Naskah Drama Dua Babak : "GOTRAH"

 


G O T R A H

Naskah Drama Dua Babak

 

SEKILAS TENTANG NASKAH

( SINOPSIS )

 

 

Salam Budaya.

 

         Cerita ini diberi judul : GOTRAH. Mengambil latar waktu era milenial dan era gonjang-ganjing pandemi covid-19. Kisah ini berselancar dalam alur dan tema klasik, pun secara sederhana memotret sedikit kemungkinan atas realita kehidupan yang sebenarnya sarat menyimpan rahasia, absurd, serta  tak bisa terbebas dari fakta sifat kodrati manusia.

 

      PENOKOHAN :

1.      NYAI GOTRAH : Janda berdarah biru (Nenek) ± 57 tahun. Mantan penari keraton.

2.      LUMIÈRE LE DESTIN atau DESTIN :  Gadis cantik 19 tahun (Cucu Nyai Gotrah). Yatim

      piatu berdarah campuran Perancis-Jawa. Ayah Perancis dan Ibu Jawa.

3.      PRAMU : Lelaki ± 40 tahun, Paramedis/Perawat (Keponakan Nyai Gotrah).

 

         Secara singkat cerita ini mengisahkan tentang ambisi Nyai Gotrah terhadap Destin, cucu satu-satunya, agar kelak bisa menjadi wanita sempurna dalam hal nasib dan karirnya. Pendek kata, Nyai Gotrah ingin takdir cucunya bersinar terang seperti arti nama cucunya, Cahaya Takdir.

Juga bercerita tentang kisah perselingkuhan, perselingkuhan dalam arti hubungan lelaki-perempuan (sex), dan perselingkuhan dalam kejahatan administrasi (korupsi). Perselingkuhan di dalam cerita ini, melibatkan Nyai Gotrah sendiri, Destin, dan Pramu. Yang mana ketiga tokoh itu masih bertalian darah satu sama lain. Sebab perselingkuhan sedarah itulah yang kemudian meluluhlantakkan Nyai Gotrah.

         Meskipun Nyai Gotrah pada akhirnya memutuskan untuk mengubur dalam-dalam kisah pedih yang telah membuat jiwanya hancur dan berniat membangun lagi dari awal, tetap saja ia tidak mampu untuk menghindar begitu saja. Bahkan bisa jadi akan selalu menghantui sepanjang sisa umurnya. Menyitir pepatah popular : Siapa Menabur Angin (akan) Menuai Badai. Setiap perbuatan akan berbuah karma.

         Demikian dari penulis, dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati semoga karya sederhana ini bisa memberi manfaat. Tak lupa segala puja dan puji sukur kepada Tuhan Pencipta Semesta Alam yang Maha Agung yang telah memberi segala nikmat hidup yang tiada tara. Apapun, yang sempurna hanya milik Tuhan semata. Sekian, terima kasih.

 

 

Bojonegoro, 20 Oktober 2020

Penulis,

 

 

Siswo Nurwahyudi


NB : 

Bagi yang menghendaki naskah lengkap "GOTRAH" sila menghubungi Prodi Teater, Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

Terima kasih.


Support/donasi dukungan :

https://saweria.co/SiswoNurwahyudi

NASKAH DRAMA MONOLOG PEREMPUAN: MONOLOG BOTOL PARFUM KOSONG

 


MONOLOG BOTOL PARFUM KOSONG

 

PANGGUNG FADE IN

SEORANG PEREMPUAN SEDANG MENGELAP SEBUAH BOTOL KOSONG BEKAS PARFUM. DI ATAS MEJA, BEBERAPA BOTOL LAGI BERJAJAR BERBAGAI MEREK DAN UKURAN. SEDARI AWAL BIBIRNYA TERSENYUM, SESEKALI UJUNG JARINYA DISENTUHKAN PADA UJUNG BOTOL DI MEJA. DAN MATANYA SESEKALI MENERAWANG MENGINGAT-INGAT APA SAJA YANG BISA IA INGAT TENTANG KISAH BOTOL-BOTOL PARFUM ITU.

 

001. PEREMPUAN :

(SAMBIL MENGELAP BOTOL, TERKEJUT MELIHAT KEHADIRAN BANYAK PENONTON, TERSENYUM MANIS MENYAPA PENONTON)  

Oh…, kalian sudah di situ rupanya. Maaf, agaknya saya terlalu asyik dengan botol-botol ini sampai tidak tahu kehadiran anda semua. Alangkah tidak sopannya saya. Sekali lagi, saya mohon maaf.

(MEMPERHATIKAN PENONTON)  Aduuuh… kenapa anda-anda tidak mengambil tempat di depan? Ayolah, jangan malu-malu begitu. Mari, mendekatlah. Masih banyak tempat di depan sini. Ayo…, mari…! (DIAM SEJENAK)  Nah… begitu bagus. Terima kasih, terima kasih.

(MELIHAT ARLOJI DI TANGANNYA)  

Ow…, sudah jam segini rupanya. Baiklah kalau begitu, kita mulai saja sekarang.

 

002. PEREMPUAN :

(MELETAKKAN BOTOL DI MEJA DI ANTARA BOTOL-BOTOL YANG LAIN)

Saudara-saudari semua mungkin bertanya-tanya untuk apa botol-botol parfum ini saya hadirkan di sini. Iya, semua botol-botol kosong ini. Saya harap sudi kiranya anda menyimak dengan seksama cerita panjang saya, sebelum saya nanti menawarkan tantangan untuk berantem habis-habisan setelah pertunjukan ini selesai. Iya, saya siap berantem hidup-mati jika cerita saya nanti benar-benar membuat anda jengkel dan marah. Saya jamin itu. (BERLAGAK BIJAKSANA)  Jadi, mohon duduklah dengan tenang, ambil nafas pelan-pelan, pusatkan konsentrasi, simak dengan seksama, diam… jangan ada suara selama saya menjalankan pertunjukan ini. Saya mohon, please… silent… semua saja, hp juga. (MENUNJUK KE SESEORANG)  Oh, yang di sana mau merokok? Boleh, meskipun saya tidak suka, tapi kali ini tak apalah asal gantian merokoknya biar tidak bikin udara di sini terlalu sesak. Terima kasih atas perhatiannya.

MASIH DENGAN SENYUMNYA YANG KHAS DAN PENUH MISTERI, PEREMPUAN ITU BERGESER AGAK MENJAUH DARI MEJA YANG PENUH BOTOL ITU. TEPAT BERDIRI DI TENGAH PANGGUNG SEDIKIT MENDEKAT KE PENONTON. KALI INI SEDIKIT GUGUP DAN GELISAH TETAPI TETAP BERUSAHA KERAS MEMPERTAHANKAN SENYUMNYA.

 

003. PEREMPUAN :

(MENGHELA NAPAS PANJANG SEJENAK, SENYUMNYA MEMUDAR)

 Hemmm…. Sebenarnya sulit bagi saya dari mana memulainya. Bisa saja saya mulai dari sembarang botol, sebab setiap botol ini memilki kisahnya masing-masing. Namun sayang, cerita-cerita tentang mereka sekarang sudah bercampuraduk tidak keruan di dalam kepala saya, seperti tumpukan segunung sampah yang semakin lama semakin terkorosi dan membusuk. Apa boleh buat jika cerita saya nanti membuat anda bosan, jengkel, bahkan marah. Jadi, siapkan diri anda baik-baik.

 

004. PEREMPUAN :

Baiklah, saya mulai saja. Saudara-saudari sekalian, saya percaya diantara anda pasti pernah menonton filem yang mengisahkan tentang seorang eksperimentalis yang sepanjang hidupnya terobsesi menciptakan aroma parfum yang tak pernah dibayangkan oleh seorang paling ahli sekalipun. Dan di akhir cerita dia sukses membuktikan hasil ramuan parfumnya dengan sangat gemilang. Efek aroma parfum yang dia tebarkan di udara seketika membuat seisi kota mabok cinta, semua orang terhipnotis, orang-orang mulai menanggalkan semua pakaian mereka, lalu dengan penuh nafsu mereka semua bercinta di lapangan terbuka tanpa rasa malu sedikitpun.

(MENARI GEMULAI DISELINGI DESAH DAN TAWA, GENIT DAN SEKSI)

Oh…, begitu dahsyatnya filem itu menggambarkan puncak adegan itu. Ah,…, aroma parfum itu telah menghapus kemarahan dan kebencian seisi kota pada dirinya, menyelamatkan dari hukuman pancung yang seharusnya sudah mengakhiri hidupnya saat itu juga. Oww… sungguh-sungguh gila. Cerita absurd yang sangat indah. Kisah itu begitu mengharu-biru.

(MENDADAK BERHENTI MENARI. WAJAHNYA MENEGANG. SUARANYA LANTANG)

Tetapi filem itu adalah filem paling busuk yang pernah saya tonton. Bagaimana mungkin seorang ahli meramu parfum harus lahir dan dibesarkan di tempat yang paling beraroma busuk. Bagaimana bisa wangi parfum dihasilkan dari cairan busuk mayat-mayat perawan cantik yang dia bunuh dengan tangannya sendiri. Filem yang betul-betul busuk, tidak berperasaan, tidak berperikemanusiaan. Saya maraah…! Filem itu telah membuat jiwaku mendidih. Saya tidak tahan, filem itu bisa membuat gila. Saya benar-benar maraaah…!!

(BERUSAHA KERAS MEREDAM AMARAH, NAPASNYA TERSENGAL-SENGAL. MULAI MENANGIS)

Yang paling membuat saya jengkel dan marah adalah harus jujur saya akui filem busuk itu digarap dengan sangat apik dan indah. Saya benci filem itu, tapi saya suka menontonnya. Entah sudah berapa kali saya tonton. Filem busuk itu selalu berhasil membuat hatiku patah, remuk, hancur berantakan.

 

PEREMPUAN ITU TERHUYUNG MENCENGKERAM JANTUNGNYA, TERDUDUK DAN TERKULAI IA DI KURSI. DEGUP JANTUNG DAN TANGISNYA PERLAHAN MEREDA. MENGAMBIL SEHELAI KERTAS TISSUE, MENGELAP AIR MATANYA.

 

005. PEREMPUAN :

(MENGAMBIL SIKAP DUDUK DENGAN ELEGANT) Saudara-saudari, di antara anda semua tentu sudah pernah mengenal saya. Dulu wajah saya sering nongol di televisi, di koran-koran nasional, di acara-acara kenegaraan. Sering juga mendampingi kunjungan pejabat-pejabat ke luar negeri. Ya. Dulu saya adalah salah satu di antara perempuan-perempuan wangi di negeri ini. Saya dulu adalah perempuan terhormat di negeri ini. Sekarang? Entahlah. Bahkan saya sendiri tidak yakin apakah masih ada sisa wangi pada diri saya. Yang pasti, saya sekarang sedang dalam posisi bertahan hidup-mati menjaga agar situasi dan kondisi saya tidak membusuk terlalu cepat. Jika bisa, saya mesti mendapatkan kembali hidup saya yang wangi seperti dulu. Semua kehormatan saya. Tapi, apakah mungkin?

 

006. PEREMPUAN :

  (MENARIK NAPAS, BANGKIT DARI DUDUK)  Lima tahun saya mendekam di penjara. Tuduhan koruptor yang disandangkan pada diri saya dulu itu sungguh sangat kejam dan tidak adil. Betapa tidak, apalah diri saya ini? Mereka yang menikmati pesta besar hasil korupsi justru tidak tersentuh sama sekali. Saya ini ibarat sisa kunyahan yang terselip di celah gigi mereka, kemudian dicukil dengan tusuk gigi dan dienyahkan begitu saja. Kenapa bisa semua tuduhan itu di arahkan pada diri saya. Sudah saya ungkap semua dengan tuntas dan sejujur-jujurnya di depan jaksa dan majelis hakim. Semuanya, tidak lebih dan tidak kurang. Saya akui dengan jujur, saya ikut terlibat dan turut bersalah dalam perkara itu. Tetapi keterlibatan saya sebatas membantu memanipulasi agar proyek-proyek busuk itu beraroma wangi di mata masyarakat. Dalam proyek jahanam itu posisi saya sebagai seorang profesional yang bekerja secara profesional. Puluhan tahun mereka menikmati pesta hasil kerja saya yang rapi dan profesional. Sehingga nama mereka semakin cemerlang. Karier mereka semakin gemilang. Puluhan tahun saya telah membantu mereka mendapatkan segalanya. Jabatan, kedudukan, kekayaan, kewibawaan, bahkan kekuasaan. Kurang apa lagi coba?

 

BERGEGAS MENUJU TEMPAT BOTOL-BOTOL PARFUM. MENYAMBAR SALAH SATU BOTOL, NAIK KE KURSI DAN MENGANGKAT BOTOL TINGGI-TINGGI

007. PEREMPUAN :

Inilah saya di masa lalu, perempuan wangi yang nyaris mencapai puncak tertinggi. Orang-orang datang seperti semut berebut sebutir gula-gula. Pejabat, politisi, pengusaha, tokoh agama, para cukong, calo, sampai para pengibul, semua datang padaku dengan segenap rayuan dan bualan. Dan sebagai seorang profesional saya pantang mengecewakan. Semua saya layani dengan baik dan sungguh-sungguh. Saya pertaruhkan profesionalitas dan harga diri saya demi kepuasan semua klien saya.

(MENURUNKAN BOTOL, MENGACUNGKAN LURUS KE DEPAN)

Sampai akhirnya saya harus menjadi seonggok daging busuk di dalam kerangkeng penjara tanpa ada satupun di antara mereka yang sudi peduli. Mereka semua memang busuk. Pejabat busuk, poitisi busuk, pengusaha busuk, tokoh agama busuk, para penjilat busuk, calo-calo busuk, semua tidak akan pernah saya maafkan.

 

008. PEREMPUAN :

 (TURUN DARI KURSI, TERDUDUK LEMAS))   Di dalam penjara, banyak orang-orang semacam saya, yang sebelumnya menjalani kehidupan menjadi penebar wangi untuk menutupi aroma busuk perbuatan manusia-manusia laknat. Ya. Filem itu. Filem itu telah benar-benar membuka kesadaran saya tentang semua itu. Bahwa aroma parfum yang paling dahsyat adalah wewangian yang diramu dari sekumpulan lendir yang paling busuk di muka bumi. Kalian boleh percaya atau tidak percaya. Terserah. Faktanya memang, kalian masih gandrung memuji dan memuja setinggi langit seolah mereka makhluk paling bersih dan paling wangi di negeri ini. (TERSENYUM SINIS) Seandainya kalian tahu seberapa busuk mereka itu.

(BANGKIT DAN MENDEKATI BOTOL-BOTOL PARFUM. MELETAKKAN BOTOL)

Saat ini saya dan banyak orang di luar sana berakhir menjadi botol-botol parfum kosong. Apa lagi yang bisa diperbuat oleh botol-botol kosong semacam ini? Saya membayangkan, alangkah bernilainya botol-botol kosong ini seandainya kisah masa lalunya tidak berawal dari cerita busuk. Ah, tetapi sudahlah. Saya toh sudah kehilangan banyak hal baik dalam hidup saya. Rumah megah, villa, apartement, mobil mewah, uang, keluarga. Semua kekayaan dan kehormatan saya sudah ludes dengan sangat cepat sejak saya diputus bersalah oleh palu hakim di ruang pengadilan penuh lelucon yang tidak lucu itu. Saya merasa hari kiamat sudah semakin dekat. Tetapi saya percaya saya belum kehilangan segalanya. (SUARANYA MENDADAK BERGETAR)  Saya masih punya Tuhan.

 

IA MERASAKAN DADANYA BERGETAR. GETARAN ITU MENJALAR KE SELURUH URAT NADINYA. IA MEMANDANGI PENONTON SATU-PERSATU. SUARANYA MASIH BERGETAR, KATA-KATANYA MELUNCUR DENGAN CEPAT.

 

009. PEREMPUAN :

Iya, Tuhan Yang Maha Wangi. Cuma Dia milikku yang tersisa. Siapa lagi?  (MENUNJUK SATU-SATU)  Kamu? Anda? Atau kamu? Anda-anda semua yang di sana? Tidak.

Kalian semua tidak lebih kejam dari para manusia busuk yang kalian puja seperti berhala. Sementara kepadaku, tidak pernah lagi satupun kalimat yang baik keluar dari mulut kalian. Kenapa kalian terlihat tidak suka jika saya menyebut kata Tuhan? Sepertinya kalian tidak rela orang seperti saya mendadak mengaku punya Tuhan. Kalian mau apa kalau iya? Mau berantem? Mau mengeroyok rame-rame? Ayo maju semua, saya siap berantem hidup-mati demi mempertahankan Tuhan saya. Ayo, maju kalau berani. Kenapa? Apa kalian sudah jadi pengecut? Mana kata-kata kejam kalian yang dulu itu? Apa kalian cuma manusia-manusia yang hanya bernyali di medsos saja? Atau ternyata kalian baru sadar, bahwa kalian pun selama hidup menyimpan kebusukan di balik topeng wangi di wajah? Jangan-jangan Tuhan juga sering kalian gunakan sebagai parfum pewangi mulut saja.

 

SEKARANG TAWANYA TERGELAK, PEREMPUAN KITA TERLIHAT SANGAT MENIKMATI TAWANYA. IA PUN BICARA SAMBIL TERTAWA-TAWA.

 

010. PEREMPUAN :

Ha…ha…haha… haha….. lucu sekali. Saya selalu geli sendiri sekarang. Hahaha… haha… Dulu saya juga seperti mereka. Kemanapun dan dimanapun suka sekali bawa-bawa nama Tuhan dalam setiap pidato, setiap bertemu para wartawan, atau kapanpun bertemu masyarakat. Paling tidak sekedar bilang puji syukur, alhamdulilah, insyaallah. Hahaha…haha…hahaha…. Kata-kata itu berhamburan begitu gampang seperti semprotan parfum yang lepas dari botolnya. Jessss……ssss….! Haha…hahaha…hahaha…. Seolah keluar dari mulut manusia mulia yang tidak punya dosa. Hahaha… hahaha… hahaha…. Padahal semuanya dusta. Dusta…! Dusta…!

 

011. PEREMPUAN :

(BERHENTI TERTAWA, DAN BERBICARA LANTANG)  Ya, beribu dusta itu dibungkus sedemikian rupa dengan kata-kata surga. Bahkan nama Tuhan pun dengan enteng diucapkan demi menyimpan kebohongan di celah ketiak, juga di balik kata sumpah di ruang pengadilan, di forum-forum resmi, di mimbar-mimbar jalanan, di mana-mana. Di luar sana nama Tuhan ibarat merek parfum murahan saja. Itu terjadi setiap hari, setiap jam, setiap menit, sepanjang hidup anda semua. Dan kalian diam, kalian tidak berbuat apa-apa, kalian puji-puji setinggi bintang. Iya, anda-anda semua. Kasihan sekali, betapa konyolnya hidup kalian, botol-botol kosong yang tidak berguna.

(BERDIRI DI ATAS KURSI. BERKACAK PINGGANG)  Inilah saya yang sekarang. Seorang pelaku sekaligus penyintas. Saksi hidup persekongkolan-persekongkolan busuk yang pernah terjadi di negeri ini. Orang yang meragukan tegaknya hukum. Orang yang tidak lagi percaya pada kemuliaan politik. Orang yang dianggap sudah gila di saat benar-benar dalam kondisi waras. Saya sudah selesai dengan hidup saya. Kurang apa lagi saya? Saya sudah selesai. Sudah cukup. Saya sudah…. (HAMPIR MENANGIS. NADA SUARANYA MERENDAH)  Cukup! Pertunjukan ini sudah selesai. Jika kalian merasa tersinggung dan marah karena pertunjukan saya ini, sebentar nanti saya tunggu di luar sana. Tetapi sebelum kita berantem habis-habisan, ijinkan saya bersopan-sopan sedikit, satu kata saja, terima kasih. Sekali lagi, terima kasih.

 

BLACK OUT

 

~ ~  S E L E S A I ~ ~

 

Bojonegoro, 30 Desember 2021

 Siswo Nurwahyudi


Support/donasi/dukungan :

Klik di sini




#3TAMAT ~ NASKAH DRAMA : IDEO(T)LOGI TANDA PETIK

NASKAH DRAMA
IDEO(T)LOGI TANDA PETIK

Karya : Siswo Nurwahyudi




(Bagian 3 - TAMAT)


BABAK III FADE IN :

PAGI BERSERI. MASA TANGGAP BENCANA TELAH USAI

(P-1) : PARA RELAWAN MULAI MEMBONGKAR POSKO. SATU-PERSATU, BERKAS DAN PERALATAN DIKEMAS. SEMBARI BERKEMAS, MEREKA MENUMPAHKAN SEMUA YANG TERSIMPAN DI DADA DAN DI KEPALA MASING-MASING DALAM CANDA YANG SATIR. MUNGKIN JUGA TIDAK SEMUANYA DITUMPAH. TETAPI ITU LEBIH DARI CUKUP BAGI MEREKA.

(P-2) : TERJADI RAPAT DAN PERDEBATAN YANG PELIK DAN PANJANG. SEMUA MASIH SOAL BENCANA, JUGA DAMPAK KEBIJAKAN MITIGASI YANG MUNGKIN DITIMBULKAN.

 

087.  RELAWAN :

(P-1) Sukurlah, akhirnya bisa pulang juga.

 

088.  AJUDAN :

(P-2) (MASUK) Mohon ijin menyampaikan pesan bapak Walikota. Beliau berharap semua sabar menunggu Bapak. Beliau masih menerima tamu dari pemerintah pusat. Jadi, mohon tidak ada yang meninggalkan tempat. Terima kasih atas kesediaannya. Permisi. (EXIT).

 

089.  RELAWAN :

(P-1) Kasihan anak istri kalau kita terlalu lama tidak pulang ke rumah. Satu minggu lebih aku tidak ketemu keluargaku. Di rumah, aku punya isteri yang cantik, dia pasti sudah rindu dipeluk bapaknya anak-anak. Yang jomblo kronis jangan ngiri ya. Ha…ha…ha…ha…

 

090.  RELAWAN :

(P-1) Aku memang belum punya bini. Tapi aku punya ibu yang sudah tua. Selama aku di sini, ibuku tinggal di rumah sendirian. Kasihan. Untung tetangga-tetangga pada baik semua. Kalau tidak, entah apa yang bisa kubuat. Lebih hebat mana? Memeluk isteri, atau memeluk ibu yang melahirkan kita? Mau tahu jawabannya? Bagi jomblo kronis macam aku, lebih indah memeluk isteri tetangga. Ha…ha…ha…ha…..

 

091.  STAFF AHLI :

(P-2) Baik, sambil menunggu bapak Walikota, kita lanjut dulu rapat kita. Sekarang dari Tim Ahli Percepatan Pembangunan, ada yang ingin menyampaikan pemikirannya disilakan.

 

092.  DAN POSKO :

(P-1) Yahh… memang begini nasib orang bawahan. Enak yang di atas, kerja pakai otak doang. Makan bergizi, gaji segedhe gajah, fasilitas tidak kurang apapun. Kita yang berdarah-darah di bawah, lebih sering terima marah. Tapi sukur, kita masih bisa tertawa. Ha…ha…ha…ha…. Biar saja yang di atas pusing tujuh keliling, kita tetap tertawa ha…ha…ha…ha…

 

093.  TIM AHLI :

(P-2) Oke. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, semua teori Bapak yang terdahulu, maksud saya bapak Walikota kita, kini sedang jadi bahan tertawaan publik dan lawan-lawan politik.

 

094.  STAFF AHLI :

(P-2) Bukankah teori tersebut dulu anda semua yang merumuskan. Kami staff ahli di eksekutif hanya menuangkan di dalam draft dan memperbaiki susunan bahasanya.

 

095.  RELAWAN :

(P-1) Kalau aku lebih senang kerja begini daripada beradu argumen di meja rapat seperti mereka. Soalnya aku nggak tahan duduk lama-lama, sakit sembelit di otakku bisa kambuh. Ha…ha…ha…ha…

 

096. TIM AHLI :

(P-2) Jadi, anda menyalahkan kami? Kami Tim Ahli Percepatan sudah susah payah memikirkan dan merumuskan berdasar kajian teori-teori yang menjadi keahlian kami masing-masing. Kami tim professional.

 

097.  RELAWAN :

(P-1) Kita lebih professional dari mereka. Kita punya skill hebat, punya kemampuan yang bisa diandalkan. Mereka cuma punya teori di kepala. Ibarat senjata di medan tempur, (GAYA BERBISIK) mereka itu sebenarnya impoten. Ha…ha…ha…ha…

 

098.  STAFF AHLI :

(P-2) Bukan begitu, bukan maksud kami merendahkan kerja Tim Ahli. Kami dari staff ahli ingin anda semua me-review teori-teori tersebut untuk kita bahas disini. Ini penting, untuk menyelamatkan muka bapak Walikota. Saya sangat berharap kita semua yang di sini kembali berpikir keras untuk menyelamatkan reputasi bapak Walikota agar eletabilitasnya tetap terjaga. Jika perlu kita kawal bersama mengangkat beliau setinggi- tingginya sampai menjadi presiden. Mudah-mudahan ini tidak dianggap sebagai mimpi yang terlalu berlebihan. Senyampang masih mungkin.

 

099.  RELAWAN :

(P-1) Yahh… cukuplah begini saja. Orang seperti kita jangan terlalu berharap pada nasib. Jangan bermimpi melangit, kalau jatuh bisa mampus. (MEMERAGAKAN ORANG SEKARAT) Hooeek…! Ha…ha…ha…ha…

 

100.  TIM AHLI :

(P-2) Kenapa tidak. Banyak fakta di dunia ini membuktikan, sejarah juga membuktikan, bahwa kemajuan dan success boleh berawal dari mimpi yang tak masuk di akal. Para ilmuwan dan para penemu hebat pun pasti berangkat dari mimpi.

 

101. DAN POSKO :

(P-1) Semua orang boleh bermimpi. Tidak ada yang salah soal mimpi. Tapi mewujudkan mimpi butuh kerja keras. Tidak bisa hanya duduk berteori saja. Terus terang, sebagai manusia biasa saya juga punya angan- angan. Siapa orang yang tidak pernah bermimpi? Semua pasti punya. Mimpi boleh-boleh saja, tapi impoten jangan. Ha…ha…ha…ha…

 

102.  STAFF AHLI :

(P-2) Jangan sampai teori-teori yang sudah kita hasilkan dianggap impoten dan tak berguna. Semua tetap harus kita pertahankan dan kita perjuangkan bersama. Jangan sampai semua yang sudah kita perjuangkan selama ini runtuh begitu saja. Bukan saja kita akan malu kepada khalayak ramai, tapi muka kita sendiri bagaimana di depan bapak Walikota. Malu sekali kita, kalau semua hasil kerja kita dikatakan orang ‘teori impoten’.

 

103.  RELAWAN :

(P-1) Ya, betul. Impoten itu memalukan bagi orang yang punya kemaluan. Ha…ha…ha…ha…..

 

104.  DAN POSKO :

(P-1) (BERGAYA BERBISIK) Punya kemaluan itu jangan malu-malu kucing. Malu-maluin anjing sama tikus. Ha…ha…ha…ha…

 

105.  TIM AHLI :

(P-2) Tidak. Aku tidak malu sama sekali. Semua teori yang sudah aku ajukan bisa aku pertanggungjawabkan. Semua konsep mitigasi bencana yang kita susun dulu itu sudah sangat lengkap dan detil. Kita hanya butuh pembuktian. Kelak kebenaran teori kita ini akan terbukti ampuh untuk mengendalikan bencana beserta dampaknya. Pasti, akan kita buktikan.

 

106.  RELAWAN :

(P-1) Harus dibuktikan, senjata yang ampuh itu harus sudah terbukti             kesaktiannya. Kalau aku sudah membuktikan. Isteriku dua, punya anak semua. Hasil kesaktianku sendiri, bukan hasil pinjam senjata milik tetangga. Ha…ha…ha…ha….

 

107.  TIM AHLI :

Jadi, persisnya mana teori yang kita pakai? Normalisasi atau Naturalisasi?

 

108.  DAN POSKO :

(P-1) Senjata yang normal dan natural pantas dibanggakan. Sekali bekerja langsung manjur, ces pleng, tok cer dan alamiah. Tidak butuh lagi dinormalisasi, tidak perlu dinaturalisasi. Ha…ha…ha…ha…

 

109.  STAFF AHLI :

(P-2) Normalisasi atau Naturalisasi. Keduanya harus kita tinjau dari berbagai aspek. Yang terpenting pada aspek anggaran.

 

110.  RELAWAN :

(P-1) Buat apa susah-susah dinaturalisasi, kan sudah natural. Apanya yang mau dinormalisasi? Habis-habisin duit saja. Kalau merasa loyo , merasa tidak mampu, tinggal datang ke rumah pak RT. Minta surat keterangan tidak mampu. Isi kas RT dua puluh ribu perak, selesai perkara. Ha…haha…ha…

 

111.  TIM AHLI:

(P-2) Kalau saya masih tetap teguh pada pilihan Naturalisasi. Pilihan ini akan membawa dampak positip dan edukatif bagi masyarakat sebab akan melibatkan partisipasi masyarakat sampai ke tingkat RT.

 

112.  DAN POSKO :

(P-1) Pakai bawa-bawa RT segala. Saya ini ketua RT di lingkungan saya. Sampai sekarang belum pernah bikin surat keterangan untuk urusan macam begitu. Tapi benar juga, sebaiknya saya menyiapkan formatnya. Siapa tahu diantara kamu ada yang butuh. Ha…ha…ha…ha…

 

113. RELAWAN :

(P-1) Artinya, tambah kerjaan juga tambah rejeki. Saya dukung Ndan. Setiap RT wajib punya, sepertinya banyak yang butuh. Yang jomblo kronis sudah pasti menyambut gembira. Ha…ha…ha…ha….

 

114.  TIM AHLI :

(P-2) Sebenarnya teori Normalisasi juga tidak salah kalau kita pakai. Masyarakat di tingkat RT-RW juga bisa kita libatkan dalam pelaksanaan proyeknya. Bisa bersifat padat karya. Lebih hemat anggaran, sebab tidak banyak lahan yang harus dibebaskan. Pelaksanaannya bisa lebih cepat. Jadi, terminologi TOA bisa kita minimalisir. Artinya, nantinya kita tidak perlu lagi teriak berkoar-koar berdebat sampai putus urat leher soal teori. Naturalisasi selama ini sudah jadi umpan lezat bagi para lawan politik.

 

115.  STAFF AHLI :

(P-2) Menurut pendapat saya, Tim Ahli memang harus memikirkan dampak psikologis dan politis bagi pertimbangan keuntungan yang mana sekiranya paling banyak menguntungkan pihak kita dari segala aspek. Kalau saya, andai berkenan, lebih memilih teori baru daripada mengadopsi teori Walikota periode yang lalu. Jadi, harus ditawarkan teori baru.

 

116.  RELAWAN :

(P-1) Teori itu gampang dibikin. Yang penting pelaksanaannya. Kalau semua ketua RT bikin format surat keterangan tidak mampu buat meringankan beban psikologis para jomblois mungkin masuk akal. Tapi bagaimana jika ternyata yang tidak mampu justru pak ketua RT sendiri? Terus yang minta surat adalah istrinya pak RT sendiri dan disalah gunakan? Aduuuh… sakitnya pak RT tuh di sini. Ha…ha…ha…ha…

 

117.  TIM AHLI :

(P-2) Harus hati-hati. Jangan sampai blunder menjadi senjata makan tuan.

 

118.  DAN POSKO :

(P-1) Senjata makan tuan pak RT. Ha…ha…ha…ha… Tapi jelas bukan saya yang bakal kena. Saya jamin seribu persen saya ini pak RT yang siap tempur. Ha…ha…ha…ha….

 

119.  TIM AHLI :

(P-2) Yahh…, akan sedikit rumit. Tapi kami Tim Ahli siap bertempur mati-matian untuk itu. Baik, senyampang bapak Walikota belum hadir di sini, kita kerucutkan konsepnya terlebih dulu. Naturalisasi atau Normalisasi, dua-duanya kita perdalam masak-masak. Tetapi saya tetap memilih mengajukan konsep Naturalisasi. Ini teori yang terlanjur popular dan terlanjur menjadi polemik. Jika kita berhasil memenangkan pertarungan di opini publik akan jauh lebih menguntungkan bagi pihakkita secara psikologis maupun politis.

 

120.  RELAWAN :

(P-1) Tanya Ndan. Yang itu tadi cuma opini apa kebenaran?

 

121.  DAN POSKO :

(P-1) Yang mana?

 

122.  RELAWAN :

(P-1) Yang siap tempur tadi Ndan. Hoax apa fakta?

 

123.  DAN POSKO :

(P-1) Pasti bener lah. Kalau mau bukti, nanti malam bawa istrimu padaku. Biar besok pagi dia cerita sendiri ke telingamu yang congek itu.

 

124.  RELAWAN :

(P-1) Anjiiing… aku kena lagi.

 

125.  RELAWAN :

(P-1) (KOOR TERTAWA) Haaa….haa…ha…ha…ha….

 

126.  STAFF AHLI :

(P-2) Sekiranya mungkin, kita gabung kedua teori itu. Tetapi public

champagne-nya tetap Naturalisasi. Karena sepertinya kita sulit untuk menghindari naturalisasi total, mengingat akan memakan anggaran yang sangat besar. Ini akan menjadi kecurigaan bagi khalayak. Saya juga tidak yakin orang-orang DPR akan setuju jika melihat nominal anggarannya. Anggap saja, dalam tanda petik, ini teori Naturalisasi. Ya. Naturalisasi dalam tanda petik.

 

127.  DAN POSKO :

(P-1) Makanya orang itu harus punya keyakinan pada diri sendiri. Ibarat

partai politik, wajib punya ideologi yang mendalam di dalam hati. Kalau sekarang sih sudah hampir tidak ada partai yang ideologis. Alias ideologinya tanda petik. Makanya, sekarang ini yang kita saksikan setiap di hari media hanya sebatas omong kosong tanpa dasar keyakinan yang sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat. Yang kebanjiran akan tetap kebanjiran setiap tahun. Sebabnya ya itu tadi, ideologinya tanda petik. Bodoh dan tidak jelas ke mana arahnya. Rakyatlah yang berkali-kali harus berkorban dan dikorbankan.

 

128.  TIM AHLI :

(P-2) Jadi, maksudnya bagaimana cara kita mengkamlufase secara cerdas

atas dasar teori-teori yang sahih sehingga kesan kebenaran teorinya mutlak dan tak terbantahkan. Begitu?

 

129.  TIM AHLI :

(P-2) Tidak ada kebenaran yang mutlak. Tetapi intinya kita harus bisa

memenangkan peperangan tanpa harus menggunakan terminologi TOA. Itu tantangannya.

 

130.  RELAWAN :

(P-1) Ternyata, oh ternyata. Akhirnya tuntas juga. Bagaimana ini Ndan? Semua sudah selesai kita kemas, tinggal nunggu mobil kendaraan armada.

 

131.  DAN POSKO :

(P-1) Mobil ya mobil saja. Tidak usah ditambah kendaraan armada. Boros

bicara kamu, kaya orang tivi saja, ngomong berbuih-buih tapi itu-itu saja yang diulang dengan kata-kata berbeda tapi arti tetap sama saja. Begitu itu jadinya kalau kamu belajar ngomong dari tivi. Ha…ha…ha…ha… Terkesan keren tapi sebenarnya goblog. Goblog tanda petik, tapi keren. Ha…ha…ha…ha….

 

132.  STAFF AHLI :

 (P-2) Oh, ya. Saya hampir lupa. Pesan bapak Walikota tadi sangat tegas, bahwa rumusan yang kita hasilkan nanti harus terkesan sangat keren, cerdas, dan meminimalisir celah sekecil apapun bagi orang lain yang mencoba mencari-cari kesalahan. Harus terkesan memiliki ideologi dan filosofi yang kuat. Semua harus terlihat sempurna dan detil. Jadi, reputasi kita di sini sangat dipertaruhkan. Kita sudah bosan jadi bahan tertawaan, seolah-olah kita semua seperti kambing congek di mata mereka.

 

133.  TIM AHLI :

(P-2) Jangan kurang ajar. Jaga bicara anda. Terus terang kami Tim Ahli sangat tersinggung. Tolong hargai kerja keras kami, jangan ngomong seenaknya. Jangan-jangan anda-anda sendiri yang justru menertawakan hasil kerja kami.

 

134.  DAN POSKO :

(P-1) Bersukurlah kita, hasil kerja kita sudah diapresiasi dengan baik. Masyarakat mengapresiasi sangat baik. Orang-orang atasan juga memuji hasil kerja kita. Ini semua prestasi kita bersama. Tanpa kalian, aku tidak ada apa-apanya. Jadi, saya sangat berterima kasih atas loyalitas dan kegigihan kalian semua. Jujur, saya terharu setiap menyaksikan betapa kalian telah berkorban jiwa dan raga demi tugas mulia ini.

 

135.  RELAWAN :

(P-1) Siap Ndan. Kami bersemangat karena Komandan juga berdedikasi penuh pada tugas. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menghormati Komandan. Komandan adalah contoh yang sempurna bagi kami. Komandan adalah panutan bagi kami. Berdedikasi sekaligus rendah hati.

 

136.  TIM AHLI :

(P-2)  Saya benar-benar tersinggung. Seolah kami seluruh Tim Ahli tidak memiliki kapasitas yang cukup. Kami sudah mendedikasikan seluruh yang kami miliki demi tugas berat ini. Apalagi yang kurang dari kerja kami?

 

137.  STAFF AHLI :

(P-2) Sekali lagi, saya mohon maaf. Tidak ada sebersitpun di dalam benak saya berniat meragukan kapasitas dan dedikasi semua anggota Tim Ahli. Tetapi mohon dimengerti, kami juga sedang menjalankan tugas kami mengawal proses ini dengan baik dan berakhir dengan memuaskan. Ini perintah bapak Walikota kepada kami.

 

138.  WALIKOTA :

(P-2) (MASUK BERSAMA AJUDAN) Selamat siang.

 

139.  SEMUA :

(P-2) Selamat siang.

 

140.  WALIKOTA :

(P-2) Bagaimana diskusinya? Sudah ada hasil?

 

141.  STAFF AHLI :

(P-2) Bagus Bapak. Semua berjalan baik dan dinamis. Tinggal…

 

142.  TIM AHLI :

(P-2) (MEMOTONG) Sudah Bapak. Tetapi kami masih menunggu keputusan Bapak. Mana yang akan dipilih, Naturalisasi apa Normalisasi? Atau kombinasi dari keduanya? Terserah Bapak yang memutuskan. Selanjutnya kami akan….

 

143.  WALIKOTA :

(P-2) (MENGGEBRAK MEJA KERAS-KERAS. MARAH BESAR)

Goblog sekali kalian. Kalian semua saya bayar dengan gaji gede itu untuk berpikir. Tugas kalian hanya berpikir. Kalau semua harus bergantung pada saya, buat apa kalian semua ada di sini? Tahu tidak? Hari ini pemerintah pusat kirim dua menteri untuk berkantor di sini selama tiga hari. Ini merusak reputasi saya. Muka saya ditaruh dimana kalau sudah begini? Mereka datang dengan tawaran konsep mitigasi yang berlawanan 180º dengan konsep kita. Jelas saya tolak mentah-mentah, malu saya kalau konsep pusat saya terima begitu saja. Jadi, kalian berpikirlah lebih keras lagi. Jangan bikin malu saya dihadapan orang pusat. Berpikirlah, berpikir… berpikir…, selamatkan muka saya. Kontestasi pilwali tinggal sebelas bulan lagi, saya bisa kalah. Bisa hancur, hancur…! Paham tidak?! Jadi, jangan kecewakan saya. Kalian semua sangat saya andalkan. Tugas kalian cuma berpikir, soal berapapun anggaran itu tugas saya. Yang penting pikirkan dan rumuskan baik-baik untuk menjawab orang pusat secepatnya. Hari ini saya sudah cukup jadi bulan-bulanan media massa. Apalagi suara-suara netizen, brengsek semua. Ini buruk sekali, elektabilitas saya bisa habis. Sudah. Cukup. Tidak ada lagi pilhan lain. Saya tidak mau tahu bagaimana cara kalian mengerjakan tugas ini. Saya tunggu sampai akhir sore ini semua harus selesai. Kalau tidak, malam ini juga kalian saya pecat. (EXIT. DIIKUTI AJUDAN).

 

(P-2) : SEMUA YANG TERSISA DI RUANGAN ITU SEOLAH KEHILANGAN DAYA. DENGAN STYLE MASING-MASING, MEREKA MENCOBA MENGENDALIKAN SITUASI DI DALAM DIRI MEREKA SENDIRI.  SALING DIAM DAN MENCOBA SIBUK DENGAN LEMBAR KERJA MEREKA MASING-MASING.

 

(P-1) : KOMANDAN POSKO SIBUK MENGATUR KERJA PARA RELAWAN MEMBAWA BARANG-BARANG KE LUAR (EXIT). SETELAH MEMERIKSA DENGAN TELITI, AKHIRNYA SANG KOMANDAN PUN IKUT PERGI (EXIT). SEPENINGGAL PARA RELAWAN, WARTAWAN DATANG, PANDANGANNYA MENGIKUTI ARAH PARA RELAWAN PERGI. KEMUDIAN :

 

144. WARTAWAN :

(P-1)  Stop press…!

Hari yang panas dan melelahkan.

Bencana air bah sudah pulang kembali kepada Tuhannya.

Tetapi ia masih menyisakan bencana di kantor Walikota.

Domino effect yang ditakutkan, benar-benar melebihi bencana

Ya, sang pemimpin kita sedang dirundung ambisi

Bagi dirinya, pertarungan belumlah usai

Mungkin pula tak akan pernah usai

Pun ada pertarungan baru justru sedang dimulai

Sedangkan kemenangan masih jauh dari kenyataan

Mendung di atas kepalanya kian menebal

Pasti, ia akan kerahkan segala daya untuk melawan

Hanya ada satu pilihan, memenangkan pertarungan atau hancur sama sekali

Transaksi-transaksi politik akan segera digencarkan

Di jaman ini, politik tak ubahnya bisnis jual-beli kayu api

Kalah jadi arang, menangpun jadi arang

Politik era mutakhir tak kenal lagi apa itu ideologi

Politik sudah menjadi permainan bodoh yang memabukkan

So, who will be able to stop it?

Walikota…?! Di mana engkau Walikota…?! Walikota…?!

Baik-baik sajakah kamu? Walikota…?!

Mata dunia sedang mengincarmu. Walikota…?!

Ha…ha…ha…ha…ha….  Haaa…haa… ha…ha… ha….

 

~ FADE OUT ~

~ BLACK OUT ~

 

~ S E L E S A I  ~


Bojonegoro, 2 Nopember 2020

SISWO NURWAHYUDI


Support/dukungan/apresiasi :

Klik di sini