya merupakan calon korban kejahatanku, tetapi
gagal.
40) Dia
sangat pelit tapi genit. Tidak terlalu cantik, cuma manis lesung pipitnya. Pipinya
juga sedikit merona seperti pipi Rembulan Merahku. Dia itu janda gatal yang
rela membayar berapapun asal ada lelaki yang bisa memuaskan rasa dahaganya yang
kelewat batas.
41)
Saya
berharap menjadi lelaki terakhir bagi Encik. Saya bisa memuaskan dirinya dalam
segala hal. Di ranjang, maupun dalam urusan pekerjaan. Dengan begitu saya bisa
mendapat uang yang lumayan untuk saya tabung barang sedikit setiap bulannya.
Kakiku memang cacat, tetapi kelaki-lakianku tetap utuh 100 persen.
42)
Di
ranjang Encik, saya lampiaskan semua gelora cintaku padamu oh… Rembulan
Merahku. Amis keringat Encik serasa wangi mawar di tubuhmu. Gelora nafsunya
menjadi badai kasihmu yang kusambut dengan keperkasaan perahu cintaku. Kami
berlayar di samudera yang tak henti bergolak menuju ujung cakrawala jingga.
Bersama-sama terhempas di pantai beraroma surga hingga lemas-lunglai bagai
sepasang insan purba yang polos dan murni. Saya membayangkan itu adalah kita
berdua, Matahari dan Rembulan Merah.
43) Dor…!
Encik mati. Ya… nasibku kembali saya pertaruhkan karena Encik mati. Saya
sendiri yang membunuhnya. Malam itu saya memendam rasa benciku, karena belakang
hari ia lebih sering memintaku membawa laki-laki lain untuk diajak bermain
bertiga. Bukan persoalan apa. Saya hanya merasa terhina sebagai laki-laki.
Malam itu saya diminta membawa dua laki-laki, tiga lelaki saya bawa padanya.
44) Saya
menolak ikut bermain, saya hanya menonton mereka sambil melayani ‘bergajul-bergajul’
itu segelas demi segelas arak. Saya lihat Encik sangat menikmati permainan
surga bersama tiga bidadara yang kegirangan. Sesekali Encik melirik menggoda saya,
lirikan itu benar-benar menghina kelaki-lakian saya.
45) Sebenarnya
Encik mati tidak dari tangan saya sendiri. Saya sewa dua orang untuk
membunuhnya. Saat ketika Encik saya antar menuju pelabuhan untuk urusan dagang
ke luar pulau. Saya susun rencana, kejadiannya harus seperti perampokan biasa.
Di tengah perjalanan saya hentikan mobil, saya mohon ijin pada Encik untuk
memeriksa air radiator sebentar. Tepat di saat aku ada di bawah kap mesin,
meledaklah sebuah pistol menghabisi nyawa Encik. Dor…! Dor…! Perampok bermobil
melarikan diri sambil menembakkan satu peluru lagi ke arah saya, tetapi
meleset. (MENIUP TELAPAK TANGAN)
Encik lenyap dari hidup saya, dan saya puas menikmati sebagian dari
hasil rampokan siang bolong itu.
46) (MEMBUNGKUK
HORMAT. BERUSAHA TEGAP) Nama saya masih tetap Matahari, tetapi
cahayaku sudah redup. Saya tidak ada kekuatan lagi untuk memberi cahaya bagi
kehidupan. Jangankan bagi kehidupan, bagi diriku sendiri saja cahayaku seburam
mataku yang sudah rabun pada arti dan tujuan hidup. Bahkan dibanding sinar
bulan di malam buta diri saya masih kalah bersinar. Rembulanlah yang sekarang
memberiku cahaya, bukan sebaliknya. Begitulah saya sekarang : ‘Bagaskoro'. Lebih
tepatnya : saya ‘Matahari Buram’.
~ BLACK OUT ~
IV.
PUKULAN
PALU MAHKAMAH
FADE IN : SUARA KERETA API LEWAT .
TOKOH KITA BERMAIN MAINAN KERETA API. KALI INI IA TAK PEDULI PADA SUARA KERETA
LEWAT. BOSAN SENDIRI – MENGEMAS MAINAN KERETA – MENGAMBIL KURSI MEMBAWANYA KE
TENGAH PANGGUNG – BERDIRI MENGHORMAT MILITER – DUDUK DI KURSI MENGHADAP PENONTON.
47)
- Betul, saya Mayor Wira Irawan.
-
Iya,
itu NRP saya. Jabatan terakhir, Perwira Seksi Intelijen di Bataliyon.
-
Betul
Yang Mulia, saya tahu.
-
Tidak
benar Yang Mulia, saya tidak pernah mengikuti rapat-rapat.
-
Saya
tahu karena saya mendapat laporan. Maaf, bukan laporan tapi perintah.
-
Tidak
tahu Yang Mulia. Perintah itu melalui surat dari Badan Rahasia Partai.
- Sudah
saya bakar Yang mulia.
-
Saya
bakar setelah saya jelas bunyi perintahnya. Saya harus membakarnya karena
prosedurnya harus begitu.
- Saya
bekerja sendiri Yang Mulia. Saya tidak pernah kenal siapa yang memberi
perintah, saya terima perintah-perintah melalui kurir.
-
Benar
yang mulia. Dia orangnya. Saya hanya kenal satu kurir, tidak ada yang lain.
-
Kalau
itu saya tidak tahu menahu sama sekali. Semua prosedur sudah ditentukan oleh
Partai. Saya hanya menjalankan prosedur. Tidak boleh kurang tidak boleh lebih.
-
Saya
mendapat perintah untuk mengawasi gerakan pasukan-pasukan di ibu kota dan harus
secepatnya melaporkan jikalau ada yang mencurigakan.
-
Saya
diperintah melaporkan kepada Komandan saya di Bataliyon Yang Mulia.
- (BERNAPAS
PANJANG) Yahh… sampai di sini saya harus berbohong
demi rahasia Partai. Saya tidak akan menyebut nama Entin, di mana kepada kawan
Entin sebenarnya saya melaporkan semuanya. Saya tidak ingin menambah
penderitaannya. Ohh… Rembulan Merahku yang malang.
- (KEMBALI
DUDUK TEGAP) Tidak
tahu Yang Mulia. Sama sekali saya tidak tahu apakah Komandan saya adalah bagian
dari operasi. Saya hanya menjalankan perintah saja.
- Tidak
benar. Ijin mengeluarkan senjata dari gudang wewenangnya tidak pada saya.
- Saya
tahu Yang Mulia. Memang ada latihan-latihan sukarelawan-sukarelawati di sana.
Yang saya tahu di sana ditangani langsung oleh Angkatan lain.
- Mengenai
senjata yang dipakai untuk latihan bukan senjata dari gudang kami. Saya sudah
pernah memeriksa hal itu. Jenisnya tidak sama dengan yang digunakan kesatuan
kami.
- Sebagai
perwira inteligen, saya bertanggung jawab mengawasi dan menyelidiki semuanya.
Apa lagi melibatkan senjata organik militer, saya wajib tahu.
- Siap
Yang Mulia. Pledoi saya sudah siap. Tinggal membacakan saja. Sekarang juga
sudah siap saya bacakan.
TOKOH KITA BERDIRI – MENENDANG KURSI
KE SAMPING. MULUTNYA MENGUMPAT-UMPAT
48) Anjing
kurap. Dasar bajingan tidak berguna. Seharusnya dulu itu saya hadapi saja
pengadilan militer. Semestinya saya tidak perlu lari sembunyi. Saya akan
melangkah tegap sebagai kesatria masuk ruang pengadilan. Duduk di kursi
pesakitan berhadapan dengan para Hakim Militer.
49)
Alangkah
terhormatnya diri saya. Saya akan siap menghadapi vonis mati, dieksekusi di
depan regu tembak. Tubuhku akan ditembus peluru tepat di jantungku. - Dor…!
Selesai. Saya mati sebagai kesatria Karna yang tertembus panah Arjuna.
50)
Tidak
seperti sekarang. (MERASA DIRENDAHKAN)
Saya divonis mati oleh hakim perempuan. Artinya apa? Saya dibunuh oleh
tangan perempuan yang mengetuk palu tiga kali, tok…tok…tok!
51)
Anjing
kurap…, babi koreng…! Kenapa kalian kirim hakim perempuan untuk memvonis mati?
Andai saja kalian tahu saya ini bekas Mayor tentara yang ikut mengangkat
senjata bertempur menegakkan negara ini.
52)
Ahh……
percuma saja. Kalian tidak akan pernah tahu itu. Aku sekarang memang Bagaskoro,
Gembong dari ratusan penjahat yang sudah merampok sekian ribu kali seantero
negeri. Yahh… saya memang raja-diraja garong yang pantas dihukum mati. Tidak
masalah, yang penting semua orang mengakui kepintaranku dan kecerdikanku.
53)
Kalau
saja saya tidak tertidur pulas di kamar pelacur itu. Kalian akan sulit
menangkap saya. Ha…ha…ha…….. hampir dua puluh tahun kalian selalu berhasil saya
tipu. Dan aku lolos berkali-kali dari kepungan. Ha…ha…ha…….. paling tidak empat polisi mati ditembus
peluru dalam beberapa kali adu tembak dengan saya. Ha…ha…ha…….
TOKOH KITA TERTAWA SEPUAS-PUASNYA
SAMBIL BERJALAN BERKELILING. BERHENTI DI TENGAH. TERTAWANYA BERUBAH MENJADI
SERINGAI SERIGALA LAPAR DAN MARAH. TERIAK :
Dasar
kunyuk kalian. Dengan reputasi saya sehebat itu, kalian hanya mengirim seorang
perempuan untuk membunuh saya. Ini sungguh tidak adil. Saya protes keras. Besok
saya akan menghadapi regu tembak. Kalian memberi kesempatan saya untuk
mengajukan permintaan terakhir. Saya sudah meminta dengan tegas dan jelas : “saya
minta pengadilan untuk saya diulang lagi. Beri saya hakim laki-laki yang paling
jantan yang kalian punya”. Beri kesempatan terakhir bagi saya untuk merasa
gagah menghadapi kematian. Kalian tolak permintaan terakhir saya. Kalian
curaaaang…… kalian banci………… banci………! Saya protes keraaas………..!!
SUARA KERETA API LEWAT KEMUDIAN
MENGHILANG DI KEGELAPAN MALAM
~ BLACK OUT ~
-
S E L E S A I -
Bojonegoro, 6 Sura
1953 Saka
SARAN :
Baca juga naskah drama monolog "balada TJUNG" dan "REMBULAN MERAH" karya Siswo Nurwahyudi di laman blog ini sebagai tiga kisah yang saling berkaitan dan saling menguatkan.
NOTE :
Naskah ini merupakan satu dari tiga naskah drama monolog TRILOGI yang saling terhubung antara satu dan lainnya, "balada Tjung", "Rembulan Merah", "Matahari Buram".
Klik Disini :
Maka tak lengkap dan belum afdol jika tidak membaca ketiga naskah tersebut.
SELAMAT MEMBACA & TERIMA KASIH.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar