BAGIAN 2 : NASKAH DRAMA SATU BABAK PELANGI DI TITIK NOL


NASKAH DRAMA SATU BABAK

PELANGI DI TITIK NOL

Karya : Siswo  Nurwahyudi



( BAGIAN 2 )



167.  IBU DPRD :

Ya sudah. Tidak apa-apa. Tidak usah diperiksa, kelihatannya bapak dan ibu ini baik-baik saja.

 

168. WARTAWAN :

(KEPADA IBU DPRD) Mohon ijin mengajukan pertanyaan Bu.

 

169.  IBU DPRD :

Nanti saja ya, setelah ini selesai. Mohon maaf rekan-rekan.

 

170.  WARTAWAN : Satu pertanyaan saja Bu.

 

171.  IBU DPRD :

Mohon pengertiannya. Nanti ada waktunya sendiri buat rekan-rekan.

(KEMBALI KE PESERTA AKSI)  Tenang bapak-ibu, saya anggota DPRD. Saya ke sini atas perintah bapak ketua untuk menjenguk bapak dan ibu sekalian. Bapak ketua titip salam. Sekaligus tadi berpesan pada kami untuk menjemput bapak dan ibu ke kantor DPR. Di sana nanti bapak-ibu berdua akan diterima langsung oleh bapak ketua. Jadi bapak dan ibu nanti bisa menjelaskan apa tuntutannya  atau apapun maksud dan keinginan bapak-ibu. Daripada di sini, kasihan kena panas matahari. Belum lagi kalau hujan. Bapak-ibu bisa sakit. Mari bapak, mari ibu, ikut saya ke kantor. Pakai mobil kami, tidak perlu jalan kaki. Mari.

 

172.  MAHASISWA:

Jangan mau. Bapak-ibu tetap di sini saja. Biar ketua DPR sendiri yang datang ke sini.

 

173.  MAHASISWA :

Betul bapak-ibu.  Ibu Walikota juga harus datang ke sini. Enak saja, turun dong kesini. Temui rakyatmu hei kalian yang mengaku pemimpin rakyat. Jangan cuma enak-enak di menara gading.

 

174.  MAHASISWA :

Jangan takut bapak, jangan cemas ibu. Kami mahasiswa siap membela sampai titik darah penghabisan.

 
175.  MAHASISWA :

(KOOR)  Hidup mahasiswa! Hidup Rakyat! Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.

 

176.  WARTAWAN :

(KOOR)  Hidup mahasiswa…! (SEMUA TEPUK TANGAN)

 

177.  MAHASISWA :

(KOOR) Hidup wartawan!

 

178.  WARTAWAN :

(KOOR) Hiduuup….!   (TEPUK TANGAN LAGI LEBIH SERU)

 

179.  IBU DPRD :

(SALAH TINGKAH) Emm.. kalau begitu. Saya pamit balik kantor dulu.

 

180.  WARTAWAN :

Sebentar Bu. Satu pertanyaan saja.

 

181.  WARTAWAN :

Bagaimana komentar Ibu terhadap aksi mogok ini?

 

182.  IBU DPRD :

(BERSIAP PERGI)  Sementara no comment. (NGELOYOR PERGI)

 

183.  WARTAWAN :

Sedikit saja Bu. Komentar singkat saja.

 

184.  IBU DPRD :

Sementara saya No comment dulu. (EXIT).

 

185.  WARTAWAN :

(TERSENYUM GENIT KEPADA PERAWAT)  Mbak di sini saja ya? Jaga bapak-ibu ini sama saya. Saya merasa senang kalau mbak ada di sini.

 

186.  PERAWAT :

(GUGUP DAN KETAKUTAN)  Apaan sih ? Bu…! tunggu saya Bu….!

 

PERAWAT CANTIK ITU LARI, EXIT. SI WARTAWAN KECEWA, TEMAN-TEMANNYA TERTAWA MENGEJEK. KEMUDIAN SUASANA KEMBALI MEREDA.

SI  POLISI YANG TADINYA MENEPI KEMBALI MENGAMBIL TEMPAT SEMULA. PARA WARTAWAN MENGAMBIL TEMPAT BERPENCAR DALAM KELOMPOK-KELOMPOK KECIL. TIGA MAHASISWA BERGERAK MENDEKATI PESERTA AKSI MOGOK, BERSIAGA MENGAMANKAN AKSI.

 

187.  MAHASISWA :

Bapak-ibu tetap di sini saja. Jangan mau dibujuk siapapun. Kami mahasiswa akan terus mendampingi bapak dan ibu.

 

188.  MAHASISWA :

Betul. Kami semua bisa dipercaya. Mahasiswa tidak akan pernah berkhianat pada rakyat.

 

189.  MAHASISWA :

Ya. Itu sudah menjadi janji kami sebagai mahasiswa.

 

190.  WARTAWAN :

Hidup mahasiswa!

 

191.  WARTAWAN :

(KOOR)  Hiduuup….! (KOOR TERTAWA) Haa….ha….ha…ha…..

 

MERASA TERSINDIR, TIGA MAHASISWA SURUT SELANGKAH DENGAN WAJAH KECUT. PARA WARTAWAN KEMBALI TERTAWA.

SEORANG PEDAGANG ASONGAN DATANG MENENTENG DAGANGAN MINUMAN, ROKOK, PERMEN, MAKANAN RINGAN, JUGA TERMOS KOPI. BEBERAPA ORANG  -SEGERA MEMBELI. SEORANG POL PP KURANG SENANG DENGAN KEHADIRAN SI ASONGAN.

 

192.  POL PP 1 :

He…! Siapa suruh berdagang di sini? Tahu ada larangan tidak?

 

193.  WARTAWAN :

Biar saja. Jangan diusir. Dia cuma cari uang receh buat makan.

 

194.  POL PP 1 :

(MELUNAK)  Tapi ini wilayah larangan berdagang. Ada perdanya.

 

195.  WARTAWAN :

(BERDIRI BERKACAK PINGGANG)  Aaah… persetan dengan perda. Berani usir dia, akan berhadapan dengan saya.

 

196.     POL PP 2 :

Jangan begitu. Kalau atasan kami tahu, kami berdua kena.

 

197.  WARTAWAN :

Aku yang tanggung jawab. Bilang atasanmu kalau aku yang nyuruh dia dagang di sini.

 

198.  WARTAWAN :

Ya. Kami juga butuh dia. Kalau kami haus tidak perlu jauh-jauh.

 

199.  WARTAWAN :

Cocok.

 

200.  POLISI :

(MENGHAMPIRI ASONGAN)  Lho, mas? Kok di sini?

 

ASONGAN MENYEMBUNYIKAN WAJAH, MENYINGKIR DARI POLISI. POLISI MENGEJAR DAN MENANGKAP TANGANNYA TEPAT DI SUDUT TAMAN.

 

201.  POLISI :

Sebentar mas, berhenti dulu. Aku temanmu. Lupa ya?

 

202.  ASONGAN :

(BERBISIK) Ssttt….! Jangan keras-keras bicaramu.

 

203.  POLISI :

Kenapa jadi begini. Kamu dulu polisi juga kan? Kita satu angkatan. Masa lupa? Kamu kena pecat ya? (MERASA IBA) Kok jadi gini sekarang?

 

204.  ASONGAN :

(BERBISIK) Ssstt….! Diam. Aku masih polisi. Baru pindah tugas di sini. Satintel polres. Ini lagi menyamar. Perintah komandan.

 

205.  POLISI :

(IKUT BERBISIK)  Oh… satintel ya? Maaf mas, maaf.

 

206.  ASONGAN :

Sudah… sana. Jangan dekat aku.

 

207. POLISI :

Iya…iya…maaf. (PERGI MENUJU TEMPAT SEMULA)

 

208.  POL PP 1 :

Teman ya mas?

 

209.  POLISI :

Bukan. Salah orang. Mirip teman sekampung dulu.

 

210.  POL PP 1 :

(MENDEKAT KE ASONGAN, BERBISIK) Mas, tolong ya. Jangan berdagang di sini. Nanti saya kena marah atasan. Tolong, saya mohon.

 

211.  POLISI :

Pak, tolong pak. Dia jangan diganggu. Kalau atasan bapak marah, saya jaminannya.

 

212.  POL PP 2 :

Dia itu bukan teman kan?

 

213.  POLISI :

Teman atau bukan, sekarang saya anggap teman. Jadi, mohon jangan diganggu lagi.

 

214.  POL PP 1 :

(MENUDING KE HIDUNG ASONGAN)  Baik, kamu boleh berdagang di sini. Tapi kalau ada sampah, kamu harus tanggung jawab.

 

POL PP 1 KEMBALI KE TEMPAT SEMULA DENGAN MENYEMBUNYIKAN RASA KESAL. SEDANGKAN SI ASONGAN TETAP TAK BERANJAK DI SUDUT, DUDUK DIAM MENGHADAP DAGANGAN. SEMENTARA PARA WARTAWAN BERKUMPUL LAGI   -DENGAN SANTAI. TIGA MAHASISWA DIAJAK SEORANG WARTAWAN UNTUK NIMBRUNG DI FORUM WARTAWAN.

 

215.  WARTAWAN :

Bagaimana ini nasib kita. Kasus belum jelas, rejeki juga belum jelas. Hadeew… nasib… nasib…

 

216.  WARTAWAN :

(MENYANYI) Oh… ya nasib, ya nasib. Mengapa begini…

 

217.  WARTAWAN :

Sabar bro, namanya kerja ya gini ini.

 

218.  WARTAWAN :

(BARU DATANG) Selamat pagi kawan-kawan.

 

219.  WARTAWAN :

(KOOR) Selamat siang.

 

220.  YANG BARU DATANG :

(MENENGOK POSISI MATAHARI) Oh, iya. Sudah siang.

 

221.  WARTAWAN :

Baru muncul bro? Punya info bagus tidak?

 

222. YANG BARU DATANG :

Info apa? Baru dari luar kota aku. Begitu datang terus kemari.

 

223.  WARTAWAN :

Urusan apa ke luar kota?

 

224.  WARTAWAN :

Pasti ada proyek besar tuh. Kalau senang, teman ditinggal. Biasa…

 

225. YANG BARU DATANG :

Ah, enggak. Cuma urusan kecil.

 

226.  WARTAWAN :

Urusan kecil tapi duitnya sekarung. Sama-sama wartawan, sama-sama tahu. Percuma bohong.

 

227.  WARTAWAN :

(KOOR KETAWA) Haha hihi haha hihi… Ha…ha…ha…ha…..

 

WARTAWAN YANG BARU DATANG TIDAK MENAGGAPI, MELIRIK KE ASONGAN, LALU MENDEKAT.

 

228.  YANG BARU DATANG :

Kopi ada mas?

 

229.  ASONGAN :

Ada. Mau yang mana.

 

230.  YANG BARU DATANG :

Yang item aja. Satu.

 

231.  ASONGAN :

Oke.

 

232.  YANG BARU DATANG :

(BERBISIK) Mas, intel ya?

 

233.  ASONGAN :

(KAGET) Kok tahu?

 

234.  YANG BARU DATANG :

(MEMBERI ISYARAT) Pistolmu nongol.

 

235.  ASONGAN       :

(LEKAS MERAPIKAN PISTOL) Terima kasih.

 

236. YANG BARU DATANG :

Polisi apa TNI?

 

237.  ASONGAN :

Polres. Kamu wartawan juga?

 

 

238.  YANG BARU DATANG :

Iya. Perintah komandan. Sama kaya sampeyan.

 

239.  ASONGAN :

(MENELISIK WAJAH) Oh, nyamar juga? Polres?

 

240. YANG BARU DATANG :

(HANYA TERSENYUM MERNERIMA KOPI, LALU MEMBAYAR)

Ini uang kopi. Terima kasih mas.

(BALIK KE FORUM WARTAWAN)

 

241.  ASONGAN : Uang kembalinya belum.

 

242.  YANG BARU DATANG : Ambil saja.

 

243.  WARTAWAN :

Beli kopi sendiri, minum sendiri. Lagi tajir ogah traktir. Kentiirrr….!

 

244.  YANG BARU DATANG :

Sama-sama bokek jangan merengek. Kambing congek.

(URUNG NIMBRUNG, LANGKAHNYA LANJUT) ~  EXIT.

 

245.  WARTAWAN :

(KOOR)  Huuuu…….! Haha hihi haha hihi  Haa…ha….ha…..ha….

 

DUA ORANG LAGI DATANG. REPORTER TV DAN KAMERAMEN. LANGSUNG MENGAMBIL POSISI YANG TEPAT UNTUK REPORTASI.

 

246.  REPOERTER :

(KEPADA PARA WARTAWAN) Hallo rekan-rekan. Wah lagi kumpul semua nih. Permisi semuanya.

 

247.  KAMERAMEN :

Di situ, ya, kanan dikit. kanan lagi...lagi.. Stop. Oke, kamera rolling.

 

248   REPORTER      : Oke.

 

249.  KAMERAMEN      :

Tiga, dua, satu, go.

 

250. REPORTER :

Baik pemirsa di manapun anda berada. saat ini saya melaporkan langsung di lokasi dimana terjadi aksi mogok makan dan mogok bicara yang dilakukan oleh sepasang suami istri. Persisnya berada di pusat kota, tepat di tugu nol kilometer kota ini. Mungkin di layar tivi anda bisa terlihat tepat di belakang saya sepasang suami istri berdiri berjajar dengan mulut ditutup lakban yang menandakan bahwa keduanya sedang melakukan aksi mogok bicara. Tolong kameranya bisa diarahkan ke sana biar pemirsa dapat lebih jelas menyaksikan jalannya aksi mogok makan. Baik pemirsa, semoga jelas di layar anda, inilah sosok suami-istri tersebut. Mereka berdua berdiri memegang pamflet yang bertuliskan “Aksi Mogok Makan dan Mogok bicara”. Sampai saat kami laporkan ini, masih belum jelas apa yang menjadi sebab ataupun tuntutan dari aksi mogok ini. Semua masih menjadi misteri dan masih menjadi teka-teki yang gelap. Pihak-pihak yang berwenang seperti Walikota, ketua DPRD, maupun pejabat setempat lainnya yang terkait, sampai detik ini juga belum bersedia kami temui untuk dimintai keterangan. Namun demikian banyak muncul spekulasi atau informasi yang masih simpang siur soal aksi mogok ini. Kami pun masih terus akan menggali informasi agar dapat menyampaikan kepada anda semua apa yang sebenarnya tengah terjadi di sini. Perlu diketahui, sebelum-sebelumnya kota ini terkenal sangat tenang, sangat damai, hampir tidak pernah bergejolak, dan belum pernah ada aksi-aksi yang semacam ini. Sehingga aksi mogok ini sangat mengagetkan seluruh masyarakat dan seketika menjadi viral di media sosial. Namun demikian pemirsa, walau aksi mogok ini ramai diperbincangkan di media sosial, tetapi di lokasi aksi sendiri terbilang sangat kondusif. Masyarakat tidak banyak yang datang menyaksikan langsung di sini. Yang tampak hadir di sini hanya dari rekan-rekan media, juga beberapa mahasiswa. Dan hanya ada tiga aparat keamanan yang menjaga, satu orang personil dari kepolisian dibantu dua personil dari satuan polisi pamong praja. Meskipun hanya dijaga oleh tiga personil keamanan saja, situasi dan kondisi lokasi terpantau sangat kondusif. Barangkali jika aksi ini dilakukan di kota lain ceritanya akan berbeda. Di sini memang merupakan kota yang terkenal tenang, sangat damai, dan sangat aman. Demikian laporan kami, dan kami akan melaporkan terus perkembangan aksi mogok ini hanya untuk anda di rumah. Sekian dulu, saya pamit undur diri. Sampai bertemu kembali sore nanti dalam reportase up to date selanjutnya. Kami kembali ke studio.

 

BEGITU MENYELESAIKAN REPORTASI, MEREKA BERGEGAS BERKEMAS DAN PERGI BEGITU SAJA. EXIT.

 

SEORANG WARTAWAN BERGERAK MENEMPATI BEKAS TEMPAT SI REPORTER BERDIRI, MENIRUKAN GAYA SI REPORTER DENGAN MIMIK MELUCU TANPA SUARA MEMBUAT KAWAN-KAWANNYA TAK KUASA MENAHAN TAWA. BAHKAN SUAMI-ISTRI YANG AKSI MOGOK PUN TERLIHAT TERPINGKAL DI BALIK LAKBAN. TIGA PETUGAS KEAMANAN HANYA BERANI SENYUM-SENYUM DIKULUM.

 

251.  WARTAWAN :

Kebiasaan buruk mereka itu. Main kabur saja. Datang, cascicus-casciscus, terus mak wuusss….!

 

252.  WARTAWAN :

Wartawan tivi memang sering begitu. Tuntutan tugas. Beda dengan kita,

 

253.  WARTAWAN :

Apa enaknya kerja macam begitu. Lebih enak kita-kita ini, lebih santai, tidak terlalu dikejar deadline. Cukup nongkrong di warung kopi wifi, berita datang sendiri, tinggal edit sedikit, upload, dapat duit.

 

254.  WARTAWAN :

Sepakat. Jaman sudah serba dipermudah, ngapain kita persulit.

 

255.  WARTAWAN :

 Itu kamu. Jaman gini masih banyak orang yang pakai prinsip : kalau bisa dipersulit buat apa dipermudah. Boleh ditebak, siapa?

 

256.  MAHASISWA :

Siapa lagi kalau bukan tukang korupsi. Serba mudah kalau ada duit sogok. Kalau undang-undang masih saling bertabrakan, ujung-ujungnya pasti pungli, sarang korupsi. Yang paling kecil sampai yang paling besar.

 

257.  MAHASISWA :

Harus dilawan. Kami mahasiswa siap di garda depan melawan korupsi.

 

258.  WARTAWAN :

Hidup Mahasiswa!

 

259.  WARTAWAN :

(KOOR) Hiduuup….! Ha…ha…ha….ha….

 

MERASA KENA SINDIR LAGI, SEORANG MAHASISWA NGAMBEK NYARIS NANGIS. MUNCUL SATU ORANG DENGAN DANDANAN NYENTRIK, SENIMAN DIA. MENERIAKKAN YEL YEL,  DIBALAS KOOR OLEH WARTAWAN DAN MAHASISWA.

 

260.  SENIMAN :

Hidup seniman!

 

261.  KOOR :

Hiduuup…..!

 

262.  SENIMAN :

Lagi. Hidup Seniman!

 

263.  KOOR :

Hiduuup….!!

 

264. SENIMAN :

Ha…ha…ha……

 

265.  WARTAWAN :

(KOOR) Haha hihi haha hihi… Haa…ha…ha…ha….

 

266. WARTAWAN :

Ini dia yang kita tunggu-tunggu sudah muncul.

 

267.  SENIMAN :

Lho? Ternyata aku ditunggu?

 

268.  WARTAWAN :

Dari tadi ditunggu, akhirnya beredar juga.

 

269.  SENIMAN :

Masa iya? Sorry, baru bangun. Kalau gitu, selamat sore semuaa….

 

270.  WARTAWAN :

(KOOR) Selamat siang…!

 

271.  SENIMAN :

Wow, ternyata masih siang? Aku kira sudah sore. Wah, masih masuk jadwal tidur.

(NGELOYOR MENCARI TEMPAT)

 

SENIMAN MENGAMBIL TEMPAT DI LANTAI BETON DEKAT PESERTA AKSI, MEMBUKA JAKET DIPAKAI ALAS TIDUR.

 

272.  WARTAWAN :

(KOOR KECEWA) Yaaa…. Dasar edan….!

 

273.  WARTAWAN :

(BERGERAK MENGHAMPIRI SENIMAN, DIGELANDANG)

Enak saja mau tidur lagi. Sini, kumpul sini. Kami mau wawancara.

 

274.  SENIMAN : Wawancara? Siapa? Aku?

 

275.  WARTAWAN:

(KOOR) Siapa lagi?

 

276.  SENIMAN :

Wah…, aku ternyata. Hebat. Hidup seniman…!

 

277.  WARTAWAN :

(KOOR KECEWA) Yaaaa…..

 

278.  SENIMAN :

Kok gitu? Hiduuup….!

 

279.  WARTAWAN :

Sudah. Bosan. Monoton.

 

280.  SENIMAN :

Bosan? Kalau gitu tidur lagi ah… (HENDAK BERANJAK).

 

281.  WARTAWAN :

(MENAHAN) Eit… nanti dulu. Duduk sini dulu. Wawancara dulu.

 

282.  SENIMAN :

Sebentar. Boleh wawancara. Tapi kopinya mana?

 

283.  WARTAWAN :

Beres. (KEPADA ASONGAN) Mas, kopi satu.

 

284.  SENIMAN :

Kok satu? Kalian semua pada nggak ngopi?

 

285.  WARTAWAN :

Ngopi. Tapi nanti saja.

 

286.  SENIMAN :

What?

(MEMANDANG WARTAWAN, DAHINYA MENGERNYIT).

 

287.  WARTAWAN :

Sudahlah, satu saja. Buat kamu. Kami-kami nanti saja ngopinya.

 

288.  SENIMAN :

O…. tahu aku. Lagi pada bokek ya? Bilang terus terang dong, Sudah. Silakan semua pesan kopi. Siapa yang mau? Aku yang traktir.

 

289.  WARTAWAN :

(KOOR) Asyiiik…. Mau dong….!

 

290.  SENIMAN :

Nah, gitu. Pakai malu segala. (MENGHAMPIRI ASONGAN) Mas, kopi. Semua yang mau kasih saja. Aku yang traktir. Cukup nggak kopimu untuk semua yang di sini?

 

291.  ASONGAN :

(MENGANGGUK) Cukup.

 

292.  SENIMAN :

Bagus. Kalau ada yang mau nambah apa kek, air kek, permen kek, rokok. Pokoknya kasih saja. Semua aku yang bayar.

 

293.  ASONGAN :

Oke. Siap.

 

294.  SENIMAN :

(BERBISIK) Mas, tapi aku bayarnya besok ya. Boleh kan?

 

295.  ASONGAN :

Kenapa besok?

 

296.  SENIMAN :

Jangan khawatir. Aku ada duit di rumah. Ini lagi nggak bawa. Boleh ya?

 

297.  ASONGAN :

Oh, begitu? Oke… Tidak apa bayar besok.

 

298.  SENIMAN :

Boleh apa boleh? (MENGACUNGKAN KEPAL KE HIDUNG ASONGAN).

 

299.  ASONGAN :

(MENGANGGUK) Boleh.

 

300.  SENIMAN :

Nah, gitu bagus. Itu namanya lelaki sejati.

 

301.  ASONGAN :

Lelaki sejati?

 

302.  SENIMAN :

Iya, lelaki sejati. (MENINJU TELAPAK TANGAN) Lelaki sejati itu, (BERBISIK) lelaki yang berani terlibat utang-piutang. Ha…ha…ha…ha….

 

SENIMAN MENEPUK PUNDAK ASONGAN TIGA KALI LALU BANGKIT. IA KEMBALI KE FORUM WARTAWAN.

 

303.  WARTAWAN :

Waduh…hebat. Terima kasih sudah traktir kami semua.

 

304.  SENIMAN :

Ah, biasa saja. Sesekali memang harus begitu. Membuat banyak orang bahagia itu bukan dosa. Betul?

 

305.  KOOR :

Betuuul…..! (BERTEPUK TANGAN MERIAH).

 

306.  SENIMAN :

(MENERIMA KOPI) Nah… ini baru seru namanya. Ada wawancara…

 

307.  WARTAWAN : Ada kopi.

 

308.  SENIMAN :

Oke, kalian mau wawancara soal apa?

 

309.  MAHASISWA :

Soal aksi mogok.

 

310.  SENIMAN :

Kamu wartawan juga?

 

311.  MAHASISWA :

Bukan. Kami bertiga mahasiswa.

 

312.  SENIMAN :

Ternyata mahasiswa ya?

 

313.  MAHASISWA :

Iya. Betul.

 

314.  SENIMAN :

Oke. Kalau mahasiswa tidak boleh wawancara. Kecuali untuk tugas ilmiah. Kalian sedang ada tugas ilmiah?

 

315.  MAHASISWA :

Tidak. Kami ke sini untuk tugas politik.

 

316.  SENIMAN :

Tugas politik apa?

 

317. MAHASISWA :

 Eemm… (MENENGOK KE TUGU) Politik mogok.

 

318.  SENIMAN :

Oke. Tidak masalah. Tetapi yang mahasiswa tidak boleh mengajukan pertanyaan. Sebab jawabanku nanti hanya untuk konsumsi wartawan saja. Kalau mahasiswa mau mencatat boleh. Dilarang usul atau interupsi. Merespon boleh, asal tidak berlebihan, alias sedikit saja. Setuju?

 

319.  KOOR :

Setujuuu….!

 

320.  SENIMAN :

Bagus. Kopi, mana kopi? Ini yang lain pada belum dapat kopi. Mari semua ambil posisi yang enak.

 

321.  WARTAWAN :

Ayo melingkar. Itu tempat masih kosong, silakan diisi.

 

322.  WARTAWAN :

Mahasiswa di belakang saja. Di depan wartawan semua.

 

323.  SENIMAN :

Tidak usah diatur-atur. Segala sesuatu yang diatur itu justru tidak teratur.

 

324.  WARTAWAN :

Terus aku posisi di mana? Sudah penuh semua. Aku sini dong. Kamu pindah agak situ kenapa sih?

 

325.  SENIMAN :

Aduh… yang penting bisa menempatkan diri, pokok nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Mengatur diri sendiri saja belum benar, kok suka ngatur- ngatur. Bisa mengatur diri tidak?

 

326.  KOOR :

Bisaaa…..!

 

327.  SENIMAN :

Oke. Laksanakan.

 

328.  KOOR :

Siap. Laksanakan.

 

PARA WARTAWAN DAN MAHASISWA BERGERAK MENGATUR TEMPAT UNTUK DIRI MEREKA SENDIRI DI SEKITAR SI SENIMAN TANPA KOMANDO SAMA SEKALI.

SEBENTAR KEMUDIAN SUDAH BERES. KOPI PUN SEGERA DIBAGIKAN OLEH ASONGAN. PARA WARTAWAN MENYIAPKAN ALAT TULIS DAN ALAT REKAM.

 

329.  KOOR :

Kami sudah siap.

 

330.  SENIMAN :

Oke. Kita mulai. Silakan, apa pertanyaannya.

 

331. WARTAWAN :

Saya.

 

332.  WARTAWAN :

Saya dulu.

 

333.  WARTAWAN :

Yang senior dulu.

 

334.  WARTAWAN :

Junior dulu. Senior ngalah.

 

335.  WARTAWAN :

Yang tua dulu. Yang muda belakangan.

 

336.  SENIMAN :

Stop! Ini akan jadi konflik berkepanjangan. Kalian kan wartawan? Seperti anjing berebut tulang saja. Siapapun yang duluan kan tidak jadi masalah, saling memberi ruang, memberi waktu. Lihat alam semesta ini. Semesta alam adalah contoh yang baik. Bergerak bersama dalam keteraturan dan dinamika masing-masing, tetapi tetap selaras. Tidak bertubrukan, tidak saling menyakiti. Paham maksudku?

 

337.  KOOR :

Pahaaam…!

 

338.  SENIMAN :

Good. Mari kita mulai.

 

339.  WARTAWAN :

Oke, saya. Apa pendapat anda tentang aksi mogok makan?

 

340.  SENIMAN :

O..mogok makan? Tidak baik itu. Orang yang susah makan saja pingin nafsu makan kok mau-maunya mogok makan. Tidak sehat. Namanya menyiksa diri. Kalau niatnya puasa boleh, sebab puasa itu sudah ada rambu-rambunya. Kalau mogok makan namanya cari penyakit.

Tuhan tidak suka sama yang cari penyakit. Sehat itu perintah Tuhan.

 

341.  WARTAWAN :

Artinya, anda tidak setuju mogok makan?

 

342.  SENIMAN :

Ya jelas tidak. Gila apa aku mau mogok makan. Catat baik-baik, saya tidak akan pernah mogok makan, apapun alasannya. Titik.

 

343.  WARTAWAN :

Jangan titik dulu dong. Masih banyak pertanyaan.

 

344.  SENIMAN :

All right, lanjut.

 

345.  WARTAWAN   :

Jadi, mogok makan itu harus punya alasan ya?

 

346.  SENIMAN :

Ya harus. Segala perbuatan maupun perkataan itu jika tidak punya alasan maka wajib segera periksa ke dokter jiwa. Pasti dokter akan bilang orang itu sakit jiwa. Jadi, kalau ada orang yang mogok makan, biasanya yang pertama diperiksa dan diperhatikan adalah kesehatan jiwanya. Ini berlaku

untuk semua orang, semua umur. Universal.

 

347.  MAHASISWA :

Wah…., apa mungkin mereka sakit jiwa? Kelihatannya tidak.

 

348.  MAHASISWA :

Apa saja ciri-ciri orang gila yang mogok makan? Ciri-ciri paling khusus.

 

349.  SENIMAN :

Kamu mahasiswa dilarang bertanya. Sekali lagi kamu bertanya, lebih baik kamu pergi dari mukaku.

 

350.  MAHASISWA : Maaf. Saya lupa. Tidak akan saya ulangi.

 

351.  SENIMAN :

Good. Next question.

 

352.  WARTAWAN :

Bagaimana cara untuk mengetahui alasan tersembunyi pada orang yang mogok makan? Sedangkan orang itu sekaligus mogok bicara?

 

353.  SENIMAN :

Emm… tidak sulit. Tapi juga tidak mudah.

 

354.  WARTAWAN :

Ya sulit, ya gampang. Begitu?

 

355.  SENIMAN :

Bukan begitu. Maksudku, gampang tapi tidak mudah.

 

356.  MAHASISWA :

Maksudnya bagaimana sih? Saya kok bingung.

 

357.  SENIMAN :

Kamu wartawan?

 

358.  MAHASISWA :

(CEPAT-CEPAT MELEPAS DAN MENYEMBUNYIKAN JASALMAMATER)

Saya calon wartawan.

 

359.  SENIMAN :

Calon apa bakal calon?

 

360.  MAHASISWA :

Bakal calon.

 

361.  SENIMAN :

Bakal calon wartawan boleh bertanya, tapi saya tidak wajib jawab.

 

362.  WARTAWAN :

Alasannya?

 

363.  SENIMAN :

Apa ya? Emmm…ya. Ibarat pemilihan Walikota. Kalau statusnya masih bakal calon tidak bisa dicoblos. Menunggu ditetapkan KPU. Kalau sudah jadi calon baru boleh dicoblos. (MEMPERAGAKAN MEMAKAI JARI).

 

364.  WARTAWAN :

Berarti kalau statusnya sudah calon istri sudah boleh dong?

 

365.  SENIMAN :

Itu bukan pertanyaan yang relevan. Next.

 

366.  WARTAWAN :

Menurut anda, yang mogok makan di sana itu tergolong sakit jiwa?

 

367.  SENIMAN :

Mana? Mana ada mogok makan di sini?

 

368. WARTAWAN :

Itu, disana. Di bawah tugu.

 

369.  SENIMAN :

(MELOMPAT BERDIRI) Mana? Oh itu? Iya, betul ada tulisannya gede -

: “MOGOK MAKAN”. Siapa mereka?

 

370.  WARTAWAN :

Suami-istri.

 

371.  SENIMAN :

Sejak kapan itu?

 

372.  WARTAWAN :

Menurut keterangan saksi yang mengetahui pertama kali, sudah sejak pagi tadi, habis subuh.

 

373. SENIMAN :

Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau tahu di situ ada mogok makan, buat apa aku susah-susah mikir jawaban. Tinggal tanya mereka sudah beres.

 

374.  MAHASISWA :

Tadi itu anda kan sudah kesitu-situ. Tiduran di situ. Masa tidak tahu?

 

375.  SENIMAN :

Tadi itu nawaitu saya mau tidur. Tidak ada niat lihat orang mogok makan. Menjalani hidup itu harus setia pada niatnya. Kalau niat ke warung beli rokok ya langsung, jangan mampir ke tukang dadu.

Biar hidup selamat. Itu prinsip. Jangan dibantah. Ngerti?

 

376.  WARTAWAN :

Nah, sekarang anda sudah melihat sendiri orang mogok makan. Status mereka adalah suami-isteri. Apa anda bisa menjelaskan kemungkinan-kemungkinannya kenapa mereka melakukan itu?

 

377.  SENIMAN :

Ya tanya saja langsung ke mereka biar pasti. Tidak pakai mungkin-mungkin. Sana langsung, ngapain tanya ke saya? Kecuali mereka itu tidak ada, baru boleh tanya saya. Kalian ini bagaimana sih?

 

378.  WARTAWAN :

Tidak bisa..

 

379.  SENIMAN  :

(TERTAWA GELI) Hihihi…hihi…hi….  Jangan ngaco. Kalian ini wartawan macam apa. Bertanya saja sulit. Padahal dasar jurnalistik itu pertanyaan . Prinsip what, who, when, where, why, and how.

Lima W satu H. Saya saja ngerti, masa kalian tidak.

 

380.  WARTAWAN :

Kalau itu kami sudah khatam.

 

381.  SENIMAN :

Lalu apa masalahnya?

 

382.  WARTAWAN :

Masalahnya, mereka juga mogok bicara. Tidak bisa diajak ngomong.

 

383.  SENIMAN :

(MEMBACA TULISAN) “MOGOK MAKAN dan MOGOK BICARA”

Oh, itu masalahnya. Tadi nggak bilang kalau mereka juga mogok bicara.

 

384.  KOOR :

(TEPUK JIDAT BERJAMAAH)  Aduuuh….!

 

SENIMAN BERGERAK MENUJU TITIK AKSI MOGOK. MENGAMATI DAN MENCERMATI DENGAN SEKSAMA SAMBIL BERPIKIR KERAS. LAGAKNYA SEPERTI SEDANG MENGAMATI SEBUAH LUKISAN. MAJU, MUNDUR, MAJU LAGI, KE KANAN, KE KIRI, BERPUTAR. SERING KALI DUA TELUNJUK DAN DUA IBU JARI DIBENTUK SEMACAM FRAME UNTUK MENDAPATKAN SUDUT PANDANG TERTENTU. TERAKHIR DILAKUKAN SAMBIL BERJALAN MUNDUR. DAN BERHENTI DI TITIK FOKUS YANG TEPAT.


( BERSAMBUNG BAG. 3 )


Support/donasi/dikungan :

https://saweria.co/SiswoNurwahyudi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar