PUISIKU vs PUISIMU
puisiku terlahir dari benih aksara kehidupan
di dalam segenggam lumpur, tunas bertumbuh
sepucuk demi sepucuk, daun pun menengadah ke langit
akar-akarnya perkasa, berbiak di relung batu-batu
puisiku daun-daun rindang di ujung reranting
bersenggama dengan udara dan hujan
bersemi, kemudian menua, jatuh ia
memberi ruang merekahnya bunga
agar terlahir seribu balada
tanpa tepi, tanpa sepi
puisiku adalah pokok berbuku
menuntun garis-garis tanda tahun
menjadi saksi selingkar jaman
meniti notasi dan nyanyian
syairnya memuja Tuhan
puisimu lolong serigala
bergigi gergaji, berlidah api
memanggang ujung-ujung geranggang
berbaris di jalanan kota, menggiling kata-kata
menjelma mesin-mesin fitnah dan serapah
jelas meludah tanpa arah, aksara bernanah
dari luka semu, tertusuk buah pandir sendiri
puisimu lingga cadas tak berparas
mengacung keras, memuja langit culas
berdentum-dentum khayalmu bertalu
hilang tabu, hilang segala malu
memahat udara tua menjadi vagina
menggumam mantra, mantra tanpa doa
bersetubuh dalam selimut fatamorgana
dan,
puisiku, bukan dari benih aksara terluka
yang harus menyusun makna sekedar untuk bicara
sebab semesta sudah cukup memberimu tanda-tanda
Bojonegoro, 27102018
#igauanmalamjumat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar