NASKAH DRAMA MONOLOG TRILOGI : "MATAHARI BURAM"


MATAHARI BURAM
NASKAH DRAMA MONOLOG
Siswo Nurwahyudi




I.             ANAK REVOLUSI

FADE IN : SUARA KERETA API LEWAT. MENDENGAR SUARA KERETA, TOKOH KITA YANG SEDARI TADI BERMAIN KERETA API MAINAN BERHENTI SEJENAK. KEPALANYA MENOLEH KE ARAH SUARA KERETA API DAN MENGIKUTINYA SAMPAI SUARA KERETA ITU MENGHILANG. KEMUDIAN KEMBALI MELANJUTKAN BERMAINNYA. KERETA TERDENGAR LEWAT KEMBALI DARI ARAH BERLAWANAN, TOKOH KITA PUN BERHENTI DAN KEPALANYA KEMBALI MENGIKUTI ARAH SUARA KERETA HINGGA SUARA ITU MENGHILANG. BERHENTI BERMAIN – BERDIRI – MENGAMBIL KURK - BERJALAN KE TEPI TERALIS  – BERJINJIT DI ATAS KURSI MEMANDANG KELUAR - TURUN – DUDUK DENGAN SANTAI.

01)         Kereta sekarang benar-benar melaju jauh lebih cepat. Kebanyakan orang sekarang senang dengan yang serba cepat. Dunia seakan hendak mereka putar lebih kencang. Tak ayal jika banyak orang tidak percaya ketika bercermin, terkejut, betapa raga tiba-tiba lebih cepat menua daripada hasrat dan keinginan-keinginannya. Banyak keinginan-keinginan yang masih menggantung di angan-angan, tetapi di depan cermin ia meragukan kesanggupan usianya. Dan selepas dari cermin, ia bergegas memutar dunianya lebih cepat lagi, lebih cepat lagi, lebih cepat lagi. Begitulah.

02)      Mereka tidak menyadari, bahwa dunia memiliki aturan waktu sendiri sesuai kehendak si pemilik waktu. Percayalah, nafsu untuk menggiling waktu secepat kau ingin tanpa perhitungan yang matang adalah bibit awal bencana bagi hidupmu. Apalagi jikalau kamu hanya mengandalkan perhitungan kasat mata, hitung mundur dari bencana sudah sangat dekat. Yang bisa memutus sumbunya hanya kesadaran dan kesabaran.

03)      Kesabaran akan memberi kekuatan, semakin sabar akan semakin kuat. Kesadaran akan memberi jalan lapang menuju tujuan, semakin tinggi kesadaran akan semakin terang. Saya bisa berkata, sebab saya sudah menemukan jawaban soal ini dari sejarah hidup saya sendiri. Juga dari tragedi sejarah Partai di mana saya ikut berdarah-darah berkorban jiwa raga.

04)         Secara kasat mata, dulu Partai kami sangat patut diperhitungkan. Pendek kata, Partai yang memiliki segalanya. Struktur yang mapan. Ketersediaan dana yang memadai. Sistemnya berjalan sangat baik. Kedisiplinan dan loyalitas yang tinggi. Pengikut yang besar dan tersebar merata hampir di setiap jengkal tanah pertiwi. Apalagi soal militansi, tidak perlu diragukan lagi. Satu-satunya yang belum di tangan kami hanyalah puncak kekuasaan tertinggi. Kurang apa coba? Nyatanya? Hancur-lebur seperti telur ayam yang jatuh dari ujung tanduk kemudian diinjak-injak kaki gajah hingga lumat sama sekali.

05)         Sebabnya hanya satu faktor sepele saja, yaitu melawan kehendak sang waktu. Kata pepatah Jawa : “anggege mangsa, nilar grahita, pepes wekasane”. Karena terburu-buru merebut puncak kekuasaan yang sebenarnya tinggal menanti waktu di depan mata, akal sehat dikesampingkan. Akibatnya? Ah, semua orang sudah tahu akhirnya. Pepes wekasane. Habis tumpas tinggal ampas penyesalan yang tak pantas disesalkan lagi.

06)       (BANGKIT DARI DUDUK, MELANGKAH SATU-SATU)  Tentang kesabaran. Sejak kecil saya sudah dilatih untuk bersabar. Bagaimana tidak, saya lahir dari keluarga petani miskin. Kehidupan yang jauh dari rasa mulia. Pada masa itu petani miskin seperti kami, hanya punya kesabaran saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Tanah penghidupan kami yang luasnya tidak seberapa itu adalah lumbung perahan bagi penguasa dengan sistem ‘contingenten’ atau pajak hasil bumi yang dipungut dari hasil panen petani. Besarannya saya tidak ingat, tetapi saya mendengar Bapak sering mengeluh soal bersaran ‘beras contingenten’ yang harus diserahkan kepada Mantri Tondo. Mantri Tondo bukanlah nama, tetapi jabatan seorang mantri pungut pajak yang rutin datang ke setiap desa naik kuda dan membawa ‘cikar’ untuk menganggkut hasil pungut dari pajak hasil bumi. Itu yang masih saya ingat sampai sekarang.

07)        Saya memiliki satu kakak perempuan bernama ‘Rah’ atau Mirah dan satu adik perempuan bernama Wening. Saya sendiri dipanggil ‘Poet’ panggilan singkat dari ‘Poetro’. Orang Jawa bilang kami tiga bersaudara ‘pancuran kapit sendang’, dan harus ‘diruwat’ menurut aturan adat Jawa agar bisa membuang ‘sukerta’. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, bapak tidak mampu menyelenggarakan upacara ‘ruwatan’ sebagaimana seharusnya.

08)         Oleh Bapak, kami anak-anak bertiga cukup dibawa ke rumah seorang ‘dalang’ ruwat di desa tetangga dengan ‘sesaji’ dan ‘uba-rampe’ seadanya saja untuk sekedar melunasi syarat supaya bisa diruwat. Di rumah ‘dalang ruwat’ dilakukan tatacara ruwatan sesuai urut-urutan dan dibacakan mantra-mantra. Kemudian di ‘gebyag’ pergelaran padat lakon wayang ‘Murwakala’ sekitar satu atau dua jam saja. Kalau pergelaran penuh bayarnya mahal, Bapak tidak sanggup. Tidak sembarang ‘dalang’ merupakan ‘dalang ruwat’, harus orang yang sudah menerima ‘pulung’ tertentu.

09)      Di tengah pergelaran wayang Murwakala itu saya jatuh pingsan. Menurut cerita Bapak sewaktu pingsan, tokoh ‘Batharakala’ sedang ada di tangan dalang. Terus secara tidak sadar, kata Bapak, dengan watak suara Batharakala dalang menyuruh aku dibawa naik kereta api dan ‘dipilis langes’ kereta api. Tiga hari kemudian saya dibawa Bapak ke Stasiun, diajak naik kereta api melunasi apa yang diucapkan Batharakala.

10)      (DUDUK DI BANGKU PANJANG)  Di dalam gerbong kereta itu ada seorang bapak-bapak berbaju batik senyam-senyum melihat kening, hidung, pipi, dan dagu saya dicoreng ‘langes’ atau jelaga yang diambil dari badan lokomotif. Bapak itu kemudian bercakap-cakap dengan Bapak saya. Bapak itu bilang : “Maaf Pak saya mengerti, sebagai orang tua pasti ingin anak-anaknya selamat hidupnya di dunia. Tetapi dengan cara ‘ruwatan’ itu bapak sudah melakukan kesalahan. Bapak jangan marah dulu, nanti sampai stasiun tujuan saya ajak Bapak dan anak Bapak mampir di rumah saya. Bapak berdua bisa menginap di rumah saya, dan kembali besok dengan kereta pagi. Saya harap Bapak tidak menolak, kasihan anak Bapak kalau harus tidur di stasiun”.

11)         Bapak saya bersedia memenuhi tawaran baik itu. Jadilah kami menginap barang semalam di sana. Entah apa yang mereka bicarakan semalam, esok paginya saya diberi kabar kalau saya akan diantar kembali ke rumah itu seminggu kemudian. Alasannya, saya akan dipungut anak dan akan disekolahkan di sana. Saya kaget sekaligus gembira, bisa sekolah adalah salah satu impian saya waktu itu. Saya hanya bisa mengangguk kecil, tetapi rupanya itu sudah cukup memberi jawaban kepada mereka.

12)         Ah yaa…, ada yang terlewat. Seusai ‘diruwat’ telah ditambahkan satu kata pada nama saya : ‘Soeryo’. Jadilah nama lengkap saya menjadi : ‘Soeryo Poetro’. Artinya ‘Anak Matahari. Panggilan saya di keluarga tetap ‘Poet’, tidak berubah. Tetapi di tempat baru, di kota di mana kemudian saya tinggal dan bersekolah, saya dipanggil ‘Soeryo’ atau ‘Soer’ saja. Bapakku yang baru seorang ‘Priyayi’ yang terpelajar. Pengusaha batik yang sibuk, jadi jarang sekali di diam rumah. Ibu bercerita, “Soer, tujuan kami memungut kamu itu supaya di rumah ini ada anak yang menemani ibu. Bapak lebih sering keluar kota mengurus dagangan batik. Kamu jangan risau, ibu senang kamu sekarang ada di sini. Sudah empat belas tahun kami kawin tapi belum punya ‘momongan’. Kami akan sekolahkan kamu sampai jadi orang pinter. Ibu janji pada kamu”. 

13)        ‘Soeryo Poetro’ namaku. Saya senang dengan nama saya, identik dengan tokoh pewayangan : ‘Adipati Karna’ yang juga dinamai ‘Surya Putra’, kesatria agung putra dari ‘Bathara Surya’ atau sang ‘Dewa Matahari’.

14)      Saya dengar sang Pemimpin Besar Revolusi kita juga sangat terobsesi dengan karakter kesatria ‘Karna’ sang putra ‘Bathara Surya’. Beliau merubah namanya dari Kusno menjadi Soekarno. Ha…ha…ha…ha…ha… Aku harus bisa seperti Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi. Begitulah cita-citaku masa itu. Masa di mana Revolusi sedang bergelora di setiap dada para pemuda. Begitu pula saya : ‘Soeryo Poetro’, si anak Revolusi.

~ BLACK OUT ~


II.          MATAHARI DAN REMBULAN

FADE IN : KIRI BELAKANG PANGGUNG. TOKOH KITA BERDIRI DI ATAS KURSI. KEDUA TANGANNYA MEMEGANG KURK LAYAKNYA SEBUAH BEDIL.

15)      Inilah saya, Wira Irawan. Saya dahulu adalah seorang Mayor Tentara. Jabatan terakhir, Perwira Seksi Inteligen di Bataliyon ternama di ibu kota. Aku memulai karirku di militer dalam perjuangan bersenjata dengan pangkat Letnan. Kemudian dinaikkan menjadi Kapten sebagai Komandan menghadapi Agresi Militer Belanda. Saya turut memimpin barisan Long March dari Yogyakarta menuju Jawa Barat. Pasukanku sukses memasuki tanah Priangan lebih cepat dari rombongan pasukan yang lainnya.

16)      Tugas berat pertama di tanah Priangan yang harus saya emban bersama pasukan saya adalah menumpas pemberontakan kaum kanan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil pimpinan Westerling yang mendirikan negara Pasundan. Dua tugas yang sangat melelahkan, sebab selain bertempur dengan para pemberontak, kami juga harus berhadapan dengan serangan-serangan tentara Belanda.

17)         Mudah sekali anda bayangkan, orang seperti apa saya pada masa itu. Misi yang sangat sulit untuk dijalankan. Betapa tidak? Saya adalah loyalis Partai yang berseberangan 180 derajat dengan ideologi kesatuan Angkatan Darat dimana saya adalah adalah perwira menengah yang memimpin satu regu inteligen. Komandan Bataliyon dan perwira-perwira lain di sekelilingku sudah pasti adalah musuh Partai. Dan tugas saya di sana adalah menghimpun informasi akurat sebanyak-banyaknya tentang gerakan politik Angkatan Darat untuk saya kirimkan secara rahasia kepada Partai.

18)       Saya mengirimkan semua informasi melalui kawan Entin sebagai atasan saya langsung di Badan Rahasia Partai. Anda mungkin bertanya-tanya, siapakah sebenarnya kawan Entin. Ha…ha…ha…ha……. Saya punya cerita Panjang tentang kawan Entin yang tidak mungkin bisa saya lupakan begitu saja. Kami berjumpa di satu sekolah di tanah seberang. Tanah di mana keluarga saya dihukum buang oleh pemerintah Belanda bersama-sama dengan para tokoh pergerakan. Bapak yang saya kenal sebagai pengusaha batik ternyata merupakan salah satu aktivis pergerakan. 

19)      Di tanah buangan itu juga, lahir kedua adik saya. Kelahiran anak-anak yang selama ini diimpikan Bapak dan Ibu akhirnya datang juga. Kami menyambut bahagia, kini aku punya dua adik perempuan lagi dari orang tua angkat yang begitu mengasihi saya meski sudah hadir dua buah hati dari rahim sendiri.

20)         Kembali ke kawan Entin. Saya berjumpa dengannya ketika kami masih sangat muda. Saya lebih suka memanggil dia dengan nama ‘Rembulan Merah’. Gadis lincah dan cantik dengan pipi yang merona kemerahan. Sangat cocok disandingkan dengan nama “Soeryo’ yang artinya Matahari. Ya, saya dan dia : Matahari dan Rembulan. Sudah sangat romantik pada masa-masa itu. Rembulan Merah, bagiku dia adalah gadis yang istimewa. Gadis yang suka menari dan menyanyi di saat bulan sedang purnama. Ha…ha…ha…ha…….

TOKOH KITA KEGIRANGAN. DI ATAS KURSI MENARI DAN TERUS TERTAWA. IA GUNAKAN KURK DI TANGANNYA SEBAGAI GADIS PASANGAN MENARINYA.

21)       Tidak pernah saya rasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang sama seperti masa-masa menari bersama Rembulan Merah. Ha…ha…ha…ha…… Malam-malam purnama terindah sepanjang hidupku. Ha…ha…ha…ha… Sebab setelahnya tak pernah ada lagi Rembulan Merah yang menari. (TARIANNYA MELAMBAT HINGGA BERHENTI, WAJAHNYA MURUNG)  Ya, Rembulan Merah satu-satunya gadis yang saya cintai. Sayang, Partai tidak mengijinkan saya untuk menikahinya. Sampai sekarang perasaan itu masih saya pendam. (BERTERIAK)  Rembulan Merah…… Tidak tahukah kamu? Saya cinta kamuuu……!!


( ~ BLACK OUT ~)

III.        MATAHARI BURAM

FADE IN : ~ SLHUET LIGHT STAGE ~ SUARA KERETA API. TOKOH KITA BERGULING-GULING DAN MERAYAP-RAYAP DI GELAP MALAM. BERSEMBUNYI DAN MENGAMATI KEADAAN SEKITAR DENGAN SEKSAMA. SUARA KERETA MENGHILANG. HENING BEBERAPA SAAT, HANYA SUARA TARIKAN DAN HEMBUSAN NAPAS TOKOH KITA YANG TERDENGAR SANGAT BERAT.

TOKOH KITA MERAYAP LAGI. SESEKALI HENDAK BERDIRI BERJALAN, TETAPI TULANG KAKINYA YANG PATAH MEMBUATNYA TERHEMPAS KAMBALI. ERANGAN BERPACU DENGAN NAPASNYA. LALU LENYAP DITELAN GELAPNYA MALAM.

~ FADE OUT ~

SPOTLIGHT FADE IN : KANAN BELAKANG PANGGUNG, REMBULAN MERAH BERDIRI DI ATAS KURSI MENARIKAN TARI PIRING.

MENYUSUL KEMUDIAN ~ SPOTLIGHT FADE IN ~ KIRI DEPAN PANGGUNG, TOKOH KITA BERDIRI MEMANDANG BULAN PURNAMA.

22)     Setiap purnama tiba, di pelataran ini saya selalu merindukan Rembulan Merah sedang menari-nari di sana. Tariannya yang gemulai, senyum yang selalu mengembang, dan rona merah di pipinya. Di sini, membayangkan kamu sekarang menjadi Puteri Bulan yang pernah kamu dongengkan dulu. Ya, jika boleh saya berharap, kamu sekarang sedang menari di bulan sana sebagai Puteri Bulan. Dan di malam-malam purnama saya akan selalu menantimu turun menjumpai saya di sini. Rembulan Merah, Jujur saja saya lebih suka memanggilmu begitu daripada panggilan ‘Kawan Entin’. Nama ‘Rembulan Merah’ lebih pantas kau sandang, bahkan jika dibanding dengan nama asli pemberian orang tuamu. (TERTUNDUK, MENANGIS)  Oh…, Rembulan merahku yang malang.

SEIRING TANGIS TOKOH KITA, PERLAHAN LIGHT SPOT PADA PENARI PIRING FADE OUT. TOKOH KITA TAMPAK SANGAT GELISAH, SEPERTI BINGUNG HENDAK APA SAAT ITU. AKHIRNYA TERDUDUK DI KURSI TEMPAT PENARI TADI. ~ SPOTLIGHT FADE INI ~ TOKOH KITA TERKULAI.

23)      Andai kamu tidak menyusul saya dan mengajak lari dulu itu, mungkin kamu tidak akan tertangkap. Namamu aman, tidak masuk dalam barisan daftar orang yang dicari-cari para tantara. Tetapi kamu ‘ngeyel’ tidak mau mendengar saran saya untuk tetap tenang di villa itu. “Menyelamatkan anak buahku sudah menjadi tangung jawabku. Ini perintahku atas nama Partai”, katamu. Kalau sudah seperti itu perintahmu, saya bisa apa? Tetapi itu bodoh dan konyol sekali. Kamu harusnya percaya pada saya, kalau saya mampu menyembunyikan diri saya sendiri. Ingat kata saya dulu? Hanya saya berempat yang ada di daftar mereka, kamu tidak. Jadi mestinya saya yang ditangkap, bukan kamu.

24)         Mungkin kamu tidak pernah tahu sekarang saya ada di mana. Mungkin kamu sudah mengira saya mampus digilas roda-roda kereta malam itu. (TERTAWA KECIL MENGEJEK) Xiixixi…xixixi… tidak semudah itu? Masih kuat dalam ingatanku, malam itu aku dorong kamu pada saat yang tepat sambil saya tarik tangan orang yang memegangiku menggantikan kita di tengah rel. saya melompat keluar, sayang satu kakiku tersambar ujung besi lokomotif. Saya terpental dengan tulang kaki patah. Tetapi masih hidup dan tetap sadar keadaan. Mungkin kamu mengira tubuh malang yang hancur itu tubuhku

25)         Bukan saya yang sebenarnya pintar, tetapi merekalah yang bodoh membiarkan tangan kita berdua tidak diikat. Tentu Rembulan Merah masih ingat, hanya satu orang yang menjaga dan memegangimu. Orang itu lari terbirit-birit mendengar suara tubuh manusia digilas roda-roda kereta. Saya mengira orang itu pasti juga terkencing-kencing dicelana. Ha…ha…ha……

26)         Selebihnya semua yang berjumlah puluhan itu bergerombol berada di seberang. saya bisa melihat semuanya dari tempatku terjatuh. Saya segera menggunakan kesempatan itu untuk merayap dan bersembunyi. Dari tempatku sembunyi, remang-remang saya masih bisa melihatmu di bawa kembali ke arah stasiun. Tidak ada yang mencoba menyelidik siapa orang yang sebenarnya mampus terlindas kereta malam naas itu. Mungkin juga mereka semua mengira sayalah yang mampus. Ah, sukurlah malam gelap berkabut telah membutakan mata mereka. Sehingga saya dapat leluasa menyelinap di balik malam menyelamatkan diri ke seberang kali dan mencari tempat sembunyi yang aman dan jauh dari perkampungan.

27)      Bekal bertahan hidup yang kita pelajari dulu itu sangat-sangat berguna pada saat-saat seperti itu. Ha…ha…ha…ha…….. Betapa Partai sudah menyiapkan bekal bagi kita lebih dari cukup. Dengan berbagai jurus, toh akhirnya saya bisa hidup sampai sekarang. Hidup nyaman, dan menjadi orang terhormat. Kok bisa? Ha…ha…ha…ha………

28)       Pada saat pelarianku, tidak sengaja aku menemukan sebuah tanda pengenal yang sudah lusuh dengan pas foto yang sudah kurang jelas wajahnya. Di sana tertulis nama ‘Bagaskoro’ maka jadilah saya sebagaimana nama yang tertulis di surat itu. Ha…ha…ha…ha… sebuah kebetulan yang luar biasa. Aku merasa sangat beruntung. Bagaimana tidak? ‘Bagaskoro’ adalah nama lain dari ‘Soeryo’ dalam kamus Bahasa Jawa, sama-sama berarti Matahari. Sama artinya dengan nama baptisku dari dalang ruwat : ‘Soeryo’ dan ‘Bagaskoro’. Ha…ha…ha…ha…….. Jadi sekarang namaku masih sama : ‘Matahari’. Ha…ha…ha…ha……….

29)    (TERTAWANYA BERHENTI MENDADAK)  Oh, maaf. Saya tidak bermaksud merayakan kemalangan yang menimpamu. Saya hanya merasa geli saja. Tentu saya sangat peduli padamu Rembulan Merahku. (BANGKIT DARI DUDUK)  Saya terus mencari kabar tentang kamu. Saya mendapatkan informasi yang bisa dipercaya, malam itu kamu diselamatkan oleh regu tentara dari ancaman amuk orang-orang yang menangkap kita. Kamu dikirim ke tahanan militer. Saya sedikit lega, meskipun agak was-was juga. Jadi saya masih peduli padamu, tetapi dengan keadaanku dalam pelarian. Saya bisa apa?

30)     Oh iya, masih ada cerita lain pada masa itu. (BERSEMANGAT)  Ketika saya mencoba memastikan di mana kamu dipindahkan dari tempat pertama kamu ditahan. Coba tebak, apa yang saya lihat? Mau tahu? Saya lihat Tjung. Iya, bener, sumpah mati saya lihat Tjung. Anak itu sudah tumbuh besar, gagah, tampan, dan berpakaian bagus. Sungguh, saya tidak mungkin ‘pangling’ dengan anak itu. Tjung dengan tenang menghampiri dua tentara bersenjata yang berjaga di depan gerbang penjara barumu sana. Sepertinya lagak-lagunya tidak ada takut-takutnya sama sekali. Sangat biiaaasaaaa… sekali. Sama sekali tidak tampak raut wajah ragu ataupun takut pada dirinya. Padahal kalau sampai ketahuan dia adalah orang Partai, nasibnya akan berakhir di penjara. Wah… Saya kagum pada Tjung saat itu. Pemberani dia.

31)        Saya terus perhatikan dia. Tjung bercakap-cakap dengan dua tentara itu beberapa menit. Kemudian tampak kecewa, lalu pergi. Jalan kaki saja dia, berkali-kali kakinya menendangi kerikil kuat-kuat ke arah jalanan. Satu kerikil hampir saja mengenaiku. Ingin sekali saya datangi Tjung, memeluknya, saya kangen padanya. Tetapi tidak mungkin, itu akan membahayakan Tjung. Ah, biarlah rasa kangen ini saya pendam saja asal semua selamat.

32)       Di sana saya menyimpulkan, bahwa Tjung juga tahu kabarmu dan dia mencarimu seperti halnya saya. Ah, kamu memang anak berbakti Tjung. Tahu balas budi kepada Tetehmu yang sabar merawatmu dan gigih mendidikmu. Saya pantas bangga dan hormat padamu. Keputusan Tetehmu benar, seandainya kamu masih bersamaku mungkin nasibmu akan lain.

33)         Ohh… Tjung. Dulu saya membawamu karena berharap dapat mengobati rasa bersalah saya, perkara orok dari rahim kawan Rembulan Merah yang aku lempar keluar gerbong kereta malam itu. Jangan dikira hati saya ini tidak galau, saya juga manusia yang punya rasa kasihan pada orok tak berdosa. Andai kamu tahu Tjung, itu semua saya lakukan demi misi Partai. Partai itu dalam tanda kutip seperti agama bagi kami, garis perjuangan Partai harus dipegang teguh meski nyawa menjadi taruhannya. Dan malam itu, di gerbong kosong kereta kami, saya dan Tetehmu, sedang dalam misi penting bagi peran Tetehmu di kemudian hari. Partai butuh dia menjadi orang baru, jadi semua yang berhubungan dengan masa lalunya harus lenyap. Ya, sebenarnya misi Tetehmulah yang lebih penting malam itu, saya hanya menghantarkan saja. Begitulah.

34)       (MEMENDAM RASA, HAMPIR MENANGIS)  Oh… Entin, maafkan saya. Partailah yang memberi perintah agar orokmu lenyap dari hidupmu, saya diperintah untuk mengeksekusi. Perasaanku kacau ketika kamu menjerit histeris melihat orokmu saya lempar keluar. Tangismu yang menghiba bercampur marah seperti sejuta panah Arjuna menembus dada. Tetapi apa boleh buat, kita sedang dalam misi Partai, menjadikanmu orang baru dengan misi baru. Saya tidak pernah bisa melupakan peristiwa gerbong kereta tengah malam buta dulu itu. Setiap mendengar deru suara laju kereta malam jiwa ini terasa gemeretak. Pikiranku tak bisa tenang. Sampai saya akhirnya menemukan Tjung. Anak itu seakan obat mujarab bagi pikiran dan jiwaku. Sejak ada Tjung di antara kita, saya bisa lebih tenang berhadap muka denganmu. Tjung, di mana kamu sekarang? Susah sekali mengikuti jejakmu, kamu itu seperti hantu saja. Saya berharap kamu masih hidup.

35)         Aku dengar cerita soal kamu, Tjung. Kamu adalah orok yang ditemukan penuh luka di dekat rel kereta pada malam buta. Ketika Pak dan simbok-mu menceritakan semua tentang kamu, dada ini bergetar. Tetapi mana mungkin itu kamu, rentang waktu peristiwanya sangat jauh. Usiamu jauh lebih tua dibanding tanggal kejadian malam itu.

36)       Entah dorongan apa yang membuat saya berani memintamu dari dua orang tua itu. Alangkah leganya aku, simbok dan pak-mu mengijinkan dan menyerahkan masa depanmu. Saya berjanji kelak kamu akan saya masukkan dunia militer seperti keinginanmu. Ohh…, Tjung maafkan saya.

37)         Saya lihat dengan mata kepala sendiri, kamu tumbuh menjadi lelaki pemenang yang tidak takut keadaan. Beda dengan saya. Peran yang saya sandang sekarang sudah menjadikanku orang yang tidak berguna dan bodoh. Saya harus menjadi orang lain sama sekali, saya harus menjadi Bagaskoro. Saya harus bergaya aristokrat semacam bangsawan kraton yang dulu sangat saya benci. Aku muak dengan gaya sebagai Bagaskoro, tapi saya bisa apa?

38)       Dengan menjadi Bagaskoro saya bisa mengurus surat-surat identitas yang baru, dengan alasan bahwa semua surat-suratku hilang seluruhnya ketika peristiwa banjir besar yang terjadi di awal tahun dulu itu. Yah, tentu saja ada campur tangan salah satu kawan kita yang di jawatan pemerintahan. Dengan identitas baru yang otentik dan sebuah ijazah palsu saya melanjutkan pelarian ke timur. Sampai akhirnya saya diterima bekerja di sebuah perusahaan milik pengusaha Cina di sebuah kota besar. Ha…ha…ha… sukurlah semuanya bisa saya lalui biarpun tidak semudah membalik telapak tangan.

39)         Tetapi sebelum itu, saya hidup dari mencuri dan berjudi hampir setiap malam. Suatu sore di pelabuhan, saya bertemu dengan Encik pengusaha permata yang kemudian menjadi juraganku. Encik awalnya merupakan calon korban kejahatanku, tetapi gagal.

40)       Dia sangat pelit tapi genit. Tidak terlalu cantik, cuma manis lesung pipitnya. Pipinya juga sedikit merona seperti pipi Rembulan Merahku. Dia itu janda gatal yang rela membayar berapapun asal ada lelaki yang bisa memuaskan rasa dahaganya yang kelewat batas.

41)         Saya berharap menjadi lelaki terakhir bagi Encik. Saya bisa memuaskan dirinya dalam segala hal. Di ranjang, maupun dalam urusan pekerjaan. Dengan begitu saya bisa mendapat uang yang lumayan untuk saya tabung barang sedikit setiap bulannya. Kakiku memang cacat, tetapi kelaki-lakianku tetap utuh 100 persen.

42)         Di ranjang Encik, saya lampiaskan semua gelora cintaku padamu oh… Rembulan Merahku. Amis keringat Encik serasa wangi mawar di tubuhmu. Gelora nafsunya menjadi badai kasihmu yang kusambut dengan keperkasaan perahu cintaku. Kami berlayar di samudera yang tak henti bergolak menuju ujung cakrawala jingga. Bersama-sama terhempas di pantai beraroma surga hingga lemas-lunglai bagai sepasang insan purba yang polos dan murni. Saya membayangkan itu adalah kita berdua, Matahari dan Rembulan Merah.

43)        Dor…! Encik mati. Ya… nasibku kembali saya pertaruhkan karena Encik mati. Saya sendiri yang membunuhnya. Malam itu saya memendam rasa benciku, karena belakang hari ia lebih sering memintaku membawa laki-laki lain untuk diajak bermain bertiga. Bukan persoalan apa. Saya hanya merasa terhina sebagai laki-laki. Malam itu saya diminta membawa dua laki-laki, tiga lelaki saya bawa padanya.

44)      Saya menolak ikut bermain, saya hanya menonton mereka sambil melayani ‘bergajul-bergajul’ itu segelas demi segelas arak. Saya lihat Encik sangat menikmati permainan surga bersama tiga bidadara yang kegirangan. Sesekali Encik melirik menggoda saya, lirikan itu benar-benar menghina kelaki-lakian saya.

45)    Sebenarnya Encik mati tidak dari tangan saya sendiri. Saya sewa dua orang untuk membunuhnya. Saat ketika Encik saya antar menuju pelabuhan untuk urusan dagang ke luar pulau. Saya susun rencana, kejadiannya harus seperti perampokan biasa. Di tengah perjalanan saya hentikan mobil, saya mohon ijin pada Encik untuk memeriksa air radiator sebentar. Tepat di saat aku ada di bawah kap mesin, meledaklah sebuah pistol menghabisi nyawa Encik. Dor…! Dor…! Perampok bermobil melarikan diri sambil menembakkan satu peluru lagi ke arah saya, tetapi meleset. (MENIUP TELAPAK TANGAN)  Encik lenyap dari hidup saya, dan saya puas menikmati sebagian dari hasil rampokan siang bolong itu.

46)     (MEMBUNGKUK HORMAT. BERUSAHA TEGAP)  Nama saya masih tetap Matahari, tetapi cahayaku sudah redup. Saya tidak ada kekuatan lagi untuk memberi cahaya bagi kehidupan. Jangankan bagi kehidupan, bagi diriku sendiri saja cahayaku seburam mataku yang sudah rabun pada arti dan tujuan hidup. Bahkan dibanding sinar bulan di malam buta diri saya masih kalah bersinar. Rembulanlah yang sekarang memberiku cahaya, bukan sebaliknya. Begitulah saya sekarang : ‘Bagaskoro'. Lebih tepatnya : saya ‘Matahari Buram’.

~ BLACK OUT ~

IV.         PUKULAN PALU MAHKAMAH

FADE IN : SUARA KERETA API LEWAT . TOKOH KITA BERMAIN MAINAN KERETA API. KALI INI IA TAK PEDULI PADA SUARA KERETA LEWAT. BOSAN SENDIRI – MENGEMAS MAINAN KERETA – MENGAMBIL KURSI MEMBAWANYA KE TENGAH PANGGUNG – BERDIRI MENGHORMAT MILITER – DUDUK DI KURSI MENGHADAP PENONTON.

47)         -    Betul, saya Mayor Wira Irawan.
-       Iya, itu NRP saya. Jabatan terakhir, Perwira Seksi Intelijen di Bataliyon. 
-       Betul Yang Mulia, saya tahu. 
-       Tidak benar Yang Mulia, saya tidak pernah mengikuti rapat-rapat.
-       Saya tahu karena saya mendapat laporan. Maaf, bukan laporan tapi perintah.
-       Tidak tahu Yang Mulia. Perintah itu melalui surat dari Badan Rahasia Partai.
-      Sudah saya bakar Yang mulia.
-      Saya bakar setelah saya jelas bunyi perintahnya. Saya harus membakarnya karena prosedurnya harus begitu.
-    Saya bekerja sendiri Yang Mulia. Saya tidak pernah kenal siapa yang memberi perintah, saya terima perintah-perintah melalui kurir.
-       Benar yang mulia. Dia orangnya. Saya hanya kenal satu kurir, tidak ada yang lain.
-       Kalau itu saya tidak tahu menahu sama sekali. Semua prosedur sudah ditentukan oleh Partai. Saya hanya menjalankan prosedur. Tidak boleh kurang tidak boleh lebih.
-       Saya mendapat perintah untuk mengawasi gerakan pasukan-pasukan di ibu kota dan harus secepatnya melaporkan jikalau ada yang mencurigakan.
-       Saya diperintah melaporkan kepada Komandan saya di Bataliyon Yang Mulia.
-      (BERNAPAS PANJANG)  Yahh… sampai di sini saya harus berbohong demi rahasia Partai. Saya tidak akan menyebut nama Entin, di mana kepada kawan Entin sebenarnya saya melaporkan semuanya. Saya tidak ingin menambah penderitaannya. Ohh… Rembulan Merahku yang malang.
-    (KEMBALI DUDUK TEGAP) Tidak tahu Yang Mulia. Sama sekali saya tidak tahu apakah Komandan saya adalah bagian dari operasi. Saya hanya menjalankan perintah saja.
-    Tidak benar. Ijin mengeluarkan senjata dari gudang wewenangnya tidak pada saya.
-     Saya tahu Yang Mulia. Memang ada latihan-latihan sukarelawan-sukarelawati di sana. Yang saya tahu di sana ditangani langsung oleh Angkatan lain.
-     Mengenai senjata yang dipakai untuk latihan bukan senjata dari gudang kami. Saya sudah pernah memeriksa hal itu. Jenisnya tidak sama dengan yang digunakan kesatuan kami.
-     Sebagai perwira inteligen, saya bertanggung jawab mengawasi dan menyelidiki semuanya. Apa lagi melibatkan senjata organik militer, saya wajib tahu.
-     Siap Yang Mulia. Pledoi saya sudah siap. Tinggal membacakan saja. Sekarang juga sudah siap saya bacakan.

TOKOH KITA BERDIRI – MENENDANG KURSI KE SAMPING. MULUTNYA MENGUMPAT-UMPAT

48)       Anjing kurap. Dasar bajingan tidak berguna. Seharusnya dulu itu saya hadapi saja pengadilan militer. Semestinya saya tidak perlu lari sembunyi. Saya akan melangkah tegap sebagai kesatria masuk ruang pengadilan. Duduk di kursi pesakitan berhadapan dengan para Hakim Militer.

49)        Alangkah terhormatnya diri saya. Saya akan siap menghadapi vonis mati, dieksekusi di depan regu tembak. Tubuhku akan ditembus peluru tepat di jantungku. - Dor…! Selesai. Saya mati sebagai kesatria Karna yang tertembus panah Arjuna.

50)        Tidak seperti sekarang. (MERASA DIRENDAHKAN)  Saya divonis mati oleh hakim perempuan. Artinya apa? Saya dibunuh oleh tangan perempuan yang mengetuk palu tiga kali, tok…tok…tok!

51)         Anjing kurap…, babi koreng…! Kenapa kalian kirim hakim perempuan untuk memvonis mati? Andai saja kalian tahu saya ini bekas Mayor tentara yang ikut mengangkat senjata bertempur menegakkan negara ini. 

52)         Ahh…… percuma saja. Kalian tidak akan pernah tahu itu. Aku sekarang memang Bagaskoro, Gembong dari ratusan penjahat yang sudah merampok sekian ribu kali seantero negeri. Yahh… saya memang raja-diraja garong yang pantas dihukum mati. Tidak masalah, yang penting semua orang mengakui kepintaranku dan kecerdikanku.

53)         Kalau saja saya tidak tertidur pulas di kamar pelacur itu. Kalian akan sulit menangkap saya. Ha…ha…ha…….. hampir dua puluh tahun kalian selalu berhasil saya tipu. Dan aku lolos berkali-kali dari kepungan. Ha…ha…ha……..  paling tidak empat polisi mati ditembus peluru dalam beberapa kali adu tembak dengan saya. Ha…ha…ha…….

TOKOH KITA TERTAWA SEPUAS-PUASNYA SAMBIL BERJALAN BERKELILING. BERHENTI DI TENGAH. TERTAWANYA BERUBAH MENJADI SERINGAI SERIGALA LAPAR DAN MARAH. TERIAK :

Dasar kunyuk kalian. Dengan reputasi saya sehebat itu, kalian hanya mengirim seorang perempuan untuk membunuh saya. Ini sungguh tidak adil. Saya protes keras. Besok saya akan menghadapi regu tembak. Kalian memberi kesempatan saya untuk mengajukan permintaan terakhir. Saya sudah meminta dengan tegas dan jelas : “saya minta pengadilan untuk saya diulang lagi. Beri saya hakim laki-laki yang paling jantan yang kalian punya”. Beri kesempatan terakhir bagi saya untuk merasa gagah menghadapi kematian. Kalian tolak permintaan terakhir saya. Kalian curaaaang…… kalian banci………… banci………! Saya protes keraaas………..!!

SUARA KERETA API LEWAT KEMUDIAN MENGHILANG DI KEGELAPAN MALAM 

~ BLACK OUT ~  

-  S E L E S A I   -
Bojonegoro, 6 Sura 1953 Saka

SARAN :
Baca juga naskah drama monolog "balada TJUNG" dan "REMBULAN MERAH" karya Siswo Nurwahyudi di laman blog ini sebagai tiga kisah yang saling berkaitan dan saling menguatkan.

NOTE :
Naskah ini merupakan satu dari tiga naskah drama monolog TRILOGI yang saling terhubung antara satu dan lainnya, "balada Tjung",  "Rembulan Merah", "Matahari Buram".

Klik Disini :




Maka tak lengkap dan belum afdol jika tidak membaca ketiga naskah tersebut.

SELAMAT MEMBACA & TERIMA KASIH.







NASKAH DRAMA MONOLOG TRILOGI : "REMBULAN MERAH"





"REMBULAN MERAH"
DRAMA MONOLOG
Siswo Nurwahyudi





I.            I.      MIMPI BURUK

DI TENGAH STAGE : DI BAWAH SOROT REMANG LAMPU DI ATAS KEPALA, TOKOH KITA DUDUK TERIKAT PADA SEBUAH KURSI KAYU. MATA DIBALUT SELENDANG PUTIH YANG DIIKAT DI SISI KIRI, KEPALA TERKULAI LEMAS DI DEPAN DADANYA. BERCAK-BERCAK DARAH NAMPAK DI BEBERAPA BAGIAN PAKAIANNYA. SUNGGUH PEMANDANGAN YANG MENGENASKAN.

TARIKAN DAN HEMBUSAN NAPASNYA CUKUP MEMBERI GAMBARAN TENTANG APA YANG SEDANG TERJADI PADA DIRI WANITA PARUH BAYA INI.
BEGITULAH YANG DILIHAT OLEH PENONTON KETIKA MEMASUKI RUANG PERTUNJUKAN KITA.

SETIAP ADA MENDENGAR SUARA, TUBUH TOKOH KITA BERGERAK MERESPON. SEJAUH MANA RESPONNYA TERGANTUNG JENIS SUARA DAN SEBERAPA KERAS SUARA ITU IA DENGAR. TETAPI JIKA SUSANA KEMBALI HENING IA AKAN TERKULAI LAGI, KADANG KE DEPAN DAN KADANG KE BELAKANG.

DI LUAR SANA TERDENGAR SUARA TERALIS-TERALIS BESI SEDANG DIPUKUL-PUKUL DENGAN IRAMA SERAMPANGAN MEMECAH KESUNYIAN. RIUH-RAMAI SUARA TERALIS MEMBUAT TOKOH KITA BERGELIPAKAN SEDEMIKIAN MENYEDIHKAN. NAPASNYA MENJADI TAK BERATURAN, TUBUHNYA TERGUNCANG-GUNCANG MEMBUAT KURSI TURUT TERGUNCANG BERGELIDIKAN.

01)         (MENANGIS PILU)  Hentikan…, cukup…, sudah…, stop, hentikan…, tolong hentikan..!! Heeii… di mana orang-orang tadi? Adakah orang di sini? (MENUNGGU JAWABAN)  Tolong…, siapapun yang ada di sini, tolong hentikan suara-suara itu. Heeii… siapapun yang dengar suaraku, tolong hentikan suara-suara itu. Aku tidak tahan…, tolong hentikan, tolong….

02)         (MENGGERAKKAN KURSI, MENCOBA BERGESER, TANGISNYA MEMELAS)  Heii… tidak bisakah kalian diam. Tolong diam, tolong aku, toolooong…diaaam…tolonglah….!!

03)         (SUARA PUKULAN TERALIS SEMAKIN CEPAT IRAMANYA)  Aaaahh…!! Hooee…, kalian memang brengsek, anjing-anjing kapitalis. Beraninya cuma menyiksa perempuan. Tidak malukah kalian mengikat seorang perempuan seperti ini? Jangan kira aku akan menyerah. Kalian boleh mengikatku, meremukkan kakiku, mematahkan punggungku, lakukan sesuka kalian. Kalian boleh menguasai tubuhku, tetapi tidak pikiranku dan keyakinanku. Tembak saja aku, atau gantung saja aku. Kalian tidak akan dapat apa-apa dariku, kalian akan dapat balasan yang setimpal nanti.

04)         Dengar baik-baik, kalian manusia-manusia picik tidak punya otak. Lepaskan aku, keluarkan aku dari sini, aku tantang kalian duel satu lawan satu kalau berani. Aku tidak takut. Datangkan seratus laki-laki, aku tantang berduel satu per satu, aku tidak takut.

05)         (SUARA GADUH TERALIS SEMAKIN KERAS)  Hooeee…! Cukup…! Hentikan…! Diiaaam…! Tolong hentikan…hentikan…stop…toolooong…tolong hentikan…!

06)         (MEMBERONTAK LEBIH HEBAT, BERUSAHA LEPAS DARI BELENGGU)  Toolooong…, tolong aku…! Tjung…? Kamu di mana Tjung? Tolonglah aku…! Tjung…tolong aku… Keluarkan aku dari mimpi buruk ini…! Tjung…! Tjung…!! Tjung…!!!

~ BLACK OUT ~

II.     TENTANG REMBULAN MERAH

FADE IN : DI SUDUT KIRI BELAKANG PANGGUNG. DI BAWAH SINAR REMBULAN MERAH, TOKOH KITA SEDANG MELEPAS DIRI DARI SEMUA BELENGGU. MASIH DUDUK DI KURSI YANG TADI, GERAKANNYA LEMBUT…PERLAHAN…TETAPI PASTI. BANGKIT DARI DUDUK, MEMUTAR TUBUH MENGHADAP BELAKANG, MENGENAKAN SEPATU KETS WARNA MERAH, KEMUDIAN BERDIRI DI ATAS KURSI. BERGERAK-GERAK MENIKMATI KEBEBASAN SEMBARI MELEPAS PAKAIAN YANG PENUH BERCAK DARAH. DI BALIK PAKAIAN ITU TUBUHNYA SUDAH TERBUNGKUS KAOS MERAH TANPA LENGAN, DAN CELANANYA ¾ BERWARNA MERAH MAROON.  

01)         (BERHENTI MENARI, MENGIKAT SELENDANG PUTIH DI PINGGANG)  Kalian pasti sudah pernah dengar namaku. Ya…, namaku Entin. Setidaknya nama itu yang aku miliki di atas kartu-kartu identitasku sekarang ini. Sebelumnya aku pernah punya nama lain, nama pemberian ayahku. Kata Mamak, ayahku menyematkan nama padaku dengan ritual adat yang indah dan sakral.

02)         (MEMUTAR TUBUH, MENGHADAP PENONTON)  Tentu saja waktu itu aku masih bayi. Dan ibuku menunjukkan foto-foto itu padaku saat usiaku sudah empat tahun, atau dua tahun setelah ayahku mati terikat pada sebuah tiang bersama 3 orang kawannya di sebuah lapangan terbuka. Mereka mati oleh semburan pelor dari bedil regu tembak serdadu Belanda pada pagi yang berkabut. Jenasah ayahku dan 3 kawannya dibiarkan di sana selama sehari penuh untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai yang lewat.
03)         Inilah aku, Entin. Tidak usah tanya siapa nama pemberian ayahku dulu. Nama itu sudah aku kubur dalam-dalam. Jadi, panggil saja aku “ E N T I N “.

04)         (TURUN, MEMBAWA KURSI KE PANGGUNG DEPAN, BERSANDAR DI PUNGGUNG KURSI)  Konon ayahku lebih suka memanggilku dengan panggilan ‘Bulan’. Kata Mamak karena mataku indah seperti bulan di kala purnama. Dan menurut cerita pamanku, pada detik-detik akhir, di depan regu tembak, ayahku masih sempat berteriak memanggil namaku : Bulaaan…!! - Dorr…!! (MENJATUHKAN KEPALA KE MUKA, MENIRU TERPIDANA TEMBAK MATI)

05)         Tidak pernah diceritakan padaku, mengapa ayahku dihukum mati oleh pemerintah Kompeni. Tapi aku yakin, ayahku pasti bukan seorang penjahat murahan. Penjahat semacam itu hanya akan berakhir di sel penjara yang kotor dan bau.  Kata paman, sebelum dihukum tembak ayahku ditempatkan di dalam sel khusus yang bersih dan rapi. Jadi jelas, apa artinya itu.

06)         Kemudian, untuk menghormati ayahku, semua orang di kampung memanggilku dengan nama ‘Bulan’. Aku sendiri suka sekali dipanggil dengan nama itu, aku merasa seperti gadis di dalam cerita dongeng Puteri Bulan yang cantik, baik hati, dan suka menolong orang-orang susah. Aku selalu berkhayal menjadi Puteri Bulan. Setiap bulan sedang purnama, aku senang menari dan menyanyi di pelataran rumah. Entahlah, sinar bulan purnama selalu membuat hasratku menari dan menyanyi sulit dihentikan siapapun. Selalu aku sendiri yang memutuskan kapan mulai dan berhenti menari dan menyanyi. Banyak orang berkeliling menontonku, ikut bernyanyi bertepuk tangan. Kadang-kadang ada juga turut menari bersamaku, tua-muda, laki-perempuan, dan anak-anak.

07)         Aku berasal dari keluarga terhormat di kampung. Hidup berkecukupan, meski tidak juga berlebihan. Keluargaku memiliki tanah dan kebun yang cukup luas untuk ukuran orang udik. Secara materi, keluargaku patut untuk hidup tenteram dan bahagia. Masa kecilku memang kurasakan menyenangkan. Bisa bersekolah, meski letak sekolahku cukup jauh dari rumah. Sering bervakansi bersama-sama handai taulan dan para kerabat. Lebih sering kami bervakansi ke pantai, karena kampung kami di lereng pegunungan yang jauh dari pantai.

08)         Kesenangan dan kebahagiaan itu mendadak berubah drastis ketika tentara Jepang menguasai kampung kami. Sebenarnya serdadu-serdadu Jepang itu tidak terlalu mengusik kami, tetapi perilaku mereka telah membuat kami takut. Setiap bertemu mereka kami harus membungkuk hormat kalau tidak ingin babak belur dihajar dengan popor bedil dan sepatu boot mereka yang keras.

09)         Jaman Jepang kata orang. Jikalau keluargaku saja menderita, bisa dibayangkan betapa menderitanya orang-orang kampung yang kehidupan sebelumnya sudah miskin. Kebanyakan orang terlihat kurus dan pucat. Pakaian mereka seadanya, asal nempel di badan. Akupun tidak lagi bisa bersekolah.

10)         Boleh dikata, waktu itu aku sudah gadis awal remaja. Oleh Mamak aku lebih banyak dikurung di kamar, takut diapa-apakan oleh serdadu Jepang. Aku tidak boleh lagi keluar malam. Aku tidak boleh menari dan menyanyi di bawah sinar purnama.

11)         Ohh… Jaman yang diliputi kemurungan dan kemalangan. Aku merengek pada Emak, untuk boleh bermain di luar rumah. “Aku bosan Mak, hidup begini terus. Sampai kapan aku harus hidup seperti ini”, kataku. Mamak memandangku iba, tetapi raut wajahnya menjadi kaku dan dingin seperti batu. “Tidak boleh, kau tidak aman di luar sana”, kata Mamak tegas.

12)         Akhirnya Mamak menawarkan satu cara  untuk mengurangi kebosananku, Mamak membolehkan aku membaca buku-buku peninggalan ayahku. Aku tidak pernah menyangka, ternyata cukup banyak buku-buku di kamar Mamak. Aku diijinkan membaca semuanya asal setelah selesai aku harus menyimpannya kembali rapi-rapi, takut ketahuan dan dirampas Jepang. Mamak sendiri tidak begitu suka membaca, tetapi kata mamak ayahku memang kutu buku. (MELEPAS SELENDANG, MENGENAKAN SEBAGAI KERUDUNG)  “kau persis seperti ayahmu”, kata Mamak.

13)         Cara yang ampuh. Aku lebih suka tenggelam di dalam lembar-lembar buku. Aku jadi malas mandi, lupa makan, lupa minum. Kata Mamak aku nyaris mirip mayat hidup. Mamak sangat khawatir aku jatuh sakit. Mamak mulai melarangku membaca buku. Tetapi aku tetap meminta buku-buku ayah. “Beri aku buku untuk kubaca Mak, atau aku tidak akan makan”, aku mengancam. “Kau boleh baca, tetapi kau harus jaga makan, jaga minum. Kalau kau sakit, bahkan mati, pada siapa buku-buku itu diwariskan”, Mamak balik menawar. Menatap sorot mata Mamak yang sembab, akhirnya aku mengalah. “Baiklah Mak, aku janji”, jawabku sambil memeluk Mamak. Ahh…, betapa kurusnya Mamak. Kasihan kau Mak.

14)         Setelah Jepang pergi, oleh Mamak aku dibawa ke kota dimana ada salah satu kerabatku tinggal menetap di sana. Kota yang dulu dijanjikan untukku oleh Ayah sejak aku masih dalam kandungan. “Mak, kalau bayi kita lahir selamat, laki atau perempuan, akan aku sekolahkan di tempat Wak Ciknya sana”, begitu cerita Mamak sebelum membawaku pergi.

15)         Kota yang indah dikelilingi bukit-bukit hijau. Kota kecil tetapi cukup ramai untuk ukuran masa itu. Sejak awal memasuki kota ini aku sudah merasakan gelora di dada setiap orang. Bendera merah putih berkibar di mana-mana. Beberapa bangunan dindingnya dicorat-coret dengan tulisan-tulisan yang membakar gelora perjuangan. ‘Merdeka’, ‘Freedom’, ‘Merdeka ataoe Mati’, ‘Hidoep Soekarno’, ‘Hidoep Sjahrir’, ada juga coretan di dinding sebuah bangunan : ‘Gedoeng Milik Repoeblik’. Macam-macam bunyi coretan. Wajah banyak orang terlihat gembira, membuat aku yang sudah lelah di perjalanan ikut merasa bersemangat.

16)         Aku kembali masuk sekolah. Ya, aku bahagia sekali bisa bersekolah kembali. Kata Mamak, aku lebih baik bersekolah di kota ini, sebab di sini mutunya jauh lebih bagus. Dan Mamak berkata benar. Aku bisa bandingkan dengan jelas perbedaan mutunya. Kawan-kawan di sekolah pun rata-rata bersemangat untuk belajar. Semua memang masih serba terbatas, tetapi yang penting adalah semangatnya sudah seperti apa yang aku inginkan.

17)         Tetapi ada yang hilang dari diriku di kota itu. Jikalau kalian bisa, coba tebak apa yang hilang dari diri saya? Ayo…, tebak. Siapa bisa sila boleh tebak, Apa menurut anda yang hilang dari diri saya di kota itu? Apa? (MENUNGGU JAWABAN)  Oh, bukan. Ayo, tebak lagi. Ya…? Apa? (TERSENYUM MANIS)  Maaf, salah lagi. Yang benar di kota itu aku kehilangan nama kesukaanku : ‘Bulan’. Tidak ada lagi yang memanggilku ‘Bulan’. (SEDIH)  Ooh…Bulanku yang malang.

18)         Oh, tidak juga seperti itu. Di sekolah itu aku punya seorang kawan pemuda yang berasal dari Jawa. Namanya Soeryo, begitu kami semua memanggilnya. Soeryo anak dari salah satu tokoh yang dihukum oleh Belanda sebelum Jepang masuk. Ayahnya ‘dibuang’ di kota ini, dan keluarganya diajak serta. Ayahnya sudah kembali ke Jawa, tetapi Soeryo dan ibunya bersama adik-adiknya masih tinggal menunggu dijemput suatu saat nanti. Tak sengaja aku cerita jika aku suka dipanggil ‘Bulan’ di kampungku. Soeryo sangat menyukai nama itu. Hanya saja Soeryo lebih suka memanggilku ‘Rembulan’. Lelaki itu suka memanggilku ‘Rembulan’ hanya di luar sekolah, di lingkungan sekolah tidak pernah sama sekali. Katanya ‘Rembulan’ cocok sebagai pasangan dari namanya, ‘Soeryo” yang artinya matahari. Ya syukur, cukup begitu sudah membuatku senang. Dan kami bersahabat akrab lebih dari kawan-kawan yang lain. Soeryo pun mendapat ijin Wak Cik mengunjungiku di rumah asal tidak terlalu sering. Itupun karena dia gigih merayu Wak Cik setiap hari.

19)         (NAIK KE KURSI, MENGALUNGKAN SELENDANG, MENARI)  setiap bulan purnama Soeryo selalu menyempatkan datang untuk mengajakku menari di pelataran depan rumah. Kami tertawa dan menari riang bersama tanpa malu ditonton keluara, kerabat, dan para tetangga. Di saat-saat seperti itu aku serasa berada di kampungku dulu lagi, membuat kerinduanku pada Mamak menusuk-nusuk hatiku. Soeryo juga gembira menari bersamaku, dia menambahkan satu kata di belakang nama ‘Rembulan’. Dia menamaiku ‘Rembulan Merah’ karena aku memiliki pipi yang merona merah. Aku setuju saja, menurutku nama ‘Rembulan Merah’ cukup enak didengar. Ya, begitulah aku, ‘Rembulan Merah’.

~ FADE OUT ~


III.        BELAJAR KE NEGERI MERAH

FADE IN : TENGAH DEPAN PANGGUNG. TOKOH KITA DUDUK DENGAN ANGGUN.
20)         Beginilah aku, Entin. Lahir sebagai gadis udik yang kemudian menjadi perempuan penuh ambisi ingin mendaki puncak piramida tertinggi dalam organisasi politik besar yang semakin hari semakin kuat dan cukup berpengaruh di muka bumi. Begitulah aku, perempuan yang sejak usia 2 tahun sudah kehilangan ayah. Kisaran lima belas tahun setelah kematian ayah, aku baru tahu bahwa ayahku adalah salah satu tokoh pergerakan pra kemerdekaan. Kemudian oleh Mamak semua buku-buku ayah diwariskan kepadaku. Aku bawa serta buku-buku itu ketika aku mengikuti kursus-kursus Partai di ibu kota.

21)         Bekal ilmu yang aku baca dari buku-buku ayah membawaku diterima masuk di Perguruan Tinggi milik yayasan yang didirikan oleh Partai. Satu tahun kemudian aku berhasil menyisihkan 40 orang pesaing untuk mendapat beasiswa khusus belajar ke ‘negeri merah’ nun jauh di seberang sana selama satu tahun. Sungguh di luar dugaan, ternyata aku tidak hanya sendiri. Ada empat pemuda lain yang juga akan berangkat ke sana. Kami diberangkatkan bersama-sama naik pesawat terbang, dan aku satu-satunya perempuan dalam rombongan itu. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Soeryo ada bersama rombongan.

22)         Itu pun baru aku tahu setelah kami turun di Air Port tujuan. Kami berdua sama-sama terkejut, tetapi pertemuan itu sangat menggembirakan kami. Maklum, selama lebih-kurang tiga tahun setelah Soeryo dijemput kembali ke Jawa kami kehilangan kontak sama sekali. Di perjalanan menuju asrama, aku sempat marah padanya : “Mengapa kau tidak pernah menulis surat padaku? Adakah gadis di Jawa telah menambatmu hingga melupakan seorang sahabat di tanah rantau?” Lalu dijawabnya : “Sudah berkali-kali saya menulis surat untukmu. Tetapi suratku selalu kembali. Kata petugas Pos, nama dan alamatmu tidak ditemukan. Sungguh, saya tidak bohong.”

23)         Aku pandangi dalam-dalam relung bola mata Soeryo. Tampak ia sungguh-sungguh mengatakan itu. Lalu kutanya dia : “Apa yang kau tulis di amplop? Aku tidak pindah alamat, mestinya sampai kalau kau menulisnya benar-benar”. Dia jawab : “Saya tulis begini, kepada terkasih ‘Rembulan Merah’, dan alamatmu saya tulis lengkap-lengkap. Saya mengira kamu tidak suka menerima surat-suratku sehingga kembali lagi pada saya.”

24)         Ha….ha….ha…. pantas saja kalau begitu. Kau lupa Kawan, Wak Cik itu pegawai Pos. Lupa pulakah kau, Wak Cik tak suka kau panggil aku ‘Rembulan Merah’. Pantas kalau surat-surat kau tak sampai Bung. Ha…ha…ha…!

25)         Kami ditempatkan dalam satu kompleks asrama. Tetapi kami masing-masing berbeda tempat sekolah. Sulit sekali mencuri waktu untuk bisa berjumpa. Tempat kami berada sangat dekat, namun Soeryo serasa jauh di ujung dunia. Hanya sekali ada kesempatan kami bisa bertatap muka, ada waktu dua minggu cuti semester.  Tetapi Soeryo memilih balik ke Jawa sampai habis waktu cuti. Aku baru tahu belakang hari, Soeryo cerita saat cuti semester dipanggil pulang untuk tugas khusus rahasia dan penting. Dan tugas itu tentang penugasanku berikut setamat belajar di ‘negeri merah’.

26)         Ya, setamat dari sana aku tidak langsung dipulangkan. Tetapi langsung diantar menuju Eropa timur untuk tugas belajar berikutnya. Di negeri beruang sana aku hanya menempuh pendidikan selama enam bulan saja.

27)         Selepas itu aku langsung ditampung di asrama di kota dingin dekat ibu kota. Di sana aku bertemu kembali kawan-kawan sesama alumni negeri merah, termasuk Soeryo. Di tempat ini kami diberi pembekalan untuk tugas-tugas khusus dan sangat rahasia di bawah pengawasan ketat Partai. Oh… iya lupa, di sana kami juga dibekali keterampilan beladiri secara disiplin dan keras. Justru di tempat itulah tenaga dan pikiran kami benar-benar harus terkuras. Kami diisolasi dari dunia luar sama sekali. Setengah tahun lamanya. Kemudian dilepas dengan misi khusus.

28)         Kami ditempatkan tersebar di berbagai wilayah. Ada yang ke Sumatera, satu orang ke Bali, Satu orang lagi ke Sulawesi. Soeryo bertugas di pulau jawa kecuali daerah ibu kota, karena di sana sudah ditetapkan untukku.


IV.         MENJADI ENTIN

FADE IN : ~ ROLLING SILHUET SOFT LIGHT STAGE ~ SUARA KERETA API MELAJU CEPAT. SEORANG PEREMPUAN REBAH MENGEJAN-NGEJAN DENGAN KAKI DITEKUK KE ATAS DAN MENGANGKANG. NAPASNYA MEMBURU, KERINGATNYA MENGUCUR DERAS. KEMUDIAN MENGEJAN KERAS, BERTERIAK, LALU LEPAS…. TERDENGAR TANGIS OROK. REBAH LEMAS IA. SUARA KERETA MENJAUH, HILANG DI TELAN MALAM. ~ FADE OUT LIGHT STAGE ~

~ BLACK OUT ~

FADE IN : KIRI DEPAN PANGUNG. TOKOH KITA BEDIRI DENGAN ANGGUN BERKERUDUNG SELENDANG. KALI INI BERKAIN DAN BERKEBAYA. SEPASANG SANDAL JINJIT BERHAK TINGGI MENGHIASI KEDUA KAKI.

29)         Partai mengijinkan aku kawin dan punya anak. Suamiku juga aktivis satu Partai. Ketika aku mengandung 7 bulan, suamiku ditugaskan Partai menjadi salah satu delegasi Konggres Internasional yang diselenggarakan secara rahasia di salah satu negara Amerika Selatan. Di sana kabarnya suamiku mengalami serangan jantung mendadak dan nyawanya tidak selamat. Oleh sebab sifat kerahasiaan yang sangat, jasad suamiku harus juga dikuburkan secara rahasia di suatu tempat entah di mana. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu, bahkan Partai melarangkan aku untuk tahu.

30)         Pada suatu sore, aku mendapat tugas misi rahasia ke suatu wilayah timur. Usia kandunganku sudah menginjak fase kritis. Perutku sudah mulai sering mules-mules dan kencang-kencang. Sebenarnya aku menolak tugas itu, tetapi Partai tidak bisa menerima alasanku. Aku diperintah untuk segera berkemas dan langsung berangkat. Aku diberi jaminan keselamatan, ada orang yang akan menjagaku selama di perjalanan. Ternyata kawan Soeryo, dialah orang yang bertugas menjagaku. Aku jadi sedikit tenteram, karena aku sangat kenal dan percaya penuh padanya.

31)         Kami berdua berangkat dengan menyamar menjadi sepasang gembel. Yah…, itu hal biasa di saat kami bertugas. Sering harus menyamar menjadi apa saja sesuai kebutuhan dan kerahasiaan misi yang harus kami laksanakan. Kami menyelinap ke Stasiun, dan menumpang sebuah gerbong barang yang kosong.

32)         Di tengah perjalanan malam itulah aku merasa perutku mulas keras sekali. Aku setengah berteriak kesakitan. Kawan Soeryo membantu menenangkan dan sudah bersiap menjadi dukun bayi yang siap menolong kelahiran bayiku. Yang seperti itu juga masuk pelajaran yang harus kami kuasai. Di tengah deru laju kereta, aku berhasil melahirkan bayiku. Aku dengar tangis orok yang menjerit keras. Lega rasanya. Kawan Soeryo membawa orokku untuk aku sentuh. Aku meminta untuk aku peluk, dan berkata padanya : “Soeryo lekas kemarikan anakku. Lekas ambil perlengkapan kelahiran, aku sudah siapkan semuanya”.
33)         Alangkah kagetnya aku, Soeryo menarik lagi orok di tangannya.  Dengan suara keras lelaki itu membentak : “Tidak. Sebelum kamu menerima orok ini, jawab dulu pertanyaan saya. Seandianya Partai meminta, kawan Rembulan Merah pilih mana antara Partai atau anakmu ini?” Aku tentu saja marah dengan pertanyaan itu. “Kawan Soeryo, pertanyaan itu tidak tepat waktu dan keadaan. Jangan aneh-aneh, tidakkah kawan dengar tangis orok ini? Berikan anakku padaku, kasihan dia akan mati kedinginan. Jangan banyak cakap, berikan padaku lekas…!” Eeh…, tidak juga dia berikan bayinya padaku, malah justru membentak lebih keras :”Tidak kawan. Jawab dulu pertanyaan saya : Jika Partai meminta, lebih pilih anakmu atau Partai?” “Bajingan kau. Tentu saja aku pilih Partai kawan Soeryo, jawabku keras dan tegas. “Bagus, itu baru jawaban benar kawan Rembulan Merah”, katanya.
34)         Tetapi bukannya bayi merah yang menangis itu dia berikan padaku, Soeryo melempar orokku keluar. (MENJERIT KERAS)   Aaaaaaaa…!! Soeryo apa yang baru saja kau lakukan. Kau bunuh anakku…!! Jahanam kau Soeryo…!!!

35)         Seperti tidak mendengar kata-kataku, Soeryo dengan tenang membersihkan dirinya dari kotoran dan darah orok. Kepalaku berat rasanya, dunia di sekelilingku berputar. Masih bisa kudengar Soeryo berkata tenang padaku : “Pilihan jawaban yang benar kawan. Kita telah lulus ujian Partai. Yahh…, ini malam adalah ujian untuk saya dan kamu. Sudah selesai, kita sudah lulus ujian. Maaf, inilah sebenarnya misi kita. Selanjutnya kita tunggu misi berikutnya. Jangan khawatirkan dirimu, saya jamin kamu akan selamat.

36)         Walau hatiku hancur, apa yang bisa aku buat? Kalau benar ini perintah partai, aku tidak akan mempermasalahkan lagi. Dalam benakku sudah terpikir untuk memperjelas kebenarannya nanti. “Terima kasih kawan Soeryo”, jawabku singkat.

37)         Di sebuah Stasiun kecil entah di mana, kereta berhenti karena ada kereta di depan yang harus lalu lebih dulu. Di situlah tubuhku diambil dan dibawa dengan mobil. Tiba-tiba duniaku gelap sama sekali. Tahu-tahu aku sudah berada di sebuah kamar yang dijaga oleh seorang perawat. Perempuan bertubuh gendut dan ketus. Di sana aku dirawat sampai aku pulih benar. Aku tidak diperkenankan keluar kamar, ada seorang dokter Cina yang terus mengawasiku. Dokter itu selalu berbahasa Cina jika berbicara denganku. Bahasa melayunya tidak lancar, dan tidak ramah sama sekali.

38)         Setelah benar-benar pulih, aku dibawa lagi dengan mobil. Kemana Soeryo? Aku tidak lihat batang hidungnya. Si dokter Cina menyampaikan bahwa aku sudah boleh pergi. Sudah ada mobil yang siap menjemputku. Sebelum aku pergi, si dokter Cina itu meminta gambarku, untuk kenang-kenangan katanya. Dibawakan aku sebuah kamera foto berkaki tiga, juga dua buah payung blitz di kanan dan kiri kamera. Setelah puas menata gayaku, si dokter memasukkan kepalanya di dalam kelambu belakang kamera. Tiga-dua-satu…jrreett…! Selesai. Kemudian aku disilakan berangkat.

39)         Rupanya aku dibawa kembali ke barat melalui jalan Deandeles sepanjang pantai utara Jawa. Supirnya tidak banyak bisa diajak bercakap-cakap, kata-kata yang keluar dari mulutnya terbata-bata dan tidak jelas. Rupanya dia bisu tetapi sepertinya tidak tuli. “Ah, kenapa aku diberi jemputan bersupir aneh ini?”, pikirku. Semua bekal makanan dan minuman ada di mobil. Dua kali kami berhenti untuk sekedar istirahat menghirup udara segar, makan dan minum sekedarnya. Selebihnya aku lebih banyak tertidur di perjalanan.

40)         Malam hari kami sampai di sebuah villa di salah satu bukit kecil, malam itu sudah larut sangat. Aku ditempatkan di kamar yang cukup nyaman dan hangat oleh tungku perapian kecil. Pagi hari sudah dibangunkan oleh seorang perempuan setengah baya yang baru kulihat kali itu. Sebuah amplop tersegel disodorkan padaku berisi dokumen-dokumen, kubaca dengan seksama. Aku kenal semua kode-kode rahasianya. Kupastikan itu surat asli dari badan rahasia Partai.

41)         Dokumen pertama adalah keputusan Partai bahwa aku diangkat menjadi Ketua dari Tim Lima yang terdiri dari alumni ‘negeri merah’ dan diberi hak penuh memerintah anggota tim atas nama Partai. (NADANYA MENINGGI )  Artinya, atas nama partai aku berhak melakukan apa saja pada mereka berempat. Bangga sangat tentu, tidak sembarang orang diberi kewenangan semacam itu. (MENURUNKAN NADA DUA OKTAV) Atas dasar dokumen rahasia itulah, di hari berikutnya aku perintahkan Soeryo untuk masuk Militer dengan nama Wira Irawan. Di sana pangkat dan jabatan Soeryo beserta seluruh berkas-berkas dan identitasnya sebagai Wira Irawan sudah disiapkan oleh kawan-kawan di Markas Kemiliteran Pusat.

42)         Yahh…, Semua dokumen itu menandaskan bahwa identitasku juga telah diperbaharui. Mulai sekarang namaku adalah ENTIN”, disebutkan juga kota lahirku lengkap dengan tanggal lahir. Daftar silsilah keluarga plus sebuah foto keluarga yang sedikit kusut dan usang. Sumpah mati aku tidak kenal satupun wajah-wajah yang ada di foto itu. Aku harus menghapal melalui dokumen berkode rahasia itu.

43)         Dan masih satu lagi, sebuah surat keterangan resmi dari pemerintah setempat lengkap dengan teken pejabat dan stempel jawatan. Aku langsung mengerti, bahwa Partai menginginkan aku menjadi orang baru sama sekali. Aku perhatikan pas foto 3 x 4 terpasang di situ. Sepintas mirip aku, tapi agak aneh sedikit. Aku perhatikan dengan cermat potret kecil itu. (MENGERNYIT HERAN)  Akukah ini?

44)         Tak terasa kakiku melangkah menuju cermin di atas meja rias. Betapa terkejutnya aku, wajahku agak sedikit berubah. Aku perhatikan berulang-ulang antara potret dan wajahku di cermin. Pikiranku mengumpulkan serpihan-serpihan dan urutan kejadian yang menimpaku terakhir ini, aku langsung paham apa yang telah terjadi padaku.

45)         Ya, terutama kejadian di kamar di mana aku dirawat dokter Cina itu. Ah, brengsek. Kenapa pula di sana kepalaku dibalut kain perban, padahal aku hanya pendarahan sehabis melahirkan. Kenapa pula tak ada cermin di sana. Hmmm… Pantas hidungku berubah sedikit lebih runcing. Rupanya dokter Cina itu pelakunya. Potret kecil ini juga, hasil kerja dia pula. Ha….ha…ha…ha….!! Selamat datang di dunia baru . Ha…ha…ha…ha…!! Selamat tinggal masa lalu. Ha…ha…ha...!!! Selamat datang : “ENTIN” Ha…ha…ha…ha…ha…ha…

~ BLACK OUT ~

V.            MENUNGGU KARMA

FADE IN : KANAN DEPAN PANGGUNG. KAKINYA TELANJANG. MENCOBA MENARI JAIPONG SELUWES DAN SEINDAH MUNGKIN. TETAPI TERHENTI OLEH LUTUTNYA YANG TERASA SAKIT.

46)         Sebenarnya umurku belum terlalu tua. Tetapi buah dari siksaan-siksaan dulu itu sudah merampas keluwesanku menari. Yahh…, apa boleh buat. Memang sudah nasib barangkali. Semuanya sudah habis…, habis…! Yang tersisa hanya ini saja (MENGUSAP WAJAH, LALU MENUNJUK HIDUNG)  Hasil karya tangan dokter Cina itu. Tetapi ada yang aku tidak suka pada kerja dokter itu, kandunganku ikut dirampas juga dari perutku. Syukurlah aku bisa terima, bisa apa aku kalau itu sudah perintah Partai. Tapi jangan disembunyikan, terus terang saja lebih baik. Mana mungkin aku bisa marah kalau itu demi Partai, aku justru akan menyerahkannya sukarela dengan penuh rasa bangga. Jangankan cuma kehilangan anak dan kandungan, nyawaku pasti akan aku berikan kalau diminta oleh Partai.

47)         Terima kasih kalian-kalian yang sudah membiarkan wajah ini tidak ikut terampas juga. Aku masih kalian biarkan hidup dan otakku masih waras sampai sekarang. Banyak yang sudah lenyap ditelan kegelapan, banyak yang sudah tidak waras otaknya. Biarpun hidupku sekarang sengsara, masih lebih baik daripada hidup senang tapi otak sudah tidak waras seperti kalian-kalian. Sekarang kalian rasakan saja karma yang datang pada kalian, itu buah dari perbuatan kalian yang tidak berperikemanusiaan kepada orang-orang yang tidak berdosa. Kalian-kalian sudah ngawur dulu itu. Menyiksa orang yang belum pasti bersalah.

48)         Seperti aku contohnya. Aku tidak pernah tahu-menahu soal pemusatan latihan perang para calon sukarelawan-sukarelawati yang di sana itu, kalian tuduh aku ikut melatih sukarelawan. Kalian sangkakan aku ikut menyiksa-nyiksa, menyilet-nyilet, padahal itu bukan tugasku. Tugasku itu tugas rahasia, bukan menyiksa, bukan menculik atau membunuh. Aku memang loyalis Partai, tapi aku tidak pernah dilatih dan ditugasi pekerjaan rendah seperti itu. Sekarang rasakan, kuwalat kata orang Jawa.

49)         Sebagai petugas Partai yang menjalankan misi rahasia, aku hanya dilatih bertahan terhadap segala kondisi dan situasi termasuk kemungkinan akan siksaan-siksaan. Aku hanya dilatih bertahan untuk tidak membuka rahasia Partai. Karena itu kalian tidak akan pernah dapat apa-apa meskipun kamu siksa aku sesakit apapun. Aku akan tutup mulut sampai ajalku tiba, aku tidak akan pernah berkhianat pada Partai. Partai sekarang sudah hancur lebur, tetapi rahasia-rahasia yang ada pada diriku masih akan aman bersamaku sampai aku mati nanti.

50)         Aku juga masih punya Tjung. Anak lelaki yang dulu aku rawat dan aku didik sendiri dengan tanganku sebelum kulepas ke Sekolah Khas Partai. Dulu namanya Tjung, entah sekarang ganti nama siapa aku tidak tahu. Aku sangat sayang pada Tjung. Gagah, kuat, pintar, cerdas, cekatan, dan dia juga sayang padaku. Dia tidak akan pernah melupakan aku. Tjung pasti selamat, kalian tidak akan bisa menangkap Tjung. Tjung sudah dilatih dengan disiplin yang keras di Sekolah Khas Partai untuk bertahan hidup dalam keadaan apapun. Aku yakin.

51)         Aku harus bertahan hidup, karena aku harus bertemu Tjung pada suatu hari kelak. Itu juga yang menguatkan aku. Tjung satu-satunya harapanku, aku berharap Tjung menemukanku dan menyelamatkan aku keluar dari kebiadaban kalian-kalian. Sayang, sampai aku bebas, Tjung tidak pernah datang menyelamatkan aku. Tjung…? Kamu sekarang ada di mana Tjung? Teteh kangen sama Tjung. (MENANGIS)  Teteh yakin kamu masih hidup di luar sana. Teteh selalu mendoakan kamu Tjung.

52)         (TERDUDUK SENDU, TANGISNYA MAKIN SESAK)  Tjung, Teteh ingin menebus dosa-dosaku pada kamu. Teteh sudah salah pada kamu dulu itu. Tjung…, ada di mana kamu sekarang, Teteh mau minta maaf padamu. Teteh akan mengajarimu mengenal Tuhan, mengenal karma, biar hidupmu selamat. Tjung…, ternyata Tuhan itu memang ada. Karma itu juga nyata. Dulu kita sering mengejek orang yang percaya itu, tapi sekarang Teteh malu sama mereka. Ternyata mereka benar, kita yang salah.

53)         Semua kawan-kawan Teteh sudah menjemput karma mereka masing masing. Orang yang melempar orok yang aku lahirkan di dalam gerbong kereta api malam-malam dulu, dia itu si Soeryo yang kemudian berganti nama menjadi Wira Irawan, ya Mayor Wira yang dulu itu, akhirnya mati dilindas kereta api malam. Tubuhnya hancur tercerai-berai. Kawan-kawan Teteh yang lain juga mati dengan cara masing-masing sesuai perbuatan dan karmanya di masa lalu. Begitulah karma itu bekerja, cara Tuhan mengingatkan manusia supaya tidak berbuat dosa pada sesama.

54)         Ya…Tuhan…, bawalah Tjung padaku sebelum karmaku tiba. Tolong Tuhan, aku sungguh-sungguh aku mohon pada-Mu. Kabulkan ya Tuhan, berjanjilah padaku Tuhan. Biarpun aku mengenal-Mu sudah terlambat sekali, tapi aku percaya Engkau benar-benar ada dan Maha Menolong seperti kata orang-orang di sana itu. Aku percaya Engkau juga mendengar semua doa-doaku, karena aku percaya Engkau Maha Dengar.

55)         Aku percaya pada-Mu bukan karena ceramah dan khotbah orang-orang di sana itu. Tapi aku meyakini-Mu dari batin dan pikiranku sendiri. Engkau sudah menunjukkan banyak bukti nyata bahwa Engkau memang ada. Engkau pasti juga Maha Pengampun, Maha Sayang, dan Maha Murah. Aku bersyukur pada-Mu sudah memberiku kesempatan hidup dan Engkau tunjukkan kebenaran ajaran-ajaranmu.

56)         Bawakan Tjung kepadaku ya Tuhan. Ya Tuhan ya…, ini aku berdoa langsung dari hatiku yang paling dalam. (MERENDAH)  Ah, tidak usah aku jelaskan pasti Engkau sudah tahu, Kamu kan Maha Tahu. Maaf Tuhan, ternyata aku masih bodoh ya Tuhan Ya? Tidak apa kan Tuhan? Mohon jangan marah, aku sungguh-sungguh mohon ampun pada-Mu.

57)         Oh, iya. Satu lagi doa yang sangat ingin Engkau kabulkan, mohon jangan datangkan karmaku dulu sebelum aku bertemu Tjung. Sampai kapanpun jangan ya Tuhan…, pertemukan dengan Tjung dulu, baru datangkan karmaku. Biar aku ikhlas lahir-batin Tuhan, biar arwahku tidak gentayangan kelak. Sungguh aku mohon pada-Mu.

58)         Jadi, sudah jelas. Doaku yang itu tadi juga sekaligus doaku agar Engkau juga senantiasa menjaga Tjung. Jika diijinkan, sekalian datangkan Tjung beserta karmaku sekaligus biar enak, biar cepet rampung. Hanya Engkau ya Tuhan, yang bisa melakukan keduanya sekaligus. Siapa lagi? Tidak ada yang lain yang bisa melakukan baaanyaak pekerjaan sekaligus dengan sempurna di seluruh jagat raya ini. Hanya Engkau ya Tuhan. Yakin deh.
59)         Tjung…, kau dimana? Tjung Teteh selalu berdoa agar Tuhan mempertemukan kita kembali dalam keadaan hidup. Sampai kapanpun Teteh akan menunggu kau Tjung. Teteh percaya, suatu hari nanti Tuhan akan mengijinkan kita bertemu kembali. Kau juga harus percaya itu Tjung. Percayalah juga pada Teteh ya Tjung. Kita pasti akan dipertemukan kembali sebelum karma kita menjemput ajal kita.

60)         Oh iya, jangan lupa Tjung. Kalau Tuhan menitipkan karmaku padamu jangan tolak ya Tjung. Jangan. Teteh justru merasa tenteram jikalau Tuhan menitipkan karmaku pada kau. Teteh masih sayaaang pada kau.

61)         (MENANGIS LAGI LEBIH HISTERIS)  Tjung…! Teteh kangen sama Tjung. Teteh masih ingat saat-saat kita masih bersama dulu. Kau anak lelaki yang lucu dan pintar, cerdas dan kuat. Kau tak pernah menyerah betapapun Teteh telah menyiksamu dengan tugas-tugas yang tidak kau mengerti. Tetapi itu demi menjaga kerahasiaan Partai. Yang kau ketik beribu-ribu lembar dulu itu dokumen-dokumen rahasia Partai. Karena itulah Teteh hanya mengajarimu megetik saja, tidak pernah mengajarimu membaca. Kau kecil-kecil sudah jago mengetik, sulit dicari tandingnya. Tapi kau tidak boleh Teteh ajari membaca sebelum ada perintah dari Partai. Karena perkara itu, kau kena marah Wira sampai kau pucat pasi dan gemetaran. Tidak apa. Wira hanya heran, kok bisa ada anak sudah super pinter mengetik dengan hasil memuaskan tapi masa belum bisa baca sama sekali. (GERAM)  Hih..hiiih….!! Oh… Wira yang dibodohkan oleh seragam tentaranya.

62)         (MASIH ADA SEDIKIT SISA TANGIS)  Teteh ingat semuanya saat-saat kita bersama dulu. Kau suka mencium-cium harum tubuhku. Menjilat-jilat leherku. Memain-mainkan puting tetekku. Kau suka minta Teteh cium pipimu. Hidungmu yang sekel itu suka menghirup-hirup ketiakku. Dasar asem kau, padahal kau baru 12 tahun. (TERSIPU)  Tidak apa Tjung, teteh juga suka kamu begitu pada Teteh.

63)         (BERSEMANGAT)  Waktu umurmu menginjak 16 tahun. Kita berdua semakin dekat. Hampir setahun penuh jantung dan darah kita menggelora. Iya, Teteh ingat sekali. Teteh yang memulai. Teteh yang mengajari kau semua itu. Hari-hari kita berdua seperti kupu-kupu dan kumbang liar di tengah padang perdu yang ramai dengan bunga-bunga madu. Semakin lama kau semakin pintar, gagah, kuat, dan semakin mengerti semua rahasia di tubuh Teteh. (GEMAS)  Yang paling berkesan ya ukurannya itu. Kau memang nomor satu bagi Teteh. Geloramu seperti gelombang yang tidak kenal lelah menghantam dinding karang. Ohh…Indah dan nikmat sekali Tjung. Biar ranjang Teteh patah berkali-kali juga tidak apa. Xixixi…. Toh kau juga yang akhirnya membenarkan jadi baik kembali. Sudah benar dan kuat katamu, tetapi malamnya ambrol juga, lebih parah dari malam kemarinnya. Hahaha…hahaha….hahaha…. (NAPASNYA MENYESAK).

(MEWEK SETENGAH MERENGEK)  Tjung…, maafkan Teteh Tjung. Kau sekarang di mana? Lagi apa? Tolong jangan lupakan Tetehmu ini Tjung…! (MENANGIS SEPERTI KANAK-KANAK)  Tjung…!! Tjung…!! Tjung…! Jangan lupa tolong bawakan karmaku padaku Tjung…!...Tjung…!...Tjung……………Tjung………. ( ~ FADE OUT ~ )

~ S E L E S A I ~
Bojonegoro, 3 Sura 1953 Saka


*SARAN : Baca juga naskah drama monolog "balada TJUNG" dan "MATAHARI BURAM" karya Siswo Nurwahyudi di laman blog ini.

NOTE :
Naskah ini merupakan satu dari tiga naskah drama monolog TRILOGI yang saling terhubung antara satu dan lainnya, "balada Tjung", "Rembulan Merah", "Matahari Buram".

Klik di sini :



Maka tak lengkap dan belum afdol jika tidak membaca ketiga naskah tersebut.

SELAMAT MEMBACA & TERIMA KASIH.