AKU PUISI YANG BICARA
dalam pejam jelas aku melihatmu
menyusun jejak langkah di pasir berapi
berjubah kelabu menggenggam batang tombak
matamu bara, mulutmu kubah lava, lidahmu seribu bisa
dan tatkala mataku terbuka, kau hanya asap sisa dupa masa
lalu
jumawa, jiwamu menjunjung tinggi segala tipu daya menjadi
berhala
dalam lelapku, suaramu bagai gelegar guntur
mencabik-cabik dinding-dinding bukit padas yang digdaya
pekik-sorakmu bagai barisan lidah naga membakar rimbun belantara
bergolong-golong, bergulung-gulung, selaksa badai raksasa menghantam
dan di saat kesadaran terbuka, tak lebih gumpalan kerikil-kerikil
dusta
tanpa hati, tanpa kesadaran, tanpa mengerti tentang kesejatian
Tuhan yang di dalam teriakanmu itu, tahukah kamu Ia milik
siapa?
aku
puisi yang bicara
puisi yang bicara
tanpa kibar bendera
Bojonegoro, 31102018
AKU PUISI LUKA DI LADANG AKSARA
melewati pematang panjang, aku di ladang aksara
kaki yang senantiasa telanjang, meniti dengan hati
jiwa dan rasa menjelma anai-anai, tajam kugenggam
sebatang demi sebatang kata, kupetik sepenuh kasih
diriku menjadi keranjang tua, nampak renta dan kusam
tersendiri, tegak teronggok entah bahagia entah sedih
di langit, awan dan angin bergumul bergambar-gambar
(di sudut ladang, aku yang sebentar lupa melafal-Mu
seperti penari liar yang mabuk, kulepas semua sesak)
dalam igauan pulang, aksara-aksaraku bernyanyi
tentang hamparan manusia bermulut api
tentang segala tahi yang bertabur caci-maki
tentang pekat udara penuh peri dan benci
tentang segala dusta dunia, apa pula ini
sementara kakiku tetap meniti jalanan penuh mimpi
tentang indahnya menyelamatkan negeri ini
dan di televisi, baku serapah semakin menjadi
dan di sekitarku, orang-orang terus saja menimbun api
Bojonegoro, 30102018
BIARLAH PADANG BATIN INI BERHIBERNASI
sama seperti ladang para petani
perlu untuk tidur barang sejenak
sehabis panen raya yang kesekian kali
memberi tempat kepada mentari yang garang
menyapu wajah tanah, mengganyang semua bakteri
atau sekedar melonggarkan pori untuk lega bernapas
dalam pejam mata, menengadah pada jatuhnya embun
juga hening persemadian di bawah bulan dan gemintang
menyerap lagi seluruh kekuatan jagat raya atas nama Tuhan
sembari menunggu menyambut sejuk hujan di awal musim
kelak, seusai memberi tempat jengkerik dan belalang berbiak
di padang ini, akan tumbuh lagi sajak-sajak setajam belati
Bojonegoro, 28102018
PUISIKU vs PUISIMU
puisiku terlahir dari benih aksara kehidupan
di dalam segenggam lumpur, tunas bertumbuh
sepucuk demi sepucuk, daun pun menengadah ke langit
akar-akarnya perkasa, berbiak di relung batu-batu
puisiku daun-daun rindang di ujung reranting
bersenggama dengan udara dan hujan
bersemi, kemudian menua, jatuh ia
memberi ruang merekahnya bunga
agar terlahir seribu balada
tanpa tepi, tanpa sepi
puisiku adalah pokok berbuku
menuntun garis-garis tanda tahun
menjadi saksi selingkar jaman
meniti notasi dan nyanyian
syairnya memuja Tuhan
puisimu lolong serigala
bergigi gergaji, berlidah api
memanggang ujung-ujung geranggang
berbaris di jalanan kota, menggiling kata-kata
menjelma mesin-mesin fitnah dan serapah
jelas meludah tanpa arah, aksara bernanah
dari luka semu, tertusuk buah pandir sendiri
puisimu lingga cadas tak berparas
mengacung keras, memuja langit culas
berdentum-dentum khayalmu bertalu
hilang tabu, hilang segala malu
memahat udara tua menjadi vagina
menggumam mantra, mantra tanpa doa
bersetubuh dalam selimut fatamorgana
dan,
puisiku, bukan dari benih aksara terluka
yang harus menyusun makna sekedar untuk bicara
sebab semesta sudah cukup memberimu tanda-tanda
Bojonegoro, 27102018
#igauanmalamjumat
Support/donasi/dukungan :
https://saweria.co/SiswoNurwahyudi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar