NASKAH DRAMA MONOLOG "BULAN ABU-ABU"

 DRAMA MONOLOG "BULAN ABU-ABU"
Karya : Siswo Nurwahyudi


BULAN ABU-ABU

 

larut malam, tokoh kita pulang

sebait tembang “pangkur” lirih teratur

nyala lilin menggantikan cahaya lampu senter di tangan

seperti hari-hari kemarin, wajahnya tua dan kusut

membenarkan letak bungkusan di meja, jas dekil dibuka kancingnya

membuka jendela, cahaya purnama menerpa wajah tua itu

di wajahnya, gemerlap bulan perak redup berwarna abu-abu

 

01.      (KEPADA BULAN DI LANGIT): Sungguh purnama yang indah.

 

02.      (KEPADA PENONTON) : Namaku Karlan.

 

03.      (MELEPASNAPAS GETIR) :

Seonggok tulang, tua dan sebatang kara.

Konon, aku dilahirkan tepat tengah malam.

Malam ketika bulan sedang bundar-bundarnya.

Nama pertama yang disematkan padaku adalah Dahlan Sigit Purnomo.

Yang artinya, keindahan bulan purnama yang perkasa.

 

04.      Nama Karlan aku dapatkan dari seorang dukun ruwat.

Menggantikan nama Dahlan yang ringkih dan sakit-sakitan.

Atas petuah dukun itu, jadilah Dahlan Sigit purnomo berganti menjadi Karlan saja. Konon katanya sih kependekan darimekarnya rembulan.

(TERTAWA KECIL)

 

05.      Ayahku, lelaki perkasa yang mati dengan gagah di medan revolusi tujuh bulan sebelum aku lahir ke dunia.

Ibuku, seorang abdi dalem keraton yang terbuang karena menolak dipergundik seorang pangeran.

Ibu, perempuan lembut dan penyayang itu menyusul ayahku ke surga saat usiaku menginjak 9 tahun. Penyakit aneh itu telah merenggut nyawanya.

 

06.      (BERANJAK DARI JENDELA, MENUJU BANGKU BAMBU PANJANG, DUDUK)

Aku menjadi yatim piatu.

Beruntung masih punya seorang paman yang menyayangiku.

Adik ayahku. Paklik.

Lelaki yang sabar dan berwibawa.

Pemimpin sekaligus pemilik rombongan wayang orang yang cukup terkenal. Rombongan wayang orang keliling, berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain.

Iya, wayang orang partikelir yang hidup seperti keluarga besar yang selalu hidup bersama di manapun berada.

 

07.      Jadi, sejak bersama Paklik aku berhenti sekolah.

Mau bagaimana lagi, cuma Paklik yang aku miliki.

Dan kami serombongan besar hidup berpindah-pindah menjelajah kota demi kota.

Menetap sebulan-dua bulan, pindah lagi.

Pindah-pindah terus.

 

08.      (BERSEMANGAT) Jadilah aku anak tobong. Iya, tobong namanya.

Bangunan besar dari bambu beratap rumbia, tempat rombongan kami memanggungkan wayang orang.

Ada panggung dan tempat duduk penonton, kaya di gedung bioskop.

Di situ kami serombongan tinggal jadi satu.

Iya, rame-rame gitu. Meriah.

 

09.      Kira-kira umur lima belas aku sudah ikut main wayang.

Awalnya jadi pemain yang biasa-biasa saja, bukan pemain utama.

Sambil belajar, lama-lama meningkat-meningkat jadi tokoh Abimanyu, jadi Lesmana, jadi Anoman juga. Iya, seneng bisa main di panggung.

Bosan jadi penjaga loket terus.

 

10.      (BERDIRI, BERJALAN MENUJU SUDUT. SENYUMNYA SURUT)

Kemudian prahara itu datang.

Prahara banjir darah terjadi dimana-mana.

Tiba-tiba saja suasana di luar tobong menjadi mencekam dan menakutkan.

Berita orang-orang ditangkap.

Dan pembunuhan-pembunuhan.

Tobongpun tiba-tiba senyap.

Satu-persatu anggota rombongan kami pamit pulang kampung.

Paklik memutuskan untuk menutup tobong untuk sementara waktu.

 

11.      Sementara waktu?

Dua tahun lebih, bukan waktu yang sementara.

Dua tahun kami harus bekerja serabutan untuk sekedar bertahan hidup.

Asal bisa untuk makan sehari-hari.

Dua tahun kami tak henti berharap untuk bisa mendirikan tobong kembali.

Menghidupkan panggung wayang orang kembali.

Tahun-tahun yang paling makan hati, makan daging dan tulang kami.

Bagaimana tidak? Panggung wayang adalah jiwa kami, hidup kami.

Tapi apa boleh buat, keadaan yang memaksaharus begitu.

 

12.      Sampai suatu hari, kabar baik itu datang juga.

Rombongan kami diundang untuk manggung di perayaan pasar malam di sebuah kota.

Yaa…hati ini bersorak, gembira sekali saya. Bayangkan…!!

13.      Tapi…satu persoalan baru kembali datang.

Kami kekurangan pemain perempuan.

Susah sekali carinya.

Sudah ke mana-mana masih saja susah dapatnya.

Sementara itu waktu semakin mepet.

Bingung jadinya.

 

14.      Akhirnya, aku diminta Paklik untuk jadi pemain perempuan.

Hah…?! Jadi pemain perempuan? Mana bisa?

Tidak. Kataku pada Paklik.

Berkali-kali Paklik memohon.

Akhirnya aku nggak tega juga.

Kami benar-benar sedang kekurangan pemain perempuan.

Bisa-tidak bisa harus bisa, kata Paklik.

 

15.      Srikandi, wayang perempuan pertama yang aku mainkan.

 

16.      (MENJADI SRIKANDI) Duh Gusti, sungguh malam pertama yang menegangkan. Aku curahkan pikiran dan seluruh kemampuanku untuk menjadi seorang Srikandi. Aku tidak mau Paklik kecewa.Aku tidak ingin menjadi sebab semua keburukan yang bisa terjadi malam itu.

Aku pertaruhkan seluruh jiwa ragaku dan kemampuanku yang terbaik dari awal sampai ujung lakon.

Oh… malam yang sangat menyiksa. Duh Gusti….

 

17.      (BERHENTI MENJADI SRIKANDI, TERKEKEH)

Begitu pertunjukan selesai, aku pingsan.

Iya, pingsan betulan, masih lengkap dengan busana Srikandi.

Tapi aku bahagia.

Malam itu aku berhasil menjadi Srikandi hampir tanpa cacat.

Setidaknya begitu kata Paklik.

 

18.      (MENJADI WAYANG PEREMPUAN LAGI)

Sejak itu, aku selalu dimainkan menjadi wayang perempuan.

Jadi Srikandi, jadi Sembadra, Pergiwati, lain hari jadi Dewi Gandawati.

(SEOLAH MEMBENTANGKAN PANAH)

Tapi lebih sering ya jadi Srikandi itu.

Lebih pas untukku, kata Paklik.

(MELEPAS ANAK PANAH)

 

19.      Entah siapa yang memulai, semua orang suka memanggilku Karlin.

Iya, Karlin yang gandes-luwes, centil dan menggemaskan.

Cahaya panggung yang bersinar setiap malam seperti bulan purnama.

Ratu tobong yang selalu dirindukan semua penonton.

20.      Bintang pujaan, kata orang,

Karlin, begitu orang memanggilku.

Pemain Srikandi yang sempurna.

Iya, sangat sempurna.

Tapi sayang, Karlin tidak menstruasi.

(TERTAWA NGIKIK)

Oh.. Karlin yang ayu dan dirindukan.

 

21.      (BERHENTI MENJADI WAYANG PEREMPUAN)

Ya. Aku juga merindukan Karlin.

Tapi dia sudah tak mungkin hidup lagi.

Tidak mungkin.

 

22.      (MENJADI KARLIN)

Eeh…Karlin belum mati.

Dunia ini yang sebenarnya sudah mati.

 

23.      (MENJADI KARLAN)

24.      Iya, tapi apa bedanya?

Karlin yang sudah meninggalkan dunianya, atau dunia yang meninggalkan Karlin?

Dunia tobong sudah runtuh, sudah kiamat.

Karlin sudah membusuk bersama bambu-bambu tobong dulu itu.

 

25.      (MENJADI KARLIN)

Tidak. Kamu itu yang sekarang membusuk.

Oh, Karlan tua yang malang.

 

26.      (MENJADI KARLAN. TERCEKAT, KEMUDIAN LESU)

Ah… sudahlah… sudahlah…sudah…..

 

PERTUNJUKAN DIAKHIRI DENGAN SEBAIT LIRIH “SEKAR GAMBUH

API LILIN PUN DITIUP MATI.

~ BLAC OUT ~

 

 

~ S E L E S A I ~

 

 

Bojonegoro, Juni 2020


Support/dukungan/apresiasi :

Klik di sini

https://saweria.co/SiswoNurwahyudi





Tidak ada komentar:

Posting Komentar